Tuesday, May 12, 2009

Pada Sebuah Laptop

Salah satu teman saya sesama mahasiswa beasiswa Ausaid adalah salah satu cewek dari Vietnam. Dia bekerja di jajaran Departemen Perdagangan di negaranya. Jurusan yang ditempuh adalah master di bidang bisnis internasional. Usianya relatif muda karena baru lulus sarjana pada tahun 2003. Dia pernah berkunjung dalam rangka dinas ke sejumlah negara seperti Inggris, Belanda, dan ….satu negara yang juga pernah saya kunjungi, yaitu India. Senang sekali rasanya, bisa bertemu dengan sesama orang yang pernah berkunjung ke sana. Dia menunjukkan foto-fotonya, baik yang ada di album, maupun yang ada di laptop. Foto-foto itu tentang kunjungannya di India. Dia tinggal di sana selama dua bulan, dalam rangka mengikuti suatu pelatihan. Di sana, dia sempat berkunjung ke Agra untuk melihat Taj Mahal, berkunjung ke kota Jaipur yang terkenal dengan sebutan “Pink City” karena banyak bangunan kuno dari bata merah, dan ke kota penghasil film terbesar di dunia, yaitu Mumbai. Saya jadi berkhayal, bagaimana seandainya dulu saya juga sempat mengunjungi kota-kota itu, betapa gembiranya hati saya. Akan saya ceritakan pada dunia, setidaknya pada teman-teman dan handai taulan, agar mereka ikut gembira.
Kami ngobrol di kampus yang dihiasi gedung-gedung megah. Sewaktu dia menawarkan makanan ringan kepada saya, saya tanyakan, makanan apa yang dia tawarkan, takutnya mengandung jenis makanan yang tidak halal. Dia lalu bertanya agama saya. Waktu saya balik bertanya agamanya, dia bilang bahwa dia tidak punya agama ! Bahkan katanya, semua teman-teman senegaranya yang ikut program beasiswa Ausaid juga tidak ada yang beragama. Mungkin karena dia hidup di negara yang menganut paham komunis. Walaupun sikapnya selalu baik, dan dia juga berkata bahwa dia percaya akan adanya Tuhan, hati kecil saya merasa bersyukur karena saya dibesarkan di negara yang melarang paham sesat seperti itu. Tapi saya tidak sempat menanyakan hubungan antara ketidak beragamaannya itu dengan paham politik di negaranya, karena dia mengaku tidak suka bicara tentang politik.
Biarpun dia tidak suka bicara politik, obrolan kami segera beranjak ke situasi politik di negara masing-masing. Obrolan pun mengarah ke masalah terorisme, berupa pemboman yang terjadi di London, Mumbai (kota-kota yang pernah dia kunjungi) dan Bali. Tentu saja, percakapan menjadi kurang mengenakkan bagi saya, karena mau tidak mau obrolan menjadi mengarah ke para pelakunya dan agama yang dianut para pelakunya.. Sulit bagi saya untuk menjelaskan mengapa ada keyakinan seperti yang dianut para teroris itu, tanpa mengaitkan dengan ajaran agama tertentu. Apalagi penjelasan seperti itu harus dijelaskan pada orang yang tidak menganut suatu agama pun. Biarpun tidak mengenakkan, saya rasakan bahwa paham politik yang berlaku di negaranya itu juga tidak lebih baik daripada aksi yang dilakukan para teroris itu. Tapi untung saja, saya lihat di layar laptopnya ada foto dia sedang berdua dengan seorang pemuda gagah, yang pasti pacarnya. Segeralah saya alihkan jalan cerita ke arah sesuatu hal yang pasti lebih menarik baginya.
Dia bercerita tentang boyfriendnya (begitu istilah dia untuk sang pacar), seorang keturunan Vietnam yang berkewarganegaraan Norwegia. Karena ingin memperjelas, dia kembali mengaduk-aduk folder di laptopnya. Laptopnya itu lebih bagus dan lebih mahal dari laptop saya, yang merknya cuma ECS (ecek-ecek saja). Selain foto sang cowok, ditunjukkan pula foto-foto kampung halaman dan sanak saudaranya. Saya agak heran karena dia berfoto dengan latar belakang tanaman labu siam di halaman rumahnya. Mungkin labu siam itulah makanan kesukaannya, hingga fotonya pun sampai dibawa merantau ke Australia.
Kami bicara tentang kehidupan di negara masing-masing. Dia mengaku sebagai pegawai negeri berijasah sarjana hanya mendapat gaji US $ 40 perbulan. Jelas termasuk rendah, tapi dia punya sepeda motor sendiri, dan di rumahnya ada sambungan internet, lengkap dengan webcamnya, lumayan bukan ! Setidaknya dengan webcamnya itu dia bisa asyik bercengkerama dengan boyfriendnya yang tinggal di Norwegia itu. Maklumlah, dia itu termasuk golongan PTJJ (Punya Tunangan Jarak Jauh).
Perjumpaannya dengan sang boyfriend juga katanya diawali dari kontak email, yang pasti pernah sekali waktu dilangsungkan dari laptop kesayangannya itu. Alkisah, entah dari mana asal mulanya, dia bercerita bahwa tiba-tiba saja ada yang mengirim email kepadanya. Suatu kebetulan yang nyaris mustahil ditemui di jaman serba canggih seperti ini. Dia katakan bahwa email itu dari seorang cowok yang ganteng (mestinya bayangan dia begitu) , yang mencari seseorang yang bisa mengajari bahasa Vietnam. Dia segera menjawab email itu.Teman saya itu menjawab bahwa dia ingin mencari seseorang yang bisa mengajari bahasa Inggris. Akhirnya mereka berkiriman email. Setelah lama hanya berkiriman email, akhirnya mereka berkopi darat di kota Ho Chi Minh, ketika pemuda ganteng (setelah dia tunjukkan fotonya di laptop kepada saya) itu berkunjung ke sana.
Dia rencananya menikah pada bulan Juli ini. Tapi entah karena kurang perencanaan, atau memang karena sudah suratan nasib, pada bulan Juli ini dia sudah berada di kota Sydney, padahal, sang calon suami dan orangtuanya sudah berada di Vietnam. Justru orang tuanya sudah pernah bertemu dengan orang tua sang calon suami, sedangkan teman saya itu malah belum pernah bertemu calon mertuanya. Walaupun rombongan calon pengantin pria sudah datang ke Vietnam, terpaksa mereka kembali lagi ke Norwegia dengan tangan hampa karena calon pengantin wanita sudah terlanjur berangkat ke Australia. Tentu saja mereka kecewa berat. Apalagi, rencana pernikahan menjadi tertunda, dan baru bisa diselenggarakan satu setengah tahun lagi, sepulangnya dia ke negaranya.
Sambil bercerita tentang kisah sedihnya itu, kembali dia tunjukkan foto-foto di laptopnya, kali ini foto model-model gaun pengantin yang akan dikenakan di hari bahagianya. Dia tunjukkan pula foto-foto model cincin kawin yang semula akan disematkan di jari manisnya. Untung saja, dia menunjukkan foto-foto persiapan hari pernikahan yang gagal itu, tanpa berlinang air mata. Kalau sampai itu terjadi, saya takut nanti laptopnya basah terpercik air matanya, sehingga rusak. Lalu kalau itu terjadi, dia tidak bisa lagi chatting dengan boyfriendnya. Tanpa chatting dengan laptop berikut webcamnya itu, tentu dia akan bisa kehilangan wajah pujaan hatinya itu. Karena itu saya segera pulang, dia juga pulang. Apalagi karena hari sudah sore.
Sesampai di rumah, segera saya hidupkan laptop kesayangan saya sendiri. Di laptop itu, saya tuliskan satu cerita indah buat mereka-mereka yang sangat saya sayangi, yang kini jauh di tanah air.


Sydney, 23 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home