Thursday, July 02, 2009

Inovasi dan Diri Kita Sendiri

Tadi malam ada kuliah yang saya angap cukup menarik. Selain materi kuliahnya, diskusi yang terjadi di dalamnya juga sangat menarik. Nama matakuliahnya adalah “Emerging technology and educational change”. Kuliah diadakan secara tatap muka. Topik kuliahnya adalah inovasi. Acuannya adalah sebuah buku berjudul “Innovation and Diffusion”, tulisan seorang pakar dari US. Dosen saya itu memang lulusan US, jadi banyak menggunakan textbook dari negara itu. Bahkan dia juga masih hapal nama-nama tempat di sana, seperti Midwest, Route 66, New Mexico, Iowa, Missouri, Mississippi, Miss Universe……

Dalam teori tentang inovasi itu, disebutkan adanya kelompok innovator, early adopter, early majority, late adopter dan laggard. Dalam kuliah itu, contoh kasus yang banyak diangkat adalah perusahaan yang mengiklankan barang, misalnya Microsoft dengan produk software kelanjutan dari Windows yang disebut Vista. Dalam berbagai hal, Bill Gates yang memimpin Microsoft itu bisa dianggap sebagai innovator. Produk yang dihasilkan perusahaannya bisa menguasai pasaran, bahkan bisa dianggap memonopoli. Ilmuwan Inggris, Stephen Hawkings kita ketahui banyak mencetuskan gagasan yang sangat cemerlang, akan tetapi saya rasakan gagasannya itu belum sampai menjadi suatu produk atau jasa komersial yang banyak digunakan orang sebagai suatu inovasi. Memang banyak pakar yang mampu menggambarkan adanya suatu inovasi, seperti Alvin Toffler atau Francis Fukuyama, tapi tidak menciptakan inovasi itu sendiri. Contoh di bidang lain mengenai inovasi adalah kelompok teroris Al Qaeda. Jauh sebelum peristiwa 11 September 2001, kelompok itu sudah membuat berbagai tindakan yang jauh dari dugaan aparat keamanan. Bahkan ucapan anggotanya manakala tertangkap dan menjalani interogasi pun, sudah disiapkan beberapa tahun sebelumnya, untuk mengecoh aparat yang menangkapnya. Mereka bisa bertahan karena selama ini selalu berada selangkah di depan orang yang akan menangkapnya.

Akan tetapi, saya bilang bahwa penggolongan itu terlalu menggambarkan sudut pandang innovator. Sedangkan kita sebagai masyarakat tentu punya pilihan tidak hanya menerima atau menolak inovasi. Tapi sebagai orang awam juga bisa memilih inovasi yang mana, kapan melakukan inovasi sesuai kebutuhan, lalu sejauh mana inovasi itu berguna bagi kepentingan kita, dan apakah inovasi itu berkelanjutan atau tidak. Sudah banyak contoh bahwa sebagian inovasi memang berakhir dengan kegagalan. Contoh inovasi yang berakhir dengan kegagalan adalah paham komunisme. Sudah jelas paham itu gagal, tapi justru saat ini di negara kita ada yang malah ingin menghidupkan paham seperti itu, dengan alasan karena mereka dulu disakiti pihak lain, sungguh ironis. Saya ingin titip kepada teman-teman, bila bertemu orang berpaham seperti itu, supaya mereka diminta segera insyaf. Memang selama di Sydney kebanyakan teman saya adalah orang berpaham seperti itu. Tapi saya rasa, orang yang tidak berTuhan tidak layak hidup di jagat raya ini. Jagat raya ini ciptaan Tuhan, orang yang tidak percaya pada-Nya tentu tidak berhak hidup di dalam ciptaanNya. Beruntunglah Tuhan maha Pengasih dan maha penyayang, setidaknya mereka masih diberi kesempatan.

Kembali ke masalah inovasi, lantas berdasarkan penggolongan yang dibuat pakar itu, apakah kita yang menjadi innovator atau early adopter itu tetap merupakan pihak yang lebih bijaksana, manakala inovasi itu berakhir dengan kegagalan ? Beruntung teman saya dari Philipina berkata, “early bird gets the worm”, suatu pepatah yang sangat tepat untuk menggambarkan pentingnya menjadi pihak yang hirau akan adanya perubahan. Tapi dia juga mengatakan bahwa banyak pihak tidak terburu-buru melakukan inovasi, dengan alasan ingin terhindar dari kegagalan atau kesalahan perencanaan yang biasa muncul saat suatu produk baru saja diluncurkan. Dia kembali mengutip pepatah “the second mouse gets the cheese, the first mouse gets the trap”.

Sebagai alternatif dari paradigma yang disajikan dosen itu, saya menyampaikan bahwa selain menjadi innovator atau early adopter, bisa saja kita memilih menjadi “wise adopter”, ini istilah buatan saya sendiri. Cirinya adalah kita mampu memilih perubahan mana yang kita perlukan, kapan kita melakukan perubahan itu, dan kita tahu bagaimana menarik manfaat sebesar-besarnya dari perubahan itu. Seorang wise adopter tidak perlu terburu-buru menjadi yang pertama melakukan inovasi. Contoh wise adopter yang paling tepat adalah para pakar yang disebut futurolog tersebut, karena mereka bisa menggambarkannya dengan jelas, lalu menulis buku, dan menjadi pembicara seminar atau konsultan di perusahaan kakap (maksudnya kelas kakap, bukan ikan kakap !). Tentu saja rejeki yang mereka terima, adalah kelas kakap juga.

Selain itu saya juga menyatakan bahwa alasan utama agar inovasi bisa diterima adalah dengan tidak memberi alternatif kepada pihak lain (konsumen/stakeholder) selain dari inovasi yang kita tawarkan. Contoh yang ditampilkan di kelas mengenai Vista dari Microsoft kurang tepat, karena dalam system monopoli seperti ini, semua pihak mau tidak mau pasti nanti akan memakai Vista. Tidak ada unsur risk-taking pada early adopter untuk kasus ini. Beda misalnya dengan belasan tahun lalu manakala ada berbagai perusahaan yang memasarkan berbagai produk word-processor, seperti WordStar, WordPerfect, Amipro atau Chiwriter. Semua orang perlu mengambil resiko untuk membeli salah satu produk word-processor. Tapi setidaknya Bill Gates menciptakan konsep “monopoli yang terasa memudahkan”, sehingga kita merasa nyaman dalam cengkeraman monopolinya Microsoft. Sekali lagi, ini juga inovasi bukan ?

Saya ambil contoh lagi bahwa tidak adanya alternatif lain sebagai alasan utama bagi penerimaan suatu inovasi, adalah penggunaan energi nuklir. Banyak pihak menolak penggunaan energi nuklir, selain karena resikonya, adalah karena masih banyak alternatif energi selain energi itu. Sebagian negara memang menggunakan energi nuklir dengan alasan tertentu, misalnya Iran. Negara itu memilih energi nuklir dengan alasan tertentu yang bukan semata-mata karena tidak punya pilihan energi lain.

Sekarang, kalau kita kaitkan dengan kantor kita, tentu ada berbagai hal yang menyangkut inovasi. Dari mulai cara belajar-mengajar kita yang menggunakan system jarak jauh, penggunaan e-learning, sampai yang kontemporer seperti pengetatan aturan jam kerja, rencana naiknya insentif , maupun rencana menjadi BHMN. Saya batasi mengenai BHMN, karena ini yang paling besar efeknya. Sebetulnya saya ada beberapa ide atau kiat untuk bisa survive secara berkelanjutan sebagai pegawai sebuah PT BHMN. Tetapi tentu saja bukan untuk dimuat di email ini. Kalau saya muat dalam e-mail begini, yang alamatnya tertuju pada banyak pihak, nantinya jadi menggarami laut. Lebih baik sekarang saya kaitkan kedudukan kita dengan teori inovasi yang sudah saya sebut sebelumnya. Kalau ada tiga pilihan, sebagai innovator, sebagai early adopter atau sebagai wise adopter, kita bisa memilih salah satu.

Kalau kita punya kekuasaan, kita akan memilih untuk menjadi innovator. Hal ini sangat logis sekali. Untuk apa kita punya kekuasaan kalau tidak kita manfaatkan dengan inovasi ? Kekuasaan di sini bukan berarti memiliki jabatan tertentu, apalagi memiliki jabatan sebagai salah satu pimpinan di UT. Tentu bukan begitu maksud saya. Yang saya maksud kekuasaan adalah kita mampu memberikan satu pilihan tanpa ada alternatif lain untuk menolaknya, baik kepada sesama rekan sejawat, stakeholder, maupun kepada pimpinan kita. Kemampuan ini tidak berarti paksaan, namun lebih berarti kepada penawaran suatu gagasan yang logis, sehingga pihak lain tidak mampu memberi alasan untuk menolak. Semua pihak akan menerima dengan lapang dada. Memang ini suatu yang sulit, tapi selama kita mampu berpikir logis (jangan khawatir, selama ini teman semua sudah seperti ini kok !), niscaya apa yang kita hasilkan adalah sesuatu yang logis pula.

Kalau kita tidak punya kekuasaan untuk menghilangkan alasan bagi penolakan atas ide kita, pilihan kedua adalah menjadi early adopter. Kita bergegas menerima inovasi, dengan pemahaman yang matang. Pemahaman itu berupa tahu akan arti perubahan yang akan terjadi, tahu manfaat yang didapat, tahu bahwa ada kemungkinan adanya efek samping, dan tahu kapan saatnya melakukan inovasi. Keuntungan yang kita dapat sebagai pengguna awal adalah kita sempat memasukkan ide kita dalam kerangka inovasi yang terjadi, mengingat pihak lain belum banyak terlibat. Banyak perusahaan swasta yang menjadi early adopter, dan mendapat keutungan darinya.

Salah satu contoh early adopter adalah juga Microsoft, dalam menggunakan inovasi yang diciptakannya sendiri. Ada teman kuliah saya dari Venezuela (satu negara yang baru saja berinovasi menjadi komunis) yang pernah bekerja di Microsoft,. Menurutnya, perusahaan itu selalu menggunakan software terbaru yang dikeluarkannya , di setiap komputer di kantornya. Maksudnya adalah agar customer yang datang ke kantornya untuk suatu urusan, langsung bisa melihat penggunaan software itu. Selain sebagai promosi, perusahaan itu pun bisa segera mendapat masukan bila terjadi kekurangan pada produknya, sebelum ada keluhan dari customer.

Nah, kalau kita tidak punya kekuasaan dan kemampuan logika sebagai inovator, dan tidak mampu untuk bermain dengan resiko sebagai early adopter, pilihan kita adalah sebagai wise adopter. Biarpun kita bukan yang pertama mengambil peranan dalam inovasi, tapi kita bisa mengambil manfaat dari inovasi dan siap menghadapi resikonya. Setidaknya kita bisa belajar dari pengalaman orang lain yang sudah lebih dulu mengambil pilihan yang sama. Contohnya gampang teman-teman ! Selama ini saya sering meminjam buku di perpustakaan UT berdasarkan siapa yang pernah meminjam buku itu sebelumnya. Kalau di buku itu ada nama-nama teman yang saya anggap mendalami bidangnya, saya pinjam buku itu. Itu bisa dilakukan di perpustakaan UT, karena peminjamnya pasti pegawai UT semua dan saya bisa tahu siapa saja orangnya. Itulah dasar saya meminjam buku di perpustakaan UT, selain tentu saja karena bisa ketemu beberapa cs seperti Pandu, Dani atau Rudi.

Jadi saya membaca suatu buku, berdasarkan gagasan atau inovasi seseorang untuk membaca buku itu sebelumnya. Saya tidak merasa perlu menjadi yang paling dulu membaca suatu buku yang terbaru, apalagi menulis buku. Yang penting, saya baca buku yang sudah dibaca oleh orang lain. Orang itulah yang membuat inovasi. Biarlah mereka yang melakukan inovasi, saya tinggal membuat keputusan apakah saya ikut inovasi itu, atau mengikuti inovasi yang lain. Saya tidak bersikap pasif, karena saya juga memutuskan, hanya saya tidak membuat inovasi.

Oh ya, selain kita memikirkan inovasi buat UT, kita semua tidak boleh lupa memikirkan inovasi dalam diri kita sendiri. Masing-masing kita pasti lebih tahu apa yang sudah kita lakukan dan yang belum kita lakukan. Kita tahu apa yang masih kurang dan perlu ada inovasi dalam diri kita. Yang sudah baik, tentu kita tingkatkan. Orang-orang bijaksana sering menasehatkan kita, untuk sebelum tidur kita mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan seharian ini. Langkah evaluasi ini penting, untuk bekal melakukan inovasi dan memperbaiki diri kita dari hari ke hari. Sayang sekali, belakangan ini saya tidak pernah sempat melakukan evaluasi pribadi seperti ini, karena sebelum tidur saya selalu khawatir akan apa yang akan terjadi esok hari.

Yang terakhir, kalau teman-teman masih merasa belum yakin tentang UT sebagai BHMN, tunggu saja nanti saya pulang. Setidaknya kita bisa berbagai cerita. Saya pulang insyaallah tidak lama lagi. Saya sudah kangen dengan keluarga, dan saya juga ingin segera bisa kembali bekerja bersama teman-teman semua. Sekali lagi dan tidak henti-hentinya, saya minta doa supaya semua lancar.

Selamat berinovasi, dan selalu siap menghadapi inovasi !

0 Comments:

Post a Comment

<< Home