Thursday, July 02, 2009

Rapat Mahasiswa Terganggu Mahasiswa Asing



Kemarin ini acara saya adalah mengikuti rapat senat mahasiswa pascasarjana di kampus. Bukan acara dengan orang-orang Vietnam lagi, nanti teman-teman bosan baca cerita saya, selalu tentang orang dari negara itu. Padahal sih, saya tidak ngibul, di Sydney banyak sekali orang Vietnam. Populasi orang Vietnam di Sydney jauh lebih besar dari populasi orang Vietnam di Pondok Cabe. Yang kuliah di kampus saya juga banyak, jadi yang sering saya sebut dalam cerita saya sebetulnya berbagai orang yang berbeda-beda, bukan hanya satu tokoh, apalagi satu mahasiswi saja. Teman-teman jangan khawatir, namanya juga sinetron.

Bahkan di Sydney ada satu wilayah (istilahnya “suburb”) bernama Marrickville, penghuninya banyak orang Vietnam. Banyak juga toko yang berjualan barang atau produk khas Vietnam. Apalagi restoran Vietnam, jelas banyak sekali. Sayangnya saya tidak pernah makan di restoran Vietnam. Bukan karena hanya menunggu ditraktir orang, tapi menyangkut hal-hal lain. Urusan makan di suatu tempat tertentu, dalam Taksonomi Bloom, akan berkaitan dengan pertanyaan tingkat C4, yaitu “makan dengan siapa ?”. Nah…..

Jadi itu alasannya kenapa dalam tulisan saya sebelumnya, selalu berisi cerita tentang orang-orang dari negara tersebut. Tidak ada maksud apa-apa. Lagipula, kalau saya cerita tentang kehidupan warga pribumi Australia, tentu sudah tidak aneh lagi. Tapi warga pribumi ini maksudnya yang berkulit putih atau keturunan Eropa. Kalau yang pribumi aborijin, ceritanya bukan aneh lagi, tapi parah !

Kembali ke urusan rapat senat mahasiswa, nama organisasi senat itu adalah SUPRA, singkatan dari Sydney University Postgraduate Representative Association.
Rapat itu diadakan karena mereka akan mengadakan seminar akademik mahasiswa pascasarjana. Yang hadir adalah para pengurus senat ditambah beberapa mantan pemakalah pada seminar tahun lalu. Saya datang sebagai mantan pemakalah. Waktu itu saya menyampaikan makalah berjudul “bla bla bla bla……in Open University of Indonesia”.

Rapat dihadiri oleh ketua senatnya, istilah di sini president, yang dijabat oleh Jenny Leong. Dia keturunan Tionghoa yang fasih berbahasa Inggris, “….My father is a Malaysian Chinese, but I was born here”, begitu rahasianya, sehingga dia pintar berbahasa Inggris. Hilang sudah keinginan saya untuk mengikuti jejaknya dalam belajar bahasa Inggris, sehingga bisa sefasih dia. Sekarang ini dia sedang ambil PhD tentang sastra Perancis.

Yang memimpin rapat adalah Richard, ketua bidang publikasi, yang sedang menempuh PhD bidang hukum. Adapun jumlah hadirin ada sekitar belasan orang. Dari raut muka dan logat bicaranya, sebagian besar memang international student. Para international student ini kelihatan dari negara Asia semuanya, tidak ada dari Afrika, atau Eropa/Amerika. Sebagian dari keturunan India, yang bahasa inggrisnya memang bagus, seperti para pemain dalam film-film Bollywood. Sisanya dari wilayah Asia Timur dan Tenggara, termasuk saya, memang lebih banyak senyum daripada bicara. Maklum kami mahasiswa Asia Timur/Tenggara ini bahasa Inggrisnya masih tergolong “abrakadabra” semua, buat ukuran warga pribumi.

Di sebelah saya duduk seorang mahasiswi PhD dari RRC, salah satu pengurus Supra. Dia pakai kacamata. Kuliahnya adalah di Faculty of Arts, sudah tentu dia termasuk research student, karena semua program PhD setahu saya adalah by research. Dia datang karena mungkin acara seminar ini biasanya identik bagi mahasiswa master & PhD yang by research. Tapi tahun ini seminar akan digalakkan bagi mahasiswa coursework.

Oh ya, di kampus saya ini, program pascanya terbagi dua, yang by research (PhD dan master) dan yang by coursework (hanya master saja). Saya ambil yang coursework, karena lebih cepat selesai, tidak perlu bikin penelitian, malah tidak perlu ada examination, dan yang lebih asyik lagi, kebanyakan kuliahnya online. Karena banyak kesempatan berhaha hihi dan ketawa ketiwi, tidak heran suka dibilang program “master by pleasure”.

Kembali ke masalah teman dari RRC itu, sebetulnya saya jarang bicara dengan dia. Ada banyak alasan. Pertama karena berbeda fakultas, jadi jarang jumpa. Kedua, masing-masing lebih ahli berbicara dalam bahasa nasional masing-masing. Lagipula, tentu dia tidak nyaman kalau saya ajak bicara mengenai dunia PTJJ. Misalnya, saya ajak dia bicara tentang peningkatan kualitas akademik, manajemen internal atau peningkatan partisipasi mahasiswa.

Soal penampilannya sih, dia biasa-biasa, seperti umumnya para pendatang di kota Sydney. Rambutnya diikat ke belakang, jadi dia kelihatan agak “childish”, biarpun sudah jadi mahasiswa PhD. Seperti biasa, dia pakai baju warna pink. Setiap ketemu dia, saya lihat dia selalu pakai baju warna pink. Mungkin dia penggemar warna pink. Bisa juga baju yang dia punya semua berwarna seperti itu. Atau, kemungkinan terburuk, (walaupun kecil kemungkinan ada keburukan pada orang sebaik dia) adalah bahwa baju yang dia pakai adalah selalu yang berwarna pink itu , tidak pernah dicuci. Tapi kemungkinan itu nyaris mustahil bukan ?

Setelah hadirin berkumpul mengelilingi meja, Richard membuka rapat,. Lalu dia menjelaskan mengenai maksud diadakannya rapat, yang sudah pasti adalah mempersiapkan seminar akademik. Seminar itu berupa seminar lintas bidang ilmu, berbeda dengan seminar yang diadakan di fakultas, misalnya seminar membahas proposal thesis atau disertasi. Seminar di fakultas bersifat spesifik bidang ilmunya, dihadiri oleh sejawat dalam bidang ilmu, dan dimaksudkan untuk memberi masukan atau memberi penilaian atas kemajuan yang sudah dicapai dalam penulisan thesis/disertasi itu. Adapun seminar akademik yang akan kami adakan itu berupa wahana komunikasi lintas bidang studi, penyampaian gagasan kepada khalayak luas dan penyampaian layanan dari Supra kepada mahasiswa pasca pada umumnya.

Usai Richard bicara, kesempatan diberikan kepada forum untuk ikut urun bicara. Eh, ternyata semua bungkam, maklum seperti yang saya sampaikan sebelumnya, kebanyakan mahasiswa international memang agak pasif dalam berbicara. Teman orang RRC ini pun hanya senyum-senyum saja. Tapi bukan tersenyum kepada saya, saya tahu pasti. Dia tersenyum kepada Jenny, yang akhirnya lalu bicara menambahkan informasi pada paparan yang disampaikan Richard. Begitu selesai bicara, Jenny langsung bertanya kepada saya “What ‘s your opinion Diki ? Based on the previous seminar ?” Ah…, saya baru ingat, bahwa ternyata dari para hadirin itu hanya saya sendiri, dan Jenny, yang menjadi pemakalah atau pun hadirin pada seminar tahun lalu. Pantas banyak yang diam, termasuk yang orang Australia asli juga. Kalau para international student banyak yang pasif, itu memang karena masalah bahasa, apalagi para PhD candidate, yang sangat ahli dalam menulis makalah, tapi jarang berhaha hihi di kampus. Sedangkan mahasiswa pribumi yang hadir dalam rapat memang kebetulan adalah mereka yang tidak mengikuti seminar tahun lalu.

Mau tidak mau saya jadi yang pertama bicara, setelah Richard dan Jenny. Itu pun karena pertama saya disapa oleh Jenny. Kalau tidak, mungkin ya cuma ikut senyum saja. Saya jelaskan pengalaman saya. Lalu saya tambah basa-basi, yang pas buat ukuran bangsa Ozz. Setelah itu pun, menjelang akhir rapat, saya juga masih menyampaikan beberapa pendapat lagi, jadi kelihatannya saya kan aktif dalam rapat itu.

Teman-teman, berdasarkan pengalaman itu, beruntung sekali, selama di UT saya selalu rajin ikut rapat. Ternyata, apa yang kita lakukan di UT itu memang banyak berguna, selama di negeri orang. Jadi selain kemampuan bahasa Inggris, kita juga harus punya rasa percaya diri yang agak tinggi untuk bisa bicara di depan orang banyak. Rasa percaya diri itu tidak gampang dibentuknya. Saya juga tidak otomatis langsung “mak jegagik” bisa percaya diri bicara di depan orang banyak. Saya juga sering salah ucap, atau kehilangan kata-kata yang sebetulnya saya sudah tahu, selama bicara di depan umum. Lebih parah lagi, kadang-kadang para hadirin itu salah mengartikan kata-kata saya. Tapi kalau kita rajin ikut rapat, seperti di UT, insya Allah kita akan terbiasa juga untuk berbicara dengan rasa percaya diri. Mungkin itu maksud pimpinan kita sering mengadakan rapat. Jadi kalau nanti saya sudah pulang lagi di UT, jangan segan-segan mengundang saya untuk ikut rapat, I’m coming..…..

Temennya Adhi Susilo

Temen-temen,

Karena Adhi Susilo kemarin menanyakan apakah saya di Adelaide ketemu temen-temennya, maka saya kirim saja foto temannya. Foto ini adalah ketika saya berkunjung ke sebuah pulau misterius di sekitar kota Adelaide, bulan Februari lalu. Pulau itu dianggap oleh orang aborijin sebagai tempat yang berbahaya dan mendatangkan malapetaka. Itu sebabnya pulau itu tidak didiami orang aborijin, walaupun ribuan tahun lalu memang pernah didiami manusia. Terbukti sejak pertama ditemukan oleh pelaut terkenal dari Inggris, Mathew Flinders, tidak ada orang aborijin di pulau itu, dan binatangnya jinak karena tidak pernah diganggu manusia. Di foto kelihatan orang mengerumuni seekor kangguru. Kangguru itu adalah subspecies dari kangguru abu-abu yang biasa ditemukan di daratan benua Australia. Bedanya dengan yang hidup di benua, subspecies ini agak lebih kecil tubuhnya dan bulunya lebih tebal.

Temannya Adhi adalah cewek berkaus hijau, bertopi, yang kelihatan tangan kirinya memegang kangguru. Memang sengaja tidak kelihatan mukanya. Kalau kelihatan mukanya, saya khawatir teman-teman akan berkata: “Ah, itu kan cuma sinetron-sinetronan !”. Cewek itu kuliah di Flinders University, almamaternya Adhi. Kalau teman-teman ada kesempatan datang ke Adelaide dan ketemu dia, coba saja bilang “saya temennya Diki !”. Si cewek itu pasti akan terkejut, perasaaanya jadi gembira, matanya jadi berbinar-binar dan hatinya jadi berbunga-bunga. Dia lalu akan berseru “Oh, really…?”, begitu kira-kira.

Kalau ingin tahu bagaimana kelanjutannya, silahkan tunggu saja nanti kalau cerita ini diangkat ke layar kaca dan bisa disaksikan teman semua. Nantinya dalam sinetron ini juga akan saya tambahkan tokoh antagonis berupa tiga sekawan anak bangsa. Tokoh pertama adalah wartawan yang selalu mempermalukan orang yang diwawancarainya. Satu lagi adalah politikus busuk, yang selalu dianggap mewakili rakyat, dan anehnya, banyak yang merasa terwakili (mungkin terwakili kebusukannya !). Yang terakhir tentunya adalah aktivis HAM, yang tidak bisa membedakan antara fakta dengan angan-angan. Relevan dengan situasi di tanah air saat ini bukan ? Kalau tidak relavan ya tidak apa-apa, kan sinetron tidak harus relevan dengan kenyataan, sebagaimana sinetron yang selalu teman-teman saksikan hampir setiap hari. Omong-omong, menonton sinetron pasti kesukaan teman-teman semua bukan ? Tanpa kecuali ?

0h ya, tidak lupa nantinya akan diikutkan para artis cantik sebagai pemanis dalam sinetron itu. Artis cantiknya pasti idola teman semua (tapi bukan berarti idola saya lho !), seperti Dian Sastro dan Tamara Blezynski. Juduln sinetronnya pun sudah saya siapkan, persis judul puisinya Chairil Anwar, yaitu CINTAKU JAUH DI PULAU. Tentu saja pulau yang saya maksud adalah pulau Jawa di Indonesia, khususnya kabupaten Indramayu. Tempat itu memang jauh di sana, jauh dari Sydney, tapi selalu dekat di hati.

Lagu SMS

Nggak nyangka ya, hidup ini selalu penuh kejutan. Padahal di dunia ini tidak ada yang cuma kebetulan, karena memang ada yang mengatur.
Hari Jumat kemarin saya ditelpon Pak Hendrawan, alumni UT, mengajak saya hadir di acara perpisahan Bapak Wardana, Konjen RI di Sydney yang baru saja dilantik Bapak Presiden menjadi dubes di S’pore. Sebetulnya saya sudah tahu acara ini sejak shalat Id di Marrickville, tapi mendapat tiket yang biarpun gratis tapi terbatas, memang kesempatan yang berharga.

Ketika sampai di tempat pertunjukan di kampus UNSW, saya tanyakan, siapa artis dari Jakarta yang kabarnya akan datang itu, kepada Pak Rizal, salah satu panitia, beliau alumni UT juga. Beliau bilang, artisnya adalah Yana Yulio dan Ria Amelia. Karena Pak Rizal dan Pak Hendrawan sama-sama sudah berpuluh tahun tinggal di Oz, tentu tidak kenal siapa itu Yana Yulio, apalagi Ria Amelia. Saya katakan bahwa Yana Yulio itu penyanyi pop terkenal di Indo, dengan kualitas vokal yang luar biasa. Sedangkan Ria Amelia, saya bilang bahwa dia itu penyanyi dangdut yang sedang melejit dan banyak pendukungnya di UT, khususnya di Pusat Pengujian.

Di acara itu hadir juga beberapa alumni dan mahasiswa UT yang tinggal di Sydney seperti Pak Hendrawan, Pak Machdar , Pak Uci, Pak Suwaji, Pak Asril dan Pak Rizal. Sayangnya Pak Tarumun dan Bu Farida Bolano tidak hadir.
Bintang panggungnya adalah Ria Amelia, yang popular dengan lagu “SMS”. Padahal minggu ini saya sedang bikin makalah tentang “Application of SMS to support e-learning”, eh, malah ketemu “pakar SMS” sekalian. Nggak tanggung-tanggung, bisa ketemu penyanyi dangdut terkenal, tapi justru di luar negeri. Selesai acara, di antara hadirin, sayalah yang paling dulu mengajak penyanyi itu berfoto. Ria juga kaget, ada penggemar beratnya di negeri seberang.




“Bang, SMS siapa ini bang ? …..kok pesannya pake sayang-sayang….bang, SMS siapa bang ?”

Nasionalisme

Hari Sabtu kemarin saya hadir di pertemuan mahasiswa dan alumni UT sewilayah Sydney. Pertemuan itu diadakan karena bertepatan dengan kedatangan Bapak Aria Jalil ke Sydney. Dalam pertemuan yang bersuasana nostalgia itu, timbul dua pertanyaan yang berkaitan dengan nasionalisme. Masalah nasionalisme ini mengingatkan saya pada nasib seorang mantan pemimpin Irak, yang baru saja berakhir tragis. Begitu pula nasib sebagian besar tokoh yang saya idolakan, yang juga banyak menggelorakan nasionalisme dalam perjuangannya, kebanyakan riwayatnya berakhir tragis. Mengingat tema ini menurut saya cukup penting, saya merasa ingin membahas masalah ini. Pembahasan saya tentu saja tidak sama dengan isi pembicaraan saat pertemuan itu.

Pertanyaan pertama adalah, apakah kalau seorang Indonesia yang tinggal di Australia dan menjadi warga negara Australia, maka dia dianggap tidak nasionalis lagi ?

Tanggapan terhadap pertanyaan ini harus diawali dari pengertian nasionalisme. Nasionalisme dapat diartikan secara sederhana sebagai kecintaan kepada negara tempat kita lahir dan dibesarkan, serta kita tempati selama ini. Menurut Bung Karno dalam buku berjudul “Penyambung Lidah Rakyat”, kelima sila dalam Pancasila itu bisa diperas (tapi di jaman Orba kita dilarang memeras kelima sila itu) menjadi satu konsep saja, yaitu nasionalisme. Lalu bung Karno juga menjelaskan dalam buku itu bahwa nasionalisme Indonesia, yang lahir dalam kancah revolusi (he he he, begitu bahasa yang dipakai !) adalah berbeda dengan nasionalisme yang berkembang di Jerman, Jepang atau negara lainnya. Nasionalisme Indonesia bercirikan adanya kebhinekaan masyarakat , yang terdiri atas berbagai suku dan golongan. Nasionalisme Indonesia juga dicirikan oleh rasa kemanusiaan, sehingga tidaklah menjadi suatu kecintaan kepada tanah air yang berlebihan hingga melahirkan rasa chauvinisme dan bahkan penjajahan terhadap bangsa lain. Bung Karno menggambarkan nasionalisme Indonesia itu sebagai berikut: “Nasionalisme Indonesia adalah ibarat sekuntum bunga yang mekar dalam tamansari pergaulan antar bangsa di dunia”.

Nasionalisme juga dapat ditimbulkan oleh rasa senasib sepenanggungan, bahkan saat di perantauan. Satu contoh adalah nasionalisme bangsa Palestina. Biarpun banyak bangsa Palestina yang tinggal di pengungsian di negara tetangga, mereka tetap merasa adanya kecintaan pada tanah airnya yang sedang di bawah penguasaan bangsa Israel. Nasionalisme mereka pada tanah airnya tetap ada, berkat adanya keyakinan bahwa suatu saat mereka akan kembali ke tanah airnya. Kesenangan yang selama ini mereka rasakan manakala hidup di negara lain hanyalah sementara. Kesenangan yang lebih pasti, baru akan mereka nikmati saat kembali ke tanah airnya. Tentu saja saat mereka kembali sebagai bangsa yang merdeka dan bermartabat, bukan kembali dari pengungsian untuk menjadi obyek penindasan bangsa lain di tanah airnya.

Menurut saya, nasionalisme itu muncul dari suatu kebersamaan dan keterbiasaan kita dengan lingkungan tempat kita tinggal selama ini. Karena kita lahir dan besar di Indonesia, kita merasa bahwa kita lebih terbiasa untuk hidup di negara ini, dengan demikian kita merasa bahwa Indonesia adalah negara yang lebih cocok untuk tempat kita hidup dan tinggal. Lain halnya, misalnya, kita sejak kecil tinggal di negara lain. Kita tentu akan merasa bahwa kita lebih cocok tinggal di negara itu. Saya perhatikan, bahwa anak-anak warga Indonesia yang dibesarkan (biarpun lahirnya di Indonesia) di Australia, lebih suka tetap tinggal dan bekerja di Australia, daripada di Indonesia. Mereka tidak merasa ingin tinggal di Indonesia. Mereka tidak seperti pemusik Koes Plus yang berteriak “Ke Jakarta aku kan kembali, walaupun……!”. Mereka lebih suka kembali ke Sydney, atau mungkin ke Canberra. Agak berbeda dengan orang tua mereka, yang mungkin sudah tinggal di rantau selama puluhan tahun. Mereka tetap tinggal di Australia karena anak-anaknya sudah kerasan di sana. Kalaupun ada yang memberatkan mereka untuk sekedar menjenguk tanah air, itu adalah orang tua mereka yang sudah uzur. Kalau orang tua sudah tidak ada semua, anak-anak sudah beranjak dewasa dan tetap tinggal di Australia, tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain tinggal di Australia menghabiskan hari tua.

Selain itu, memang sekarang ini ada konsep bahwa setiap orang adalah warga dunia, yang berhak untuk mencari penghidupan di mana saja di segenap pelosok dunia ini. Konsep ini sangat relevan dengan konsep globalisasi, yang menyatakan bahwa segenap unit lokal akan terkait satu sama lain secara global. Dengan demikian setiap orang bebas untuk pindah ke negara lain. Perpindahan orang antar negara secara permanen, akan disusul dengan pergantian kewarga negaraan. Pada gilirannya, pergantian kewarganegaraan akan disertai dengan pertukaran nasionalisme.

Kembali kepada pertanyaan tersebut, apakah kalau kita menjadi warga negara Australia, maka kita kehilangan nasionalisme kita ? Dari sudut pandang saya yang hanya sementara saja tinggal di Australia, tanpa mempertimbangkan konteks permasalahannya, tentu saya akan langsung memberi jawaban yang bersifat penolakan.

Sebaliknya, bila kita tinjau dari kenyataan bahwa yang bersangkutan tinggal dan bekerja di Australia, tentu sangat wajar sekali bila menjadi warga negara Australia. Apalagi, bila dia memang ingin hidup di Australia sampai hari tuanya. Dengan menjadi warga negara Australia, maka dia akan mendapat segala hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara Australia pada umumnya. Dia nantinya akan dituntut untuk memiliki kecintaan kepada tanah air barunya. Wajar sekali, bila nasionalisme Indonesia diganti menjadi nasionalisme di negara barunya. Dengan demikian, nasionalisme yang tumbuh adalah nasionalisme bangsa Australia, suatu bangsa yang baru merdeka di tahun 1986, empat dasawarsa setelah kemerdekaan tanah air kita tercinta. Berbeda dengan nasionalisme kita yang lahir dari perjuangan 350 tahun melawan penjajahan Belanda dan 3,5 tahun pendudukan Jepang. Nasionalisme bangsa Australia lahir dari 200 tahun perampasan, penistaan, perkosaan, pembunuhan dan penindasan bangsa kulit putih terhadap bangsa Aborijin, masya Allah… !

Yang perlu dikhawatirkan dari peristiwa ini adalah adanya “brain drain”, atau perpindahan orang yang memiliki berpendidikan tinggi, dari negara berkembang ke negara maju. Umumnya orang yang berpendidikan tinggi di negara berkembang akan bersikap lebih idealis dan kritis terhadap situasi di negaranya yang kurang menghargai kemampuan seseorang. Di negara berkembang, banyak orang bisa berhasil karena bermodalkan KKN, suatu istilah yang sekarang sudah jarang terdengar, mungkin karena sudah berhasil diberantas di negara kita. Orang itu akan lebih memiliki peluang untuk meningkatkan taraf hidupnya bila pindah ke negara maju. Di negara maju, biasanya orang lebih dihargai karena kemampuannya, bukan karena faktor “X” atau hal-hal lain yang cenderung negatif. Dengan demikian, negara berkembang akan kehilangan putra-putri terbaiknya, justru yang dibutuhkan oleh negara itu untuk mengejar ketertinggalannya.

Untuk mengatasi brain drain, tentu menjadi tugas kita semua, tidak hanya pemerintah, untuk bisa memberantas KKN dan menempatkan penilaian prestasi di segala bidang berdasarkan kemampuan seseorang. Tapi tugas itu tidak gampang, bahkan bagi mereka yang sudah mengikuti pendidikan di luar negeri, tidak juga mudah menerapkan pengalaman yang mereka dapat selama di luar negeri. Sebagai contoh, kita tahu bahwa banyak pemimpin bangsa kita, seperti wapres Muhammad Hatta, wapres Sultan HB IX, presiden Habibie dan presiden Abdurahman Wahid, yang semuanya pernah belajar di luar negeri. Semuanya justru mengalami kesulitan ketika terjadi banyak kasus penyalahgunaan kekuasaan di sekitarnya.

Tiba-tiba, dalam diskusi itu ada seorang yang bertanya “Kalau ada perang antara Indonesia dan Australia bagaimana, kepada negara mana nanti dia harus berpihak ?”

Justru adanya banyak orang Indonesia, baik yang tinggal sementara maupun yang menetap dan bahkan yang menjadi warga negara Australia dan keturunannya, berpotensi untuk mendekatkan hubungan kedua negara. Kedekatan hubungan antar kedua negara, termasuk hubungan sosial antar warganya, akan membantu mencegah memanasnya konflik kedua negara. Selama ini di media massa kita selalu menyebut bahwa “negara jiran” itu hanyalah Malaysia, atau kadang-kandang, Singapura. Hal ini disebabkan karena persamaan budaya antar kedua negara. Sedangkan Australia yang juga merupakan negara tetangga kita, tidak sampai mendapat tempat yang tinggi dalam liputan media sebagai tetangga dekat. Justru yang terjadi malah banyaknya masalah antara kedua negara, yang semakin membuat kita merasa bahwa tetangga kita yang satu ini bukanlah teman, melainkan sebagai “potensi ancaman’.

Namun semua itu sedikit demi sedikit akan berkurang, manakala semakin banyak warga keturunan Indonesia yang tinggal di Australia. Kekayaan alam, kemajuan teknologi dan tingginya tingkat kemakmuran Australia (setiap ibu WN Australia yang melahirkan seorang anak akan mendapat santunan AUS $ 4000), dapat memberi peluang bagi pendatang yang rajin bekerja dan memiliki ketrampilan tertentu. Banyaknya warga Indonesia yang tinggal di Australia akan mampu mempengaruhi pendapat umum bangsa Australia, dan pemerintahnya. Bila pemerintah Australia menganggap bahwa Indonesia merupakan tetangga yang penting, serta banyak keturunan Indonesia yang menjadi warganegara Australia dengan nasionalisme yang tinggi, maka Australia akan memberi prioritas tinggi pada hubungan baik dengan Indonesia.

Pada akhirnya, saya hanya bisa menyatakan, bahwa pergantian kewarganegaraan, dengan alasan karena perpindahan tempat tinggal, memang sudah suatu keniscayaan. Sudah suatu keniscayaan pula, bahwa nantinya mereka yang menjalani itu haruslah menghidupkan suatu nasionalisme, pada negara baru yang ditempatinya. Bila mereka itu kelak menjadi warga negara yang baik, tentunya akan menjadi bahan pertimbangan utama bagi pemerintahnya, dalam meningkatkan hubungan dengan Indonesia, yang menjadi asal usul mereka. Dengan begitu, adanya warga negara Australia keturunan Indonesia, akan menjadi pendorong hubungan baik antara Australia dengan Indonesia. Dan bagi kita di Indonesia, tentu kita juga tidak boleh terlena untuk terus meningkatkan kinerja kita di tempat kita bekerja. Saya selalu berdoa agar ucapan saya kepada seorang dosen UNSW bisa terwujud: “If Indonesia becomes wealthy and democratic, Indonesia will be an economic competitor for Australia, and the competition will be cruel, for Australia….!”.
Hidup ini memang keras, teman-teman. Selamat bekerja, semoga sukses selalu dan sampai jumpa lagi di Pondok Cabe.


Sydney, 7 Januari 2007

Kuliah di Australia

Mulai semester 2 tahun 2006, saya menempuh master of education di University of Sydney. Bidang yang saya tempuh adalah information technology in education. Dosen yang mengajar saya tidak hanya warganegara Australia, tapi juga warganegara asing. Satu orang dari RRC, satu orang dosen dari negara Lithuania (pecahan bekas Uni Sovyet), satu profesor dari Jerman, dan satu professor dari Inggris. Sebagaimana biasa, beberapa mahasiswa PhD ikut membantu para dosen senior dan professor dalam kegiatan belajar mengajar.

Sistem perkuliahan pada tingkat master terbagi dua, menurut ada tidaknya penelitian sebagai tugas akhir. Program master of education by research mewajibkan mahasiswa untuk menulis disertasi. Sedangkan program coursework hanya terdiri atas kuliah, tanpa ada tugas akhir berupa penelitian, seperti yang saya tempuh ini. Lama kuliahnya adalah satu tahun. Tujuan saya memilih program coursework adalah untuk mendapatkan berbagai materi kuliah yang lebih luas cakupannya.

Kegiatan kuliah kebanyakan berupa presentasi beberapa teori yang diulas sedikit oleh dosen, lalu masing-masing orang diminta komentarnya. Karena di jurusan saya ini pesertanya sedikit, tidak sampai sepuluh orang, diskusinya jadi menarik. Diskusinya saya rasa lebih menarik daripada diskusi di fakultas lain yang jumlah mahasiswa per kelasnya mencapai puluhan orang. Dalam kuliah, kemampuan berbahasa Inggris secara aktif memang betul-betul diuji, apalagi bila jumlah kita hanya sedikit. Bila kita tidak aktif dalam diskusi, akan kelihatan oleh dosen atau mahasiswa lain. Lagipula, alangkah sia-sianya bila waktu kita kuliah di negara asing dihabiskan tanpa sempat bertukar wacana dalam kuliah.

Kuliah tidak hanya berupa tatap muka, karena di program studi ini diadakan juga aktivitas online. Aktivitas ini ada yang asynchronous, yaitu dalam waktu yang tidak bersamaan, misalnya dengan online forum, atau yang synchronous, yaitu dalam waktu yang bersamaan. Contoh diskusi yang dilakukan dalam waktu bersamaan adalah dengan chat. Berbeda dengan kuliah tatap muka, dalam kuliah online ini kita dituntut mampu memanfaatkan teknologi, dan memaksimalkan penggunaan teknologi. Kemampuan ini sangat penting, karena penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tanpa keahlian yang memadai, akan menghamburkan biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, tugas yang diberikan dosen jelas banyak sekali. Kebanyakan berupa membaca naskah yang harus dibaca. Naskah itu berupa kumpulan makalah atau buku yang menjadi materi yang dijelaskan dosen dalam kuliah. Bisa juga kita diharuskan menulis tanggapan atau makalah berdasarkan bacaan itu. Jadi, memang benar apa yang sering dikatakan oleh mereka yang pernah kuliah di negara maju, bahwa bila kita datang ke kelas tanpa persiapan apa-apa, akan kelihatan memalukan sekali, dan kita pun tidak akan belajar secara maksimal.
Secara umum, kuliah di Australia memang memberi banyak pengalaman berharga, selain ilmu yang berguna tentunya. Adapun untuk bisa belajar dengan maksimal, kita perlu menguasai bahasa Inggris dengan baik, tekun dalam belajar dan tidak lupa, bersikap kritis

Kebun Raya Sydney

Kemarin siang saya baru saja berjalan-jalan di Kebun Raya Sydney. Saya rasa ukurannya hampir sama dengan kebun raya Bogor.. Memang kalau dari segi kebersihan sih, kebun raya Sydney punya banyak kelebihan. Tapi dari segi keunikan koleksinya, kebun raya Bogor punya banyak keunggulan. Di kebun raya Bogor ada bunga bangkai, ada pohon kelapa sawit yang menurunkan seluruh pohon kelapa sawit di Asia Tenggara, dan ada koleksi bambu yang lengkap. Apalagi kalau ditambah dengan riwayat kebun raya Bogor yang berdampingan dengan Istana Bogor, tentu saja tidak ada kebun raya di Australia yang bisa menandinginya.
Dengan adanya istana itulah, maka kebun raya bogor menjadi tidak lepas dari riwayat yang panjang semenjak jaman gubernur jenderal Hindia Belanda, hingga para presiden di jaman Republik Indonesia. Selain para pemimpin yang pernah berkuasa, di Istana itu juga banyaka berdatangan para tamu negara, yang sebagian besar juga menyempatkan diri berjalan-jalan di kebun raya itu.
Kembali ke koleksi bambu tersebut, mungkin teman-teman ada yang masih ingat satu kisah pada saat kunjungan Perdana Menteri India, waktu itu Jawaharlal Nehru, yang disambut Presiden Sukarno di Istana Bogor. Sehabis menikmati makan siang yang salah satu menunya adalah sayur lodeh yang berisi rebung bambu, menu khas kesukaan Presiden Sukarno, keduanya berjalan-jalan. Sesampainya kedua pemimpin itu di dekat koleksi bambu, Presiden Sukarno berkata, yang mungkin bunyinya adalah :
“This is the bamboo, that we had in our lunch !” sambil menunjuk rumpun bambu itu kepada rekannya dari India. Tentu saja PM Nehru heran bukan kepalang, melihat batang bambu sedemikian tinggi menjulang dan batangnya demikian keras. Tidak habis pikirnya bahwa batang dari tumbuhan sekeras itu bisa dinikmati dalam santap siangnya berupa hidangan yang lezat. Muncul rasa kagumnya pada ketrampilan para juru masak istana, pada tuan rumahnya, dan kepada negara yang sedang dia kunjungi.
Memang tidak hanya perdana menteri Nehru saja yang kagum pada kebun raya Bogor, sehingga banyak pemimpin dunia yang datang berkunjung ke kebun raya itu kemudian menanam tanaman sebagai tanda kenang-kenangan. Mereka yang menanam pohon kenangan misalnya mendiang presiden Kim Il Sung dari Korea Utara atau mendiang raja Leopold dari Belgia
Namun sayangnya, pemimpin negara adikuasa, yang baru saja datang selama enam jam di negara kita, bukannya menanam pohon kenangan seperti yang pernah dilakukan dulu oleh para pemimpin yang datang ke istana dan kebun raya itu. Tidak juga seperti penguasa Inggris, Lord Raffles yang membangun monumen untuk mengenang istrinya di kebun raya itu. Yang dibuat presiden negara terkuat di dunia ini malah justru merusak kebun raya Bogor, hanya untuk mendaratkan helicopter kesayangannya belaka. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan rakyat Amerika kalau saja ada penguasa dari negara lain merusak halaman Gedung Putih, hanya karena ingin menunjukkan kehebatan dirinya di hadapan rakyat Amerika.

Yang saya anggap keberuntungan saya adalah karena saya bisa menikmati keindahan dan kebersihan kebun raya Sydney. Kebun raya Sydney juga beruntung, selama ini terhindar dari kunjungan presiden Bush yang membuat keonaran tidak hanya di Irak dan Afganistan. Untuk bisa ikut merasakan keberuntungan yang saya rasakan, mari kita saksikan foto-foto di bawah ini.
Akan tetapi sepulangnya dari kebun raya, saya baca surat Pak Agus tentang kebijakan pemerintah Australia, segera saya cari-cari bahannya. Karena saya yang agak awam mengenai kebijakan pemerintah, saya cari seadanya. Setahu saya, kebijakan pemerintah Australia banyak ditentukan oleh tiga unsur, yaitu politikus, media massa dan akademisi (kalau di Indonesia mungkin ditambah dua unsur lagi, yaitu ARTIS SINETRON dan PARANORMAL !)
Kalau mengenai pendapat pemerintahnya bisa dilihat dari dokumen resmi pemerintah Australia berjudul “2000 Defence White Paper”. Di situ disebut bahwa salah satu prioritas kebijakan pertahanan pemerintah Australia adalah ” to help foster the stability, integrity and cohesion of our immediate neighbourhood, which we share with Indonesia, New Zealand, Papua New Guinea, East Timor and the island countries of the Southwest Pacific”. Akan tetapi, beberapa kebijakan seperti pemberian visa Papua, nampaknya tidak mendukung integritas negara kita. Jadi konsistensi pemerintah Australia memang agak meragukan, bagaimana kalau kita jadi membuat pakta pertahanan yang akan (atau sudah ?) ditanda tangan.

Bisa juga dilihat dari Prof. Paul Dibb, dosen ANU, berjudul: The Arc of Instability and the North of Australia: Are they still relevant to Australia’s new Defence Posture?
Dalam tulisan itu, Prof Dibb menyatakan bahwa pemerintah Australia perlu membantu keberhasilan pemerintah Indonesia dalam menangani berbagai krisis, karena:
“if it fails, we could face the spectre of a nationalistic military state, perhaps attracted to fundamental Islam”.
Jadi dia menganggap bahwa justru kegagalan pemerintah Indonesia akan membuat Indonesia malah menjadi ancaman mahabesar yang tidak kepalang tanggung bagi Australia.
Akan tetapi dia menganggap bahwa tindakan militer secara sepihak juga mungkin dilakukan. Sehingga dia menyatakan bahwa ada kemungkinan (biarpun kecil) Australia perlu melakukan serangan terlebih dahulu (pre-emptive strike) ke wilayah negara tetangganya, tanpa ijin, bila dirasakan ada teroris yang akan mengancam Australia.
“But it is only likely to be in the most extreme circumstances that we would pre-emptively mount strikes, without the agreement of the host government, on terrorists aiming to wreak destruction in Australia”
Akan tetapi yang agak membingungkan bagi saya adalah pendapat professor Dibb ini, mengenai bagaimana bisa muncul suatu pemerintahan di Indonesia yang merupakan gabungan dari :
1. Nasionalisme
2. Militerisme
3. Fundamentalisme Islam
Mungkin professor itu ingin membandingkan nasionalismenya Presiden Sukarno (yang merebut Irian Barat dan mengadakan konfrontasi dengan Malaysia), militerisme presiden Soeharto (yang merebut Timor Timur) , dan fundamentalisme Islamnya Amrozi (yang menewaskan ratusan warga Australia). Kelihatannya agak mustahil membayangkan adanya figur yang merupakan gabungan dari tiga aliran itu . Akan tetapi saya mulai membayangkan, jangan-jangan selama ini dosen saya yang orang Australia pribumi menganggap saya sebagai mahasiswa Indonesia adalah seperti itu. Untunglah saya selama ini berteman dengan para mahasiswa Vietnam. Biarpun mungkin teman-teman ini berpaham nasionalis dan militeristis, tapi jelas-jelas mereka tidak akan membuat saya dicap sebagai “Islam fundamentalis”, karena teman-teman Vietnam saya semuanya berpaham komunis dan tidak beragama apa pun juga. He he he……

Kegagalan Yang Mengubah Dunia


Kita tahu bahwa baru saja Korea Utara melakukan percobaan bom nuklir. Berita itu saya dapat dari internet, ketika saya berada di perpustakaan kampus University of Sydney, yang konon perpustakaan terlengkap di belahan bumi selatan. Saat membaca artikel itu, tiba-tiba seseorang menyapa saya. Dia mahasiswi S2 asal Vietnam yang kuliah di Fakultas Ekonomi. Dia bilang bahwa setelah tidak tidur semalaman, dia akhirnya selesai membuat satu tugas makalah. Dia sudah menyerahkannya, tepat waktu pula. Hanya itu yang dia bilang. Tapi sebelum lantas pergi, dia berkata “...but, anyway, thanks for calling me !…”. Saya sebetulnya senang bila ada teman yang berhasil melakukan sesuatu upaya, tapi bila ada yang berterima kasih atas sesuatu yang sebetulnya hanya kebetulan saja saya lakukan, saya suka merasa tidak enak.
Kembali ke masalah nuklir, sebetulnya percobaan yang dilakukan Korea Utara itu ternyata gagal. Ledakan yang dihasillkan memang menghasilkan getaran yang dapat dideteksi sampai di negara tetangga, dan adanya limbah nuklir yang terbawa angin. Hanya kekuatan ledakan itu jauh lebih kecil dari daya ledak bom itu yang sesungguhnya. Akan tetapi menurut para ahli Amerika Serikat, dengan percobaan yang dianggap gagal itu saja, para ahli nuklir itu akan mendapat masukan berharga untuk menyempurnakan senjata barunya.
Berita tentang percobaan nuklir yang gagal di Korea Utara itu mengingatkan saya beberapa waktu sebelumnya, ketika ada pertemuan di International Office, sebuah lembaga di kampus saya. Lembaga inilah yang mengurusi segala macam urusan mahasiswa asing, baik yang hendak mendaftar, yang akan wisuda, yang menghadapi masalah, maupun mahasiswa asing yang suka mengasingkan dirinya sekalipun.
Di International Office itu, saya baru saja bertemu dengan seorang petugasnya, seorang wanita bernama Kim Hyun Ji. Dari namanya, saya semula mengira dia itu masih ada hubungan darah, atau bahkan, mungkin dia itu masih keponakannya Kim Jong Il, atau cucunya Kim Il Sung, para hulubalang dari negeri ginseng itu, padahal tentu saja bukan. Usianya mungkin hampir sama dengan saya. Rambutnya panjang sebahu. Gaun yang dipakainya berwarna biru, satu-satunya orang yang berbaju biru di kantor itu pada saat saya ke sana. Anehnya, dan kok bisa-bisanya juga, wajahnya mirip dengan wajah seseorang yang pertama kali saya jumpai belasan tahun yang lalu di Bandung. Tapi seseorang yang dulu saya temui di Bandung itu sekarang tidak tinggal di Bandung lagi. Dia tidak juga tinggal di Sydney menemani saya, apalagi tinggal di Pyongyang. Dia sekarang tinggal di suatu tempat, yang kalau saya sebutkan nama tempat itu, akan menggeser jalan cerita ini menjadi keluar dari konteks.
Kim menanyakan tentang pengalaman saya selama ini dan juga kemungkinan adanya kesulitan yang saya hadapi. Saya katakan bahwa saya sejauh ini tidak mengalami permasalahan yang berarti. Kalaupun ada permasalahan, mungkin cuma ketika beberapa makalah saya dikembalikan dosen karena kesalahan tatabahasa dan (yang sebetulnya fatal sekali !) alur berpikir yang tidak logis. Tentu saja bahasa Inggris bukan masalah bagi Kim karena dia lahir dan besar di Australia, dan logat bicaranya pun tidak berbeda dengan warga Australia berkulit putih. Dia hanya mengingatkan saja, “…if anything, let me know as soon as possible!”. Dia tidak ingin ada mahasiswa asing yang gagal karena permasalahan yang sebetulnya bisa diatasi, asalkan ada komunikasi yang baik.
Kegagalan merupakan suatu hal yang pasti sangat dihindari oleh setiap mahasiswa, apalagi mahasiswa asing di Australia. Perasaan terasing di tengah masyarakat yang berbeda budayanya, jauh dari keluarga dan terutama keharusan berbahasa asing, membuat kuliah di luar negeri menjadi terasa memberatkan.
Walaupun tidak ada yang ingin gagal, tapi sebenarnya ada kegagalan yang malah menjadi terkenal, dan setelah sekian lama berlalu, malah dianggap sebagai keberhasilan. Setidaknya dianggap sesuatu yang menyenangkan. Contoh kegagalan yang dianggap keberhasilan adalah penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus. Dia dianggap gagal dalam pelayarannya untuk mencari jalan pintas ke India. Padahal, perjalanannya memakan biaya sangat besar, bahkan Raja Spanyol pun kesulitan untuk menanggungnya. Sang raja baru bisa mendukung biaya itu setelah berhasil mengalahkan kerajaan Muslim di Granada.
Tapi apakah memang Columbus berhasil menemukan India ? Tentu saja tidak. Columbus dianggap gagal karena sebetulnya dia tidak menemukan India, melainkan dia sampai di sebuah benua baru. Dia tidak juga segera sadar akan kegagalannya. Baru beberapa waktu kemudian, ada seorang warga Itali bernama Amerigo Vespucci yang menyatakan bahwa tempat yang didatangi Columbus itu bukan India, melainkan sebuah benua baru. Nama dialah yang diabadikan menjadi nama benua itu, bukan nama orang yang pertama menemukannya. Walaupun begitu, sampai ratusan tahun sesudah orang menyadari kegagalan Columbus itu, kesalahan itu masih tetap diulang ketika orang masih tetap menggunakan istilah penduduk asli benua Amerika dengan sebutan “suku Indian”. Istilah itu mengacu pada kesalah kaprahan yang dilakukan Columbus, yang merasa bahwa dia sudah sampai di India.
Sekarang, setelah sekian ratus tahun berlalu, apakah kita masih menganggap bahwa kegagalan Columbus itu sesuatu yang merugikan, dan menyia-nyiakan kekayaan negara Spanyol ? Tentu saja tidak demikian. Kita umumnya menganggap bahwa pelayaran Columbus itu adalah suatu keberhasilan dalam menemukan daerah baru, suatu pembuktian bahwa bumi berbentuk bulat, dan terbukanya kesempatan baru untuk mencari kekayaan yang berujung pada kolonialisme bangsa Barat.
Untuk itu, tanpa bermaksud untuk mengabaikan keseriusan dalam setiap daya upaya kita, saya teringat bahwa banyak di antara kita ini yang saya sinyalir suka takut mengalami kegagalan, sehingga segan untuk melakukan inovasi. Bukankah inovasi itu salah satu dasar keberhasilan bangsa-bangsa yang sudah lebih dulu maju ? Bukankah inovasi seperti yang dilakukan Columbus itu semakin berkembang pesat di kalangan bangsa Barat semenjak itu sampai sekarang ? Sayangnya sebagian dari kita takut melakukan inovasi. Ketakutan itu kalau saya rumuskan menjadi berbunyi :
“Terlalu mudah berkata susah, tapi terlalu susah berkata mudah, padahal belum pernah mencoba “.
Kalau begitu, sejauh mana kegagalan itu dapat dianggap sebagai suatu suatu keberhasilan yang tertunda ? Berikut ini ada sejumlah cirinya:
1. Apabila kegagalan itu memotivasi kita untuk tetap maju
Selama kurang lebih empat puluh tahun ini, Amerika Serikat dan Rusia selalu bersaing untuk menjadi penguasa di luar angkasa. Pertama kali, Amerika gagal menjadi yang pertama mengirim antariksawannya, karena Rusia sudah lebih dahulu meluncurkan Yuri Gagarin. Tapi Amerika berhasil juga menyusul beberapa waktu kemudian.
Setelah gagal menjadi negara pertama yang meluncurkan antariksawan, AS berhasil mendaratkan manusia untuk pertama kalinya di bulan. Rusia gagal, dan tidak pernah lagi mencoba mendaratkan warganya di bulan. Akan tetapi Rusia menebus kegagalan itu dengan menjadi pemecah rekor manusia terlama di luar angkasa. Rekor terlama adalah 14 bulan di luar angkasa, suatu rekor yang belum bisa dipecahkan antariksawan AS sampai saat ini.
Dengan demikian, kegagalan yang dialami satu pihak, akan memotivasi untuk mengejar ketinggalan. Pihak yang sudah berhasil pun, tidak bisa lengah, karena esok lusa bisa jadi gilirannya yang dipecundangi oleh mereka yang kalah di hari ini.
2. Apabila dari kegagalan itu kita berhasil menemukan penyebabnya, sehingga menjadi bahan perbaikan bagi kegiatan di masa depan
Kita tentu mengenal penisilin, suatu obat dari jenis penisilin. Kegunaan obat itu adalah untuk membunuh bakteri. Pada mulanya, sang penemu penisilin, yaitu Alexander Flemming, menemukan penisilin dari kegagalan kultur bakteri. Suatu hari dia melihat bahwa sebagian kultur bakteri pada cawan petrinya gagal karena tercemar oleh bakteri lain. Setelah menyadari kegagalannya, dia melihat bahwa sebagian kultur bakteri itu tidak tercemar bakteri karena justru ada sekumpulan koloni kapang dalamnya. Ternyata kapang itu adalah Pennicilium notatum, yang biasa kita lihat berupa kapang berwarna hijau pada roti. Jamur atau kapang itu menghasilkan zat penisilin yang bisa membunuh bakteri. Dari kegagalan membiakkan bakteri itulah, Alexander Flemming menemukan obat baru yang sangat berguna.
Cerita ini memang mengandung pelajaran berharga. Akan tetapi bagi yang berkecimpung di dunia mikrobiologi tentu saja tidak layak untuk mencoba-coba memasukkan berbagai jenis mahluk ke biakan bakteri kita, dengan harapan menemukan sesuatu secara kebetulan. Apalagi sampai terkena percikan biakan bakteri patogen di badan kita, bukan lagi kegagalan, namun bencana akan menimpa kita !
3. Apabila dari kegagalan itu kita mendapatkan sesuatu yang semula terabaikan, tapi menjadi sesuatu yang berguna
Bagi warga kota besar di Indonesia, kue donat tentu sudah tidak asing lagi. Apalagi sekarang di Jakarta sedang terkenal suatu merk donat yang sangat digemari berbagai kalangan sehingga orang rela antri untuk mendapatkannya.
Padahal, kue donat itu berasal dari pemanfaatan sisa-sia roti yang sudah tidak terpakai lagi, mungkin yang gagal atau tidak mengembang. Pada abad ke-19, sejumlah pembuat roti di pesisir timur Amerika Serikat memanfaatkan sisa-sisa roti itu dengan menggorengnya. Dengan ditambah ramuan dan cara mengolah yang lebih baik, jadilah sisa roti itu menjadi jenis makanan baru yang laku terjual.
Memang tidak semua kegagalan harus membuat kita putus asa. Akan tetapi, janganlah sampai kita mengalami kegagalan seperti yang dialami seorang mantan presiden Irak yang sekarang sedang menjalani proses pengadilan. Dia betul-betul mengalami kegagalan total yang tidak kepalang tanggung. Dia sudah gagal, masih tertimpa tangga pula. Tapi kalau saja dia bisa mendapatkan pelajaran dari kegagalan besar itu, tentu saja dia juga akan mendapatkan hikmahnya.
Nah, sekarang, bagaimana setelah kita menyimak berbagai macam langkah yang bisa kita lakukan manakala kita mengalami kegagalan ? Tentu saja kita baru bisa melakukan langkah yang tepat, setelah kita memang mencoba melakukan sesuatu, dengan perhitungan yang matang. Tanpa pernah mencoba sesuatu, janganlah kita berharap bahwa kita mampu tetap tegak dalam menghadapi kegagalan.
Kalaupun, tapi tentu tidak kita harapkan, masih juga terjadi kegagalan, janganlah kita berkecil hati. Masih ada seribu satu langkah yang bisa kita lakukan, sehingga kita bisa tetap optimis. Bukankah Yang Maha Kuasa selalu menolong di saat kita gagal ? Berani berinovasi, dan mampu mengatasi kegagalan, modal yang sangat berguna bagi kita, yang hidup di dunia pendidikan jarak jauh. Terlebih lagi bagi saya pribadi, yang sedang menjalani pendidikan, di tempat yang jauh.


Sydney, 29 Oktober 2006

Kantor Kita

Saya baru saja beberapa hari yang lalu bercerita pada sebagian teman tentang apa yang terjadi di Myanmar. Kita tentu tahu bahwa banyak kejadian di luar dugaan berlangsung di negara itu. Tapi tiba-tiba kemarin saya mendengar berita dari teman-teman, bahwa suasana di UT menjadi tidak seperti yang biasa. Tentu saja tidak berubah menjadi buruk, apalagi menjadi seperti di Myanmar.

Padahal teman-teman, keadaan yang kita anggap kurang menyenangkan bisa kita jadikan peluang. Selagi kita bisa menciptakan peluang itu, dalam kondisi yang seperti apapun, kita bisa tetap optimis. Kedengarannya berlebihan, tapi kalau bukan optimisme, apalagi yang menjadi sumber semangat kita. Kecuali kalau kita sendiri mampu mengubah situasi itu menjadi seperti yang kita inginkan. Kalau dalam bahasa Inggris, dibilang “That’s another thing”, seperti yang baru saja diucapkan teman saya, mahasiswi dari Myanmar yang sekarang duduk di sebelah saya sambil tersenyum-senyum. Dia memang tidak bisa berbahasa Indonesia, jadi dia tidak tahu kalau saya menulis tentang UT sambil “ngrasani” dia, he he he. Tapi rasanya dia percaya bahwa apa yang saya tulis ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan siapa pun. Dia juga percaya bahwa apa yang saya tulis ini bermaksud baik (kadang-kadang memang sengaja saya buat menjadi tidak baik dan tidak benar, maklumlah !). Biarpun dia belum pernah ke Indonesia, tapi mahasiswi Myanmar itu menganggap bahwa orang Indonesia itu baik-baik semua pada umumnya. Mungkin dia berkata begitu karena melihat perilaku saya sehari-hari, satu-satunya orang Indonesia yang dekat dengan dia (ehm sekali deh ….!)

Tapi kalau kita memang bisa mengubah situasi yang sudah terjadi, tentu kita tidak bakal susah payah. Sayangnya, kita tidak punya kapasitas untuk melakukan hal itu. Kita hanya bisa menciptakan kondisi yang menyenangkan, di tengah situasi yang kita anggap tidak menyenangkan. Kalau itu bisa kita lakukan, lalu kita bisa mengajak teman-teman kita untuk bisa bersikap positif menghadapi kondisi yang di luar dugaan, tentu kita akan senang. Hati jadi gembira dan hilang rasa keluh kesah. Tadi malam saya lihat berita di TV bahwa utusan Sekjen PBB baru saja datang ke Myanmar dan bertemu Aung San Suu Kyi dan berkata bahwa tokoh prodemokrasi itu dalam keadaan sehat. Kita tentu ingin bisa seperti Aung San, dalam keadaan yang sedemikian sulit tapi bisa tetap sehat, dan di TV kelihatan mukanya segar. Apalagi kita yang bekerja di kantor yang relatif nyaman seperti ini.

Selama nanti kita berada di kantor dalam waktu yang lama, kita punya banyak kesempatan untuk mengerjakan berbagai ide, karena ide adalah dasar dari inovasi, dan itu sulit didapat. Mungkin selama ini kesempatan yang berharga itu tidak termanfaatkan. Jadi marilah kita manfaatkan hal-hal yang selama ini belum sempat kita kerjakan di kantor. Kita lakukan sesuatu yang belum biasa kita lakukan. Dengan demikian kita bisa mendapatkan ide baru yang berguna. Bukankah apa yang nampak di hadapan orang-orang yang bijaksana, para ahli pikir atau para perintis ilmu pengetahuan itu sama saja dengan apa yang nampak di hadapan kita sehari-hari ? Maka beruntunglah mereka yang bisa mengambil manfaat dari sesuatu yang nampaknya biasa-biasa saja, sehingga mendapatkan kebaikan yang luar biasa.

Satu contoh misalnya, di hadapan kita banyak komputer yang tersambung dengan internet, walaupun jumlahnya dianggap masih belum memadai. Kalau selama ini kita menggiatkan penggunaan internet oleh mahasiswa untuk belajar, sekarang kita dulu yang belajar dari internet. Misalnya, kita bisa mengupload tulisan kita di internet mengenai matakuliah ampuan kita masing-masing. Kalaupun kita tidak sempat membuat tulisan, kita bisa ungkap satu pertanyaan mahasiswa yang datang lewat surat kepada kita. Kita upload pertanyaan mahasiswa itu, disertai jawaban yang waktu itu kita berikan kepada mahasiswa itu. Semua itu jadi bahan pemancing untuk menjadi diskusi, tentu saja di antara sesama kita sendiri para dosen, tanpa melibatkan mahasiswa. Lalu teman kita mengkritik dan memberi masukan kepada tulisan kita. Dengan demikian kita akan dapat mendalami matakuliah ampuan kita. Lagipula, bukankah kemampuan dasar bagi seorang staf akademik adalah kemampuan untuk bernalar dan memberikan alasan bagi suatu gagasan dalam bidang ilmu kita, yang kita ajukan kepada orang banyak ?

Kita nanti juga bisa usul, atau malah berusaha untuk mendirikan tempat bermain anak di kantor kita. Kita tahu bahwa sebagian dari kita memang harus sekali waktu mengajak anaknya tinggal di kantor setelah pulang sekolah. Dengan adanya peraturan baru, kemungkinan akan semakin banyak yang terpaksa mengajak anaknya bersama di kantor sebelum pulang bersama-sama. Adanya anak-anak di kantor memang bisa menyenangkan bagi sang anak yang bisa tetap dekat dengan orang tuanya. Begitu pula orang tua akan merasa tenang karena dapat mengawasi anaknya. Akan tetapi bagi orang lain tentu saja belum tentu senyaman itu, mengingat semakin banyaknya anak kecil akan merepotkan bagi orang lain. Untuk itu alangkah baiknya kalau kita melengkapi kantor kita dengan tempat bermain bagi anak, biarpun terbatas, tapi anak merasa nyaman, dan kantor tidak menjadi hingar bingar. Kalau kurang fasilitas, bisa saja kita beri fasilitas CAI yang tidak terpakai, anggap saja itu semacam Nintendo atau Playstation yang sering mereka mainkan di rumah masing-masing. Saya rasanya pernah membuat beberapa program CAI yang hampir dibuang karena isinya terlalu bersifat kekanak-kanakan. Mungkin kalau CAI seperti itu dipakai untuk anak-anak malah sesuai, minimal bisa menghibur.

Kita juga bisa memaksimalkan perpustakaan. Manfaat perpustakaan ada dua, yang pertama adalah sebagai tempat bekerja. Mengingat perpustakaan UT adalah tempat yang sepi dan jarang didatangi orang, maka siapa saja yang menginginkan suasana kerja yang nyaman sering datang ke perpustakaan. Selama kita terus berada di kantor secara full, mungkin kita juga bisa berlama-lama di perpustakaan sehingga bisa bekerja dengan tenang.
Manfaat kedua tentu saja adalah sebagai tempat mencari informasi. Di jaman serba internet, namun katanya fasilitas komputer di UT dianggap masih kurang (berarti minat staf UT terhadap komputer sedemikian gegap gempitanya) maka bisa saja nantinya perpustakaan membuka layanan pencarian literatur di internet. Layanan ini tidak hanya diperuntukkan bagi yang masih awam terhadap internet, atau yang selalu kalah cepat sehingga tidak pernah kebagian komputer untuk menggunakan internet, tapi juga bisa digunakan bagi mereka yang sudah sedemikian tinggi tingkat keilmuannya, sehinga sudah tidak sempat lagi mencari literatur di internet. Kita pasti gembira kalau rekan-rekan kita sudah mencapai tingkatan keilmuan yang sedemikian tingginya itu !

Akan tetapi, setelah kita bekerja sedemikian giatnya dengan disiplin yang lebih tinggi itu nantinya, mungkin kita merasa jenuh. Pada saat itulah, kita baru merasa perlunya sebuah tempat rekreasi massal yang terjangkau. Itulah gunanya danau di belakang gedung PAU. Danau itu saya bayangkan saat saya pulang nanti sudah indah dikelilingi bunga dadap merah yang senantiasa mekar. Bunga dadap itu akan mekar menghiasi pohonnya yang berdaun hijau, berlatar langit biru. Kita akan nyaman berteduh di bawahnya, di saat siang hari matahari bersinar terik. Lalu angin sejuk akan bertiup menggoyang daun dan bunga dadap, menyejukkan hati yang penat dengan setumpuk pekerjaan yang tidak pernah selesai, saking banyaknya pekerjaaan itu dan saking unggulnya kita di tingkat Asia. Teman-teman semua, kalau pekerjaan kita itu sudah selesai semua dan tidak ada lagi, lantas untuk apa kita hidup di dunia ini, bukan begitu?

Oh ya teman-teman semua, kalau bicara soal danau UT (yang saya khayalkan kelak saat saya pulang sudah berhias pohon dadap berbunga merah itu), saya ingat waktu dulu saya pertama kali berjumpa seorang gadis bergaun biru berambut hitam panjang, juga di tepi sebuah danau. Tapi saat ini, di perpustakaan kampus, di sebelah saya duduk si mahasiswi Myanmar yang dari tadi heran melihat saya mengetik di laptop sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia tanya apa saya sedang mencibir atau mencela dalam tulisan ini. Tentu saja tidak, karena saya menulis tentang apa yang saya bayangkan tentang kantor saya sekarang ini. Dia bilang bahwa suasana di kantor saya pasti berbeda dengan kantornya di Yangoon sana. Saya bilang bahwa itu sudah pasti, dan apa yang saya tulis ini sekedar mengajak teman-teman sekantor di sana untuk tetap optimis. Saya mengajak mereka optimis seperti saya sendiri, seperti dia, dan seperti semua teman mahasiswa program Ausaid dan Asian Development Bank, yang sebentar lagi berlibur di musim panas.

Tidak lama datanglah teman-teman dari Vietnam mendatangi kami. Mereka mengajak teman Myanmar saya itu untuk pergi bertamasya ke pantai Bondi, sebuah pantai yang dianggap paling bagus di Sydney. Kita bisa tahu dari film, bahwa orang Australia dan orang Barat pada umumnya paling suka bertamasya di pantai. Saya tidak ikut ke sana, karena saya lebih suka berdiam di bawah pohon rindang, seperti di film India. Mereka lantas berangkat pergi, sambil berteriak “See you Diki, have a nice day !”. Saya lambaikan tangan dan tidak lama saya kirim tulisan ini buat teman-teman semua di Pondok Cabe.

Selamat bekerja !

Sydney, 15 November 2006

Jumatan di Mesjid Turki

Saya hari ini sudah bangun pagi-pagi, berbenah, lantas berangkat. Tapi saya bukan mau ikutan merayakan hari besar belakangan ini. Memang aneh ya, orang Oz sekarang mengucapkan selamat hari raya agamanya kepada siapa saja, tanpa pandang background orang lain, padahal mereka selalu ngotot merasa dirinya sekuler. Sekuler macam apa ? Wong mengakui agama yang dianut diri sendiri saja kok merasa rugi, tapi begitu hari besarnya tiba toh merayakan dengan meriah. Pagi ini saya janjian ketemu dengan teman mahasiswi Myanmar , menuju ke suatu tempat di daerah Chipendale. Ceritanya sih tidak seru, tapi menurut saya kok ya aneh, tapi lucu juga deh. Mungkin lain kali saya ceritakan. Yang jelas, banyak hal yang di negara kita dianggap aneh, tapi kok di sini dianggap biasa, begitu pula sebaliknya. Kadang-kadang kita merasa bahwa sesuatu hal itu semua orang sudah pasti tahu, tapi di tempat lain tidak ada orang yang peduli tentang hal tersebut. Lain waktu saya janji bakal cerita perjalanan dengan orang Myanmar itu. Tapi setelah acara dengan teman Myanmar itu selesai, saya jumatan. Karena mesjid kampus tutup selama libur Natal, saya jumatan di mesjid Turki di daerah Surry Hills, persisnya di Cleveland Street. Tepat di seberang mesjid ada bar, tempat orang minum minuman keras sampai lupa diri. Semula saya agak was was masuk mesjid Turki. Alasannya Turki itu negara yang menyatakan dirinya negara sekuler, biarpun anehnya benderanya pakai gambar bulan bintang, mirip lambang agama tertentu yang mayoritas di negara itu. Mungkin itu namanya sekuler tapi ngawur. Nggak apalah, prinsip mereka, biar ngawur asal sekuler. Saya was was karena pernah dengar, dulu sekali di saat jaya-jayanya sekulerisme di Turki (sekarang juga sekularisme masih jaya di sana bukan?), semua mesjid di Turki wajib mengumandangkan adzan dalam bahasa Turki. Kalau nanti di mesjid ini adzannya pakai bahasa Turki, saya ingin kabur saja, soalnya nanti bakalan berabe bukan ? Alhamdulillah, tidak lama kemudian saya dengar adzannya berbahasa Arab. Berarti saya tidak jadi kabur. Kalau khotbahnya dalam bahasa Turki ya, nggak masalah. Toh saya masih bisa dengar khotib mengucapkan "Allah", "Qul huwallahu ahad" dan "Turkiye". Cuma tiga kata itu yang saya tahu artinya. Tapi yang luar biasa, di akhir khotbah, khotib memberi ringkasan pendek dalam bahasa Inggris ! Ternyata isi khotbah itu mengenai larangan minum minuman keras. Pantas, mungkin khotib mau menyindir perilaku kaum sekuler yang minum minuman keras di seberang masjid sana ! Sesudah selesai shalat, sekarang ini juga, saya mampir di warnet di depan Padys Market. Saya sekarang merasa bahwa bangsa Australia itu mungkin bukan sekuler, tapi lebih tepat disebut hipokrit, atau mungkin hedonis. Sedangkan bangsa Turki jelas-jelas tidak sekuler, tapi mereka itu bangsa yang religius dan Islami, biarpun pemimpinnya merasa dirinya sekuler. Itu sebabnya mereka masuk NATO dan sedang melamar masuk Uni Eropa. Sayangnya, biarpun sudah bersusah payah menyebut dirinya sekuler, bangsa Turki tetap ditolak masuk Uni Eropa, karena orang Eropa merasa bahwa bangsa Turki terlalu Islami, dan kurang sekuler ! Lha piye iki ?

Inovasi dan Diri Kita Sendiri

Tadi malam ada kuliah yang saya angap cukup menarik. Selain materi kuliahnya, diskusi yang terjadi di dalamnya juga sangat menarik. Nama matakuliahnya adalah “Emerging technology and educational change”. Kuliah diadakan secara tatap muka. Topik kuliahnya adalah inovasi. Acuannya adalah sebuah buku berjudul “Innovation and Diffusion”, tulisan seorang pakar dari US. Dosen saya itu memang lulusan US, jadi banyak menggunakan textbook dari negara itu. Bahkan dia juga masih hapal nama-nama tempat di sana, seperti Midwest, Route 66, New Mexico, Iowa, Missouri, Mississippi, Miss Universe……

Dalam teori tentang inovasi itu, disebutkan adanya kelompok innovator, early adopter, early majority, late adopter dan laggard. Dalam kuliah itu, contoh kasus yang banyak diangkat adalah perusahaan yang mengiklankan barang, misalnya Microsoft dengan produk software kelanjutan dari Windows yang disebut Vista. Dalam berbagai hal, Bill Gates yang memimpin Microsoft itu bisa dianggap sebagai innovator. Produk yang dihasilkan perusahaannya bisa menguasai pasaran, bahkan bisa dianggap memonopoli. Ilmuwan Inggris, Stephen Hawkings kita ketahui banyak mencetuskan gagasan yang sangat cemerlang, akan tetapi saya rasakan gagasannya itu belum sampai menjadi suatu produk atau jasa komersial yang banyak digunakan orang sebagai suatu inovasi. Memang banyak pakar yang mampu menggambarkan adanya suatu inovasi, seperti Alvin Toffler atau Francis Fukuyama, tapi tidak menciptakan inovasi itu sendiri. Contoh di bidang lain mengenai inovasi adalah kelompok teroris Al Qaeda. Jauh sebelum peristiwa 11 September 2001, kelompok itu sudah membuat berbagai tindakan yang jauh dari dugaan aparat keamanan. Bahkan ucapan anggotanya manakala tertangkap dan menjalani interogasi pun, sudah disiapkan beberapa tahun sebelumnya, untuk mengecoh aparat yang menangkapnya. Mereka bisa bertahan karena selama ini selalu berada selangkah di depan orang yang akan menangkapnya.

Akan tetapi, saya bilang bahwa penggolongan itu terlalu menggambarkan sudut pandang innovator. Sedangkan kita sebagai masyarakat tentu punya pilihan tidak hanya menerima atau menolak inovasi. Tapi sebagai orang awam juga bisa memilih inovasi yang mana, kapan melakukan inovasi sesuai kebutuhan, lalu sejauh mana inovasi itu berguna bagi kepentingan kita, dan apakah inovasi itu berkelanjutan atau tidak. Sudah banyak contoh bahwa sebagian inovasi memang berakhir dengan kegagalan. Contoh inovasi yang berakhir dengan kegagalan adalah paham komunisme. Sudah jelas paham itu gagal, tapi justru saat ini di negara kita ada yang malah ingin menghidupkan paham seperti itu, dengan alasan karena mereka dulu disakiti pihak lain, sungguh ironis. Saya ingin titip kepada teman-teman, bila bertemu orang berpaham seperti itu, supaya mereka diminta segera insyaf. Memang selama di Sydney kebanyakan teman saya adalah orang berpaham seperti itu. Tapi saya rasa, orang yang tidak berTuhan tidak layak hidup di jagat raya ini. Jagat raya ini ciptaan Tuhan, orang yang tidak percaya pada-Nya tentu tidak berhak hidup di dalam ciptaanNya. Beruntunglah Tuhan maha Pengasih dan maha penyayang, setidaknya mereka masih diberi kesempatan.

Kembali ke masalah inovasi, lantas berdasarkan penggolongan yang dibuat pakar itu, apakah kita yang menjadi innovator atau early adopter itu tetap merupakan pihak yang lebih bijaksana, manakala inovasi itu berakhir dengan kegagalan ? Beruntung teman saya dari Philipina berkata, “early bird gets the worm”, suatu pepatah yang sangat tepat untuk menggambarkan pentingnya menjadi pihak yang hirau akan adanya perubahan. Tapi dia juga mengatakan bahwa banyak pihak tidak terburu-buru melakukan inovasi, dengan alasan ingin terhindar dari kegagalan atau kesalahan perencanaan yang biasa muncul saat suatu produk baru saja diluncurkan. Dia kembali mengutip pepatah “the second mouse gets the cheese, the first mouse gets the trap”.

Sebagai alternatif dari paradigma yang disajikan dosen itu, saya menyampaikan bahwa selain menjadi innovator atau early adopter, bisa saja kita memilih menjadi “wise adopter”, ini istilah buatan saya sendiri. Cirinya adalah kita mampu memilih perubahan mana yang kita perlukan, kapan kita melakukan perubahan itu, dan kita tahu bagaimana menarik manfaat sebesar-besarnya dari perubahan itu. Seorang wise adopter tidak perlu terburu-buru menjadi yang pertama melakukan inovasi. Contoh wise adopter yang paling tepat adalah para pakar yang disebut futurolog tersebut, karena mereka bisa menggambarkannya dengan jelas, lalu menulis buku, dan menjadi pembicara seminar atau konsultan di perusahaan kakap (maksudnya kelas kakap, bukan ikan kakap !). Tentu saja rejeki yang mereka terima, adalah kelas kakap juga.

Selain itu saya juga menyatakan bahwa alasan utama agar inovasi bisa diterima adalah dengan tidak memberi alternatif kepada pihak lain (konsumen/stakeholder) selain dari inovasi yang kita tawarkan. Contoh yang ditampilkan di kelas mengenai Vista dari Microsoft kurang tepat, karena dalam system monopoli seperti ini, semua pihak mau tidak mau pasti nanti akan memakai Vista. Tidak ada unsur risk-taking pada early adopter untuk kasus ini. Beda misalnya dengan belasan tahun lalu manakala ada berbagai perusahaan yang memasarkan berbagai produk word-processor, seperti WordStar, WordPerfect, Amipro atau Chiwriter. Semua orang perlu mengambil resiko untuk membeli salah satu produk word-processor. Tapi setidaknya Bill Gates menciptakan konsep “monopoli yang terasa memudahkan”, sehingga kita merasa nyaman dalam cengkeraman monopolinya Microsoft. Sekali lagi, ini juga inovasi bukan ?

Saya ambil contoh lagi bahwa tidak adanya alternatif lain sebagai alasan utama bagi penerimaan suatu inovasi, adalah penggunaan energi nuklir. Banyak pihak menolak penggunaan energi nuklir, selain karena resikonya, adalah karena masih banyak alternatif energi selain energi itu. Sebagian negara memang menggunakan energi nuklir dengan alasan tertentu, misalnya Iran. Negara itu memilih energi nuklir dengan alasan tertentu yang bukan semata-mata karena tidak punya pilihan energi lain.

Sekarang, kalau kita kaitkan dengan kantor kita, tentu ada berbagai hal yang menyangkut inovasi. Dari mulai cara belajar-mengajar kita yang menggunakan system jarak jauh, penggunaan e-learning, sampai yang kontemporer seperti pengetatan aturan jam kerja, rencana naiknya insentif , maupun rencana menjadi BHMN. Saya batasi mengenai BHMN, karena ini yang paling besar efeknya. Sebetulnya saya ada beberapa ide atau kiat untuk bisa survive secara berkelanjutan sebagai pegawai sebuah PT BHMN. Tetapi tentu saja bukan untuk dimuat di email ini. Kalau saya muat dalam e-mail begini, yang alamatnya tertuju pada banyak pihak, nantinya jadi menggarami laut. Lebih baik sekarang saya kaitkan kedudukan kita dengan teori inovasi yang sudah saya sebut sebelumnya. Kalau ada tiga pilihan, sebagai innovator, sebagai early adopter atau sebagai wise adopter, kita bisa memilih salah satu.

Kalau kita punya kekuasaan, kita akan memilih untuk menjadi innovator. Hal ini sangat logis sekali. Untuk apa kita punya kekuasaan kalau tidak kita manfaatkan dengan inovasi ? Kekuasaan di sini bukan berarti memiliki jabatan tertentu, apalagi memiliki jabatan sebagai salah satu pimpinan di UT. Tentu bukan begitu maksud saya. Yang saya maksud kekuasaan adalah kita mampu memberikan satu pilihan tanpa ada alternatif lain untuk menolaknya, baik kepada sesama rekan sejawat, stakeholder, maupun kepada pimpinan kita. Kemampuan ini tidak berarti paksaan, namun lebih berarti kepada penawaran suatu gagasan yang logis, sehingga pihak lain tidak mampu memberi alasan untuk menolak. Semua pihak akan menerima dengan lapang dada. Memang ini suatu yang sulit, tapi selama kita mampu berpikir logis (jangan khawatir, selama ini teman semua sudah seperti ini kok !), niscaya apa yang kita hasilkan adalah sesuatu yang logis pula.

Kalau kita tidak punya kekuasaan untuk menghilangkan alasan bagi penolakan atas ide kita, pilihan kedua adalah menjadi early adopter. Kita bergegas menerima inovasi, dengan pemahaman yang matang. Pemahaman itu berupa tahu akan arti perubahan yang akan terjadi, tahu manfaat yang didapat, tahu bahwa ada kemungkinan adanya efek samping, dan tahu kapan saatnya melakukan inovasi. Keuntungan yang kita dapat sebagai pengguna awal adalah kita sempat memasukkan ide kita dalam kerangka inovasi yang terjadi, mengingat pihak lain belum banyak terlibat. Banyak perusahaan swasta yang menjadi early adopter, dan mendapat keutungan darinya.

Salah satu contoh early adopter adalah juga Microsoft, dalam menggunakan inovasi yang diciptakannya sendiri. Ada teman kuliah saya dari Venezuela (satu negara yang baru saja berinovasi menjadi komunis) yang pernah bekerja di Microsoft,. Menurutnya, perusahaan itu selalu menggunakan software terbaru yang dikeluarkannya , di setiap komputer di kantornya. Maksudnya adalah agar customer yang datang ke kantornya untuk suatu urusan, langsung bisa melihat penggunaan software itu. Selain sebagai promosi, perusahaan itu pun bisa segera mendapat masukan bila terjadi kekurangan pada produknya, sebelum ada keluhan dari customer.

Nah, kalau kita tidak punya kekuasaan dan kemampuan logika sebagai inovator, dan tidak mampu untuk bermain dengan resiko sebagai early adopter, pilihan kita adalah sebagai wise adopter. Biarpun kita bukan yang pertama mengambil peranan dalam inovasi, tapi kita bisa mengambil manfaat dari inovasi dan siap menghadapi resikonya. Setidaknya kita bisa belajar dari pengalaman orang lain yang sudah lebih dulu mengambil pilihan yang sama. Contohnya gampang teman-teman ! Selama ini saya sering meminjam buku di perpustakaan UT berdasarkan siapa yang pernah meminjam buku itu sebelumnya. Kalau di buku itu ada nama-nama teman yang saya anggap mendalami bidangnya, saya pinjam buku itu. Itu bisa dilakukan di perpustakaan UT, karena peminjamnya pasti pegawai UT semua dan saya bisa tahu siapa saja orangnya. Itulah dasar saya meminjam buku di perpustakaan UT, selain tentu saja karena bisa ketemu beberapa cs seperti Pandu, Dani atau Rudi.

Jadi saya membaca suatu buku, berdasarkan gagasan atau inovasi seseorang untuk membaca buku itu sebelumnya. Saya tidak merasa perlu menjadi yang paling dulu membaca suatu buku yang terbaru, apalagi menulis buku. Yang penting, saya baca buku yang sudah dibaca oleh orang lain. Orang itulah yang membuat inovasi. Biarlah mereka yang melakukan inovasi, saya tinggal membuat keputusan apakah saya ikut inovasi itu, atau mengikuti inovasi yang lain. Saya tidak bersikap pasif, karena saya juga memutuskan, hanya saya tidak membuat inovasi.

Oh ya, selain kita memikirkan inovasi buat UT, kita semua tidak boleh lupa memikirkan inovasi dalam diri kita sendiri. Masing-masing kita pasti lebih tahu apa yang sudah kita lakukan dan yang belum kita lakukan. Kita tahu apa yang masih kurang dan perlu ada inovasi dalam diri kita. Yang sudah baik, tentu kita tingkatkan. Orang-orang bijaksana sering menasehatkan kita, untuk sebelum tidur kita mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan seharian ini. Langkah evaluasi ini penting, untuk bekal melakukan inovasi dan memperbaiki diri kita dari hari ke hari. Sayang sekali, belakangan ini saya tidak pernah sempat melakukan evaluasi pribadi seperti ini, karena sebelum tidur saya selalu khawatir akan apa yang akan terjadi esok hari.

Yang terakhir, kalau teman-teman masih merasa belum yakin tentang UT sebagai BHMN, tunggu saja nanti saya pulang. Setidaknya kita bisa berbagai cerita. Saya pulang insyaallah tidak lama lagi. Saya sudah kangen dengan keluarga, dan saya juga ingin segera bisa kembali bekerja bersama teman-teman semua. Sekali lagi dan tidak henti-hentinya, saya minta doa supaya semua lancar.

Selamat berinovasi, dan selalu siap menghadapi inovasi !

Cultural Imperialism





Dua bulan lalu saya membaca sebuah paper berjudul “Indigenous Australians and the Digital Divide”. Digital divide adalah adanya kesenjangan di kalangan masyarakat dalam hal akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi. Contohnya adalah kesenjangan dalam akses terhadap jaringan internet. Walaupun Australia termasuk negara papan atas dalam hal penggunaan internet, tapi di kalangan masyarakat aborijin, penggunaan internet masih sangat terbatas. Situasi ini sangat ironis sekali. Apalagi dalam salah satu diskusi online, sebagian dari kami sempat melontarkan cemooh mengenai situasi ini. Walaupun kami semua para mahasiswa asing ini sudah diingatkan untuk menghargai perbedaan dan belajar dari kemajuan bangsa Australia, rasanya belum puas kalau bisa mencemooh bangsa tuan rumah. Sebagian mahasiswa asing malah ada yang berprinsip ekstrim “kalau bisa mencela, buat apa menghargai orang lain ?” Bagi saya sendiri, prinsip seperti itu menuntut kita untuk selalu lapang dada, memiliki alasan kuat dan tidak menggunakan kata-kata yang tidak layak. Tapi tentu saja tiap orang punya sikap yang berbeda, termasuk sikap menghadapi perbedaan.

Di situ disebut bahwa salah satu alasan kurangnya orang Aborijin memiliki akses internet adalah karena information imperialism. Sehingga penulis itu menyebut “ICTs are seen as promoting a Western-dominated socioeconomic and culturally homogenous globalisation ” (Samaras, 2005). Salah satu contoh mengenai keberatan dari orang Aborijin mengenai penggunaan internet adalah larangan untuk memasang foto dan menyebut nama leluhur yang sudah meninggal. Padahal dalam buku cetakan maupun situs internet, informasi mengenai nama dan foto siapa saja, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, banyak dimuat.

Lantas beberapa hari setelah membaca makalah itu, saya datang mengikuti Jumatan di kampus.Waktu itu, khatibnya yaitu Imtiyaz Ahmad, menyebutkan bahwa “nowadays, if we are culturally different from the Western-cultured majority, we ‘ll be called as narrow minded, or even extremist”. Yang saya tangkap dari ucapannya adalah bahwa dewasa ini kita secara tidak langsung dituntut untuk berperilaku sebagaimana layaknya orang Barat. Berbagai barang maupun jasa yang kita pakai pun menuntuk kita untuk berperilaku sebagaimana produsennya, yang orang Barat, atau berorientasi ke Barat.

Hari minggunya, saya ketemu Ebuzer, teman saya orang Turki. Dia mahasiswa undergraduate jurusan accounting. Saya kenal dia karena bertemu dalam acara buka bersama. Begitu bertemu, saya langsung ingat satu peristiwa yang baru terjadi di negaranya. Sebagaimana kita ketahui, negara Turki sering dikaitkan dengan ajaran sekularisme. Biarpun paham itu tidak berasal dari negara itu, tapi justru paham itu jadi terkenal mengingat eksperimen yang dilakukan para pemimpinnya di abad yang lalu.

Saya tanya tentang demo satu juta orang yang menentang presiden dari partai beraliran Islam. Beberapa waktu yang lalu, di Turki terjadi demonstrasi besar-besaran. Warga masyarakat, yang berasal dari kelompok sekuler menentang pencalonan seorang pendukung partai Islam untuk menjadi presiden. Selama ini, partai Islam di Turki menguasai parlemen dan berhasil menempatkan seorang anggotanya menjadi perdana menteri. Karena berhasil menguasai parlemen berkat kemenangan dalam pemilu, maka partai itu berpeluang untuk menang dalam pemilihan presiden yang diadakan secara langsung.

Kekuasaan eksekutif di negara itu memang ada di tangan perdana mentri, bukan presiden. Tapi kalau kedudukan presiden dapat dipegang oleh partai Islam, kelompok sekuler yang didukung militer merasa khawatir. Mereka mengungkapkan alasan bahwa partai Islam akan menerapkan syariah, dan itu dianggap bertentangan dengan paham sekulerisme, demokrasi dan hak asasi manusia.

Dia bilang bahwa itu cuma akal-akalan pihak militer. Dia mengatakan bahwa tidak benar partai Islam di Turki ingin menerapkan syariah. Justru partai Islam mendorong agar Turki masuk Uni Eropa. Sedangkan salah satu syarat masuk Uni Eropa sangat merugikan militer, yaitu militer harus terlepas dari urusan politik negara. Padahal, pendukung utama kelompok sekuler adalah militer, yang selama beberapa puluh tahun menguasai politik negara. Kedudukan kelompok sekuler menjadi dilematis. Di satu pihak mereka ingin menerapkan demokrasi, tapi yang menang dalam pemilu parlemen adalah partai Islam, yang justru ingin Turki masuk Uni Eropa dan mereformasi militer. Kelompok sekuler yang didukung militer juga ingin menegakkan demokrasi, tapi kalah dalam pemilu, dan terpaksa bersikap tidak konsekuen, dengan mengerahkan massa yang didukung militer. Gerakan massa itu justru mengambil tema yang sangat paradoks, yaitu menolak masuk Uni Eropa dan meminta “perubahan rejim”. Padahal, pemerintah yang dikuasai partai Islam adalah hasil pemilu yang dinyatakan sah.

Ketiga peristiwa itu mengingatkan saya pada satu tema besar yang berjudul “Cultural Imperialism”. Salah satu badan dunia yang bergerak di bidang kebudayaan adalah Unesco, yang pada tahun 205 mengeluarkan satu konvensi mengenai perlindungan keanekaragaman budaya. Konvensi itu dikeluarkan, terutama untuk mengatasi meluasnya penyebaran budaya Amerika, lewat ekspor produk seni dan budaya.

Salah satu bentuk cultural imperialism adalah menerima suatu bentuk budaya asing, tanpa sikap kritis dan tidak sesuai dengan konteks atau keperluan kita sendiri. Sebagai contoh, banyak di antara kita yang mengecat rambut, dengan warna coklat atau pirang, khususnya di kalangan artis. Menurut dugaan saya, hal ini adalah karena kita ingin meniru warna rambut orang Barat, yang umumnya pirang atau coklat. Bukankah janggal sekali bila kulit kita sawo matang, bola mata hitam tapi berambut pirang ? Padahal, di kalangan orang Barat (yang lebih tepat diartikan “Caucasian), penggunaan cat rambut kebanyakan adalah untuk mewarnai rambut dengan aneka warna, tidak terbatas pada warna rambut yang yang lazim pada berbagai ras manusia. Contoh penggunaan cat rambut beraneka warna adalah pada kelompok anak muda yang disebut aliran “Punk”, seperti pada foto berikut ini.




Penggunaan cat rambut warna hijau oleh warga kulit putih Australia.


Adapun tuntutan sekelompok penganut sekulerisme di Turki, nampaknya terperangkap pada satu kesalah pahaman, bahwa segala yang berasal dari Barat adalah benar dan baik, tanpa ada sikap kritis. Memang budaya Barat memiliki banyak kebaikan, salah satu contohnya memang seperti demokrasi, humanisme, penghargaan atas hak asasi manusia. Akan tetapi, penerimaan akan suatu konsep yang kita anggap baik, akan menuntut kita bersikap konsekuen. Kita tidak bisa menerima suatu konsep tanpa memahami berbagai akibat yang menyertainya. Sikap kalangan sekuler yang memusuhi kalangan Islam di Turki, tidaklah rasional, mengingat partai Islam itu menang dalam pemilu. Kita tentu tahu, bahwa rasionalitas adalah salah satu pilar dari budaya Barat juga. Bila rasionalitas itu juga kita pegang, tentu alasan kalangan sekuler dan militer Turki menjadi sesuatu yang tidak masuk akal.



Reference :
Ervin J. (2005).The Uses of Cultural Imperialism. Global Impact of New Communication Technologies. JOMC 223. Dec. 3rd, 2005

Samaras K. (2005). Indigenous Australians and the digital divide. Libri, 2005, vol. 55,

Home Sweet Home

Cerita iki judule bahasa Inggris, tapi isine bahasa Indonesia, dadi ora usah kuwatir, biasa-biasa wae lah !

Home Sweet Home


Pagi itu saya berjumpa dengannya di depan kampus. Mahasiswi fakultas kedokteran itu melambaikan tangannya pada saya, ketika saya hendak menyeberang jalan. Saya ada di sebelah timur City Road, yang memisahkan Camperdown Campus di sebelah barat, dengan Darlington Campus di sebelah timur. Kedua kompleks itu membentuk kampus utama di universitas tempat saya belajar sekarang ini. Terasa lega hati saya, maksudnya tentu saja, karena tepat waktu, bukan karena yang lain. Malah kami lebih cepat setengah jam dari waktu yang kemarin dijanjikan untuk bertemu.
Saya bawa kamera kesayangan saya dan saya minta dia memotret saya, di depan kampus. Saya ingin berfoto tepat di bawah sebuah papan yang bertuliskan nama almamater kami. Lumayan buat kenang-kenangan. Padahal, menurut ukuran universitas ini, program studi yang saya tempuh ini sangat longgar tingkat persaingan untuk bisa masuknya. Maklumlah, karena peminatnya sedikit sekali. Cara yang cerdik untuk menggapai gengsi, bukan begitu ?
Karena melihat saya membawa kamera dan kebetulan pakaian saya lebih rapih dari biasanya, dia agak heran. Dia bilang, ”Oh, that’s why you are very nice today, you wear a good dress, and you become very …….handsome !” Wah, rasanya hati saya melambung jauh ke awang-awang, mendengar pujian darinya. Dia begitu polos memuji saya. Saya senang, terasa hati menjadi gembira. Rasanya hati yang jenuh, hanya berteman sepi, bergelut dengan internet dan makalah beribu-ribu kata dengan tatabahasa yang harus tersusun rapi, jadi pulih seketika, entah kenapa.
Karena waktu masih lama tersisa, kami duduk usai berfoto, di taman sebelah kampus. Taman itu dinamakan Victoria Park, menurut nama seorang ratu Inggris di masa silam. Kami duduk berdua di bawah pohon karet hutan. Pohon karet hutan itu besar dan rindang, kami berdua ternaungi rindangnya pohon itu. Di bawah pohon itu, kami terhindar dari teriknya matahari. Kami jadi bisa nyaman bercakap tentang apa yang masing-masing kami rasakan selama tinggal dan kuliah di kota Sydney. Dia bercerita bahwa selama ini hampir setiap satu atau dua hari sekali, dia menelpon suaminya dan ibunya yang tinggal di negaranya. Negaranya termasuk kelompok negara yang dikucilkan dari pergaulan antar bangsa. Sedikit sekali teman senegaranya yang tinggal di Sydney. Saya bilang padanya, bahwa kalau ada kesulitan, jangan segan-segan menghubungi saya, karena saya kenal dengan banyak warga Indonesia yang bermukim di kota Sydney. Jumlah pemukim Indonesia yang ribuan orang itu, jelas lebih banyak dari teman senegaranya. Biarpun mungkin saya tidak bisa menolong, saya bilang begitu, mungkin saya punya teman sesama orang Indonesia yang bisa membantu. Apalagi saya kenal dengan para pengurus organisasi Indonesian Community Council of New South Wales. Itu organisasi yang menjadi representasi pemukim Indonesia di negara bagian New South Wales.
Dia sampaikan pendapatnya, tapi saya rasa dia menasehati saya juga, biarpun umurnya lebih muda dari saya. Tidaklah penting kita berbangga karena kenal atau dikenal banyak orang, katanya. Yang paling penting adalah kita berteman baik, biarpun jumlahnya hanya sedikit, tapi mereka baik dan kita pun baik pada mereka. Kita akan saling tolong menolong dengan sesama teman. Dia tahu bahwa kelompok mahasiswa program Ausaid dan ADB memang banyak didominasi mahasiswa Indonesia dan Vietnam, tapi dia yakin bahwa tidak semuanya saling akrab satu sama lain. Masing-masing membentuk kelompok yang saling akrab di antara mereka sendiri. Tidak mungkin setiap orang akan akrab dengan semua orang di luar kelompoknya.
Ketika waktu sudah beranjak ke pukul 10.30, segera kami tinggalkan taman tempat kami duduk itu. Kami lalu berjalan di seputaran daerah Chipendale. Saya diajak menemani dia mencari tempat kos. Dia bilang, kalau ada teman yang bersama melihat-lihat rumah, tentu ada yang bisa diminta pertimbangan. Baginya rumah kos adalah kebutuhan yang paling mendesak. Selama enam bulan tinggal di Sydney, dia tidak pernah mendapat tempat tinggal yang nyaman. Maksudnya dia selalu menempati rumah yang bermasalah. Atau pemilik rumahnya yang bermasalah. Tapi untungnya, teman dekatnya ini (siapa lagi kalau bukan yang satu ini …?), tidak pernah bermasalah baginya.
Setelah mendatangi dua rumah, akhirnya dia dapat juga sebuah kamar yang dia suka. Dia merasa cocok dengan kamar itu. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter persegi, lengkap dengan perabotnya. Kamar mandi dan dapurnya cukup bersih. Sambungan internet, fasilitas standar untuk setiap kamar kos mahasiswa di Australia, juga tersedia. Seperti biasanya mengontrak kamar atau rumah di Australia, penyewa harus membayar uang jaminan sebesar satu bulan biaya sewa, untuk berjaga-jaga kalau si penyewa merusak perabot atau isi kamar lainnya. Tapi biasanya jarang terjadi kejadian seperti itu. Si pemilik rumah bercerita bahwa satu-satunya kejadian seperti itu adalah ketika seorang mahasiswa merusak pintu kamar ketika bertengkar dengan girlfriendnya. Katanya, ketika bertengkar itu, si mahasiswa merusak pintu dengan jalan membanting kursi pada daun pintu kamar. Luar biasa !
Akhirnya teman saya segera menanda tangan kontrak dan membayar uang muka. Sambil mengisi daftar isian, pemilik rumahnya bertanya asal teman saya itu, “Where do you come from ?” Waktu dia jawab nama negaranya adalah Myanmar, si pemilik rumah kebingungan. “Where is it ?” katanya. Saya coba membantu, saya sebut nama lain negara itu, yaitu Burma (diucapkan BAR-MA). Dia masih bingung, tapi dia akhirnya ingat, lalu dia menyebut nama itu dengan ucapan yang kurang tepat yaitu “BER-MA”. Saya dan teman saya itu mengangguk, memang ucapan seperti itu yang saya dengar selama ini, sebelum saya berjumpa dengan teman ini.
Teman saya balik bertanya pada pemilik rumah, menanyakan asal negaranya. Dia jawab bahwa dia berasal dari Taiwan. Saya yang bertanya ”It should be Republic of China, I guess !”. Dia mengangguk, lalu berkata “Yes, but it is complicated !”. Karena memang cerita negara itu sudah cukup complicated, saya tidak menambahkan pertanyaan lagi, misalnya bertanya “Do you mean Republic of China, without people ?”, pasti akan menjadi pertanyaan yang lebih complicated, malah irritating.
Sewaktu pulang saya ngobrol lagi dengan teman saya. Saya tanyakan bahwa kalau suaminya juga seorang dokter, pastilah dia pertama kenal dengannya waktu kuliah dulu. Itu berdasarkan pengalaman teman-teman saya, jelas bukan pengalaman saya sendiri. “Yes, that’s right ! I knew him because we studied together in university”. Lalu dia tambahkan lagi:
“He’s my first love. And my only love !”
Kok sepertinya mirip satu adegan dalam sinetron Indonesia. Kedengarannya kalimat seperti itu akrab dan sering saya dengar, biarpun saya tidak suka menonton sinetron Indonesia. Tapi saya tidak lagi ingin bertanya-tanya, karena dia nanti pasti akan bertanya bagaimana ceritanya saya dulu pertama kali bertemu istri saya. Nanti saya akan kesulitan menjelaskan cerita yang paling berkesan dalam hidup saya itu kepadanya. Saya akan kesulitan untuk menjelaskan beberapa kejadian yang melatar belakangi cerita saya itu. Satu contoh misalnya, sulit untuk menterjemahkan istilah “goyang dombret” ke dalam bahasa Inggris, lalu menjelaskan latar belakang dan konteksnya. Kesemua itu harus disusun menjadi cerita yang bisa dia mengerti. Kalau cerita itu bisa dia pahami konteks dan latar belakangnya, dia pasti tertarik dan kembali tersenyum, seindah senyum yang selalu menghiasi wajahnya sejak tadi pagi berjumpa. Bahkan sejak saya pertama jumpa dengannya. Tapi kalau dia tidak paham, cerita itu bisa malah membingungkannya, seperti kalau selama ini saya cerita pada teman-teman di Pondok Cabe. Lebih parah lagi, kalau cerita itu nantinya sama sekali tidak dia mengerti, pastilah sirna senyum indah yang menghiasi wajahnya itu. Karena itu, segeralah saya tutup percakapan, karena hari sudah siang, acara mencari rumah sudah selesai, waktu shalat Jumat hampir tiba, dan kami akan segera berpisah. Dua hari lagi dia akan berangkat untuk liburan akhir tahun di Melbourne. Saat berpisah dan ketika dia ucapkan “See you Diki, bye !”, terlihat senyum manisnya tetap menghiasi wajahnya.

Teman-teman semuanya, semoga senyum, kebahagiaan dan sikap optimis selalu ada pada kita semua, seperti yang selalu ada pada teman saya itu. Biarpun selama bekerja di UT kita sering mengeluh karena kesejahteraan masih kurang, semoga kita tidak kehilangan sifat optimis di tahun 2007. Apalagi jadi malas masuk kantor, seperti sebagian kecil teman kita, yang biarpun sudah DOSEN SENIOR, tapi tetap malas. Dasar pemalas !



Sydney, 22 Desember 2006