Tuesday, May 12, 2009

Di mana ibukota Myanmar sekarang ?

Ada cerita lagi tentang temen saya cewek. Yang satu ini orang Myanmar. Begini ceritanya, suatu hari kami sekelas di program orientasi mahasiswa internasional mengadakan ekskursi ke pantai Coogee, sebuah pantai di sebelah selatan Sydney. Semua ada dua puluhan orang, bersama tiga dosen. Pantai Coogee ini bagus sekali pemandangannya, sering dipakai orang berenang, menyelam dan selancar. Kadang-kadang sih, ada juga beberapa ikan hiu yang ingin ikut menemani manusia berenang, sambil mencari kesempatan buat memakan manusia yang lengah (menurut taksonomi Bloom, ikan hiu sudah mencapai tahap C5, yaitu “makan siapa ? ”). Kalau hal ini terjadi, pasti akan membuat para petugas bergegas menghalau ikan hiu yang tak tahu diri itu.

Di pantai ini juga banyak dijumpai ikan paus yang bermigrasi dari perairan kutub selatan menuju ke perairan yang lebih hangat di sebelah utara Australia. Selama bulan Juni sampai September sering dijumpai kawanan ikan paus di sini. Kalau kita melihat ikan paus di perairan selatan pulau Jawa , Bali atau kepulauan di NTT, mungkin ikan paus itu pula yang terlihat di Coogee ini.

Selain ikan hiu dan ikan paus, serta turis yang berenang ke sana kemari (apalagi nanti di musim summer), di sini ada juga sebuah monumen yang dibangun untuk memperingati bom Bali tahun 2002. Kebetulan, waktu kunjungan ke pantai Coogee itu hanya selang beberapa hari dengan dibebaskannya seorang ustad dari Solo yang dituduh terlibat kasus itu. Adapun penyebab dibangunnya monument itu karena kebetulan pada saat itu ada sekelompok muda-mudi dari sekitar pantai Coogee ini yang berombongan pergi bertamasya ke Bali. Tragisnya, mereka sedang berada di tempat kejadian ketika peristiwa mengerikan itu terjadi. Belasan orang (yang memang tinggal bertetangga di sekitar pantai ini) dari rombongan itu meninggal dunia. Untuk itu para tokoh masyarakat di wilayah ini membuat semacam monumen. Bentuk monumennya sederhana. Di sana dipasang foto para korban itu. Umur mereka masih belasan atau dua puluhan tahun. Dosen saya bilang “They were tragically trapped as victims of a war which they did not understand”. Mungkin yang dimaksud perang oleh dosen saya itu adalah jargon yang berbunyi “clash of civilization”, yang diangkat oleh seorang penulis Amerika Serikat. Saya segera bergegas berjalan lagi, khawatirnya banyak orang membuka pembicaraan dengan saya mengenai asal muasal teror itu, para pelakunya, motivasi para pelaku dan kaitannya dengan sebuah kota di Jawa Tengah itu.

Sesudah berjalan di pesisir pantai, barulah tiba saat istirahat. Kebetulan pada waktu istirahat saya duduk berdekatan dengan si cewek Myanmar itu, dan teman-teman lainnya tentu, sambil makan siang. Nama orang Myanmar ini mirip dengan nama seorang tokoh wanita prodemokrasi Myanmar yang terkenal itu. Kalau mukanya, agak mirip sedikit dengan teman kuliah S1 saya waktu di Bandung dulu. Dia seorang dokter, di sini ambil jurusan master of public health. Berarti jurusan S1 dan S2, serta bidang pekerjaannya sama, mungkin dia bisa digolongkan sebagai “sumber”. Ya, mungkin orientasinya untuk jadi kepala puskesmas atau rumah sakit, di negaranya sana. Atau mungkin juga, jadi menteri kesehatan. Bukankah cita-cita tinggi, yang setinggi langit sekalipun, sering diawali dari hal-hal kecil yang tidak terduga ? Memang kalau kita bicara tentang hal-hal yang tak terduga, banyak contohnya. Dia bilang bahwa dia bisa berangkat hingga sampai ada di Sydney juga tidak terduga-duga. Studinya di University of Sydney ini disponsori oleh ADB (Asian Development Bank), berbeda dengan beasiswa saya dari pemerintah Australia, yang disingkat APS (ini bukan singkatan dari “Asal Pengelola Saja” lho !). Dia sudah berkeluarga, tapi belum punya anak. Saya tanya juga apa nanti suaminya ikut menemani kuliahnya, seperti hampir semua mahasiswa APS yang sudah berkeluarga. Katanya suaminya tidak akan menemani dia selama kuliah. Alasannya, pertama karena beasiswa ADB tidak menanggung biaya hidup anggota keluarga. Alasan lain, karena pemerintahnya tidak mengijinkan pegawai negeri tinggal di negara lain. Bagi saya tentu alasan yang kedua ini aneh sekali. Bagaimana mungkin satu negara melarang pegawai negerinya tinggal di negara lain ? Mau saya tanyakan tapi agak segan, karena teman saya dari Uzbekistan pernah berkata bahwa “Most people in Myanmar actually have no objection to their military dictator”. Saya takut pertanyaan saya bakal menyinggung perasaannya. Gawat kan, kalau dia tersinggung, lalu tidak mau berteman lagi dengan saya ? Apalagi kalau sampai dia akhirnya menangis tersedu-sedu dan berlinang air mata, tidak terbayangkan rasanya. Tidak ada yang bisa mengobati rasa sedih saat kita jauh di rantau. Itu pasti bakal membuat heboh program orientasi ini, yang selama ini saya rasakan sangat menyenangkan. Lebih baik saya mengganti pertanyaan. Jadinya saya tanya saja nama ibukota Myanmar, pertanyaan sederhana seringkali bisa mengakrabkan sesama kita, bukan ? Setahu saya ibukota negaranya baru pindah ke satu kota lain di sebelah utara negaranya. “Is it true, that the capital has been moved from Yangoon to another city ?”, tanya saya. Dia senang karena ada orang asing yang tahu kabar berita dari negaranya. Saya ajukan satu pertanyaan lagi, “What is the name of the city ?”. Dia menjawab dengan menyebut nama kota yang saya tanyakan. Sayang sekali, saya kurang jelas mendengarnya. Saya tanya lagi, dia menyebutkan nama kota itu lagi. Saya masih tetap kurang jelas, biarpun saya sudah mendengar nama kota itu sebanyak dua kali. Untuk bertanya lagi, saya agak segan. Terpaksalah saya akhirnya pulang sesudah lelah berjalan kaki dari pantai Coogee hingga pantai Bondi, tanpa ada jawaban buat pertanyaan saya sendiri, yang sebetulnya sudah terjawab. Menyedihkan bukan, kita sudah mendapat jawaban atas pertanyaan kita, tapi kita masih belum paham maksud jawaban itu ?

Nah, karena itu, barangkali teman-teman ada yang tahu, di mana ibukota Myanmar sekarang ? Kalau ada yang tahu, boleh kirim jawaban by email.

Sydney, 19 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home