Alasan Saya Tidak Suka Menonton TV Di Australia
Sampai sekarang saya masih segan menonton acara TV Australia bersama-sama orang lain, apalagi bersama orang Indonesia, terlebih lagi bersama sobat-sobat Australian Partnership Scholarship. Alasan saya sederhana sekali. Setiap saya menonton TV, yang siarannya sudah pasti berbahasa Inggris, saya masih saja belum bisa menangkap isi pembicaraannya. Akibatnya, terutama kalau ada kata-kata lucu, semua orang sudah tertawa terpingkal-pingkal, tapi saya sendiri masih bengong sendirian. Bahkan kalau mereka selesai tertawa, lalu melihat saya tidak ikut tertawa, rasanya mereka seperti tertawa untuk kedua kalinya, sekali ini untuk mentertawakan saya. Betapa tidak nyamannya perasaan saya. Rasanya hati seperti disayat sembilu. Kalau saya menonton TV bersama native speaker dan saya sendiri yang tidak paham, mungkin masih bisa dimengerti. Tapi ketika bersama teman serombongan yang datang ke Australia bersamaan, yang dulunya mengikuti kursus bahasa Inggris bersama-sama, dan memiliki nilai IELTS yang hampir sama, namun bedanya mereka semua sudah cukup mahir memahami percakapan di TV, tentu saja kekurangan saya ini menjadi sesuatu yang tidak umum. Hal ini masih saya alami sampai sekarang yang sudah menginjak bulan kedua selama tinggal di kota Sydney, sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Betapa menyebalkannya, tapi saya tidak bisa marah kepada siapa-siapa, karena penyebabnya ada dalam diri saya sendiri.
Sebetulnya, berbagai cara sudah saya lakukan. Apalagi kalau untuk berbicara, saya merasa sudah agak “percaya diri”. Saya sudah biasa berbelanja di toko atau menanya arah dan nama jalan. Bahkan berbicara di berbagai forum diskusi dan seminar pun sudah berkali-kali saya lakukan dengan santai. Tapi betapa pun santainya saya dalam hal berbicara (dan mendengarkan pembicaraan lawan bicara tentunya), tetap saja saya kedodoran kalau sudah ikut kegiatan menonton TV.
Teman saya cewek Thailand, tahu kalau saya tidak tertawa ketika ada suatu adegan film yang lucu. Saya bilang terus terang bahwa sebetulnya saya sangat tidak nyaman, manakala merasa bingung sendirian di saat semua orang tertawa bahak-bahak, sedangkan saya sendiri, tersenyum pun tidak sedikitpun. Dia sih maklum saja, karena dia sudah lima tahun di Ausi. Anehnya, dia malah justru memuji-muji saya , katanya saya ini orangnya baik. Biarpun saya senang tidak kepalang, pujian ini tidak relevan dan tidak memecahkan masalah. Untunglah, akhirnya dia menganjurkan saya untuk menonton video bersambung, yang judulnya “Friend”. Saya bilang bahwa saya tidak suka menonton film seperti itu. Saya tidak berani bilang bahwa jalan cerita film itu terlalu dangkal, bertele-tele dan hanya membesar-besarkan masalah kecil saja. Tidak jauh beda dengan perilaku sejumlah tokoh tertentu yang sering kita baca atau dengar dari media massa. Cewek Thai itu lalu bertanya, apa sejak dari Indo dulu saya tidak suka menonton film berbahasa Inggris. Saya jawab bahwa saya hanya kadang-kadang saja menonton film berbahasa Inggris, itupun hanya film yang jenisnya laga, sehingga tidak terlalu banyak menggunakan percakapan dalam bahasa inggris yang rumit. Saya ceritakan bahwa film kesukaan saya adalah film India, bukan film berbahasa Inggris. Apalagi tujuan saya menonton film India itu bukanlah untuk mengikuti jalan ceritanya, yang tentu saja, sangat bertele-tele dan dangkal juga. Tujuan saya menonton film tersebut memang hanya untuk menonton tarian dan mendengar lagunya yang seakan membawa kita ke alam khayal, hingga terbawa mimpi. Akibatnya, ya sudah jelas, selama di Indonesia belum cukup ada proses pembelajaran untuk mampu mendengar percakapan di TV. Apa mau dikata, sudah terlambat semua upaya karena sekarang saya sudah berada di negeri seberang, yang semua orangnya berbahasa Inggris, baik yang orang dewasa maupun anak-anak. Bahkan balita di Ausi pun sudah mampu berbicara bahasa Inggris, tentu saja bahasa anak-anaknya.
Ada teman saya satu lagi, cewek Indonesia yang ikut memberi saran. Berbeda dengan saya yang kuliah di University of Sydney, dia kuliah di UTS (sering dibilang singkatan dari University Tetangganya Sydney, karena kampusnya berdekatan dengan kampus saya). Dia justru menganjurkan saya agar justru lebih banyak menonton TV. Sayangnya, ide baik itu dilontarkan sambil dia menyodorkan pada saya satu paket makanan suplemen yang mujarab untuk membesarkan otot dan menambah berat badan ! Biarpun idenya itu di luar konteks, saya rasa dia juga ingin mengingatkan bahwa selain masalah bahasa, saya dianggap perlu menambah berat badan agar nampak lebih sehat dan meyakinkan, sepulangnya dari Australia. Maklum, selain kemampuan listening, postur tubuh saya juga dianggap yang paling memprihatinkan di antara semua teman serombongan mahasiswa program Ausaid.
Bagaimanapun juga, sebagai orang yang berpikiran optimis, saya merasa tidak pantas untuk berputus asa, hanya karena kelemahan dalam bidang listening. Untuk itu ada dua cara yang saya tempuh:
Menonton TV sendirian
Jadi kalau ada adegan lucu dan saya tidak tertawa, saya tidak merasa malu. Tidak ada orang lain yang tertawa, yang bisa membuat hati saya terluka. Dengan demikian saya tetap dapat belajar mendengarkan percakapan berbahasa Inggris, tanpa harus merasa malu.
2. Ikut diskusi
Saya sering ikut diskusi, baik diskusi dengan teman , maupun ikut dalam forum diskusi resmi. Acaranya macam-macam, baik mengenai politik, yang sering diadakan para penganut ajaran sosialis, program bantuan pemerintah Australia kepada negara berkembang, sampai ke seminar biologi yang diadakan di rumah sakit kampus. Saya berusaha untuk selalu bertanya dalam setiap kesempatan. Modalnya hanya satu, yaitu rasa tidak bersalah yang sedemikian super. Jadi kalau saya merasa bahwa kata-kata saya sudah jauh melenceng dari arah pembicaraan lawan bicara, ya sudah, saya berhenti bicara. Sengaja saya biarkan saja orang lain yang kebingungan. Berbeda dengan saat menonton TV, kalau pun ada yang mentertawakan, atau bahkan menghujat saya dalam sebuah diskusi atau seminar, saya tidak pernah merasa rendah diri.
Kedua cara itu sudah saya lakukan selama dua bulan ini. Untuk bisa bicara dengan teman dari Vietnam atau Thailand memang cukup lumayan. Tapi untuk bisa mengerti acara TV Australia, tentu masih perlu waktu. Selama masih menjadi bulan-bulanan orang lain dalam hal kemampuan listening, saya jadi ingat satu kalimat dalam sebuah lagu Amerika yang berbunyi “time can do so much”. Kalimat itu membuat saya merasa masih punya harapan. Jadi, saya ucapkan, have a good time !
Sydney, 25 Juli 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home