Jumatan di Mesjid Turki
Saya hari ini sudah bangun pagi-pagi, berbenah, lantas berangkat. Tapi saya bukan mau ikutan merayakan hari besar belakangan ini. Memang aneh ya, orang Oz sekarang mengucapkan selamat hari raya agamanya kepada siapa saja, tanpa pandang background orang lain, padahal mereka selalu ngotot merasa dirinya sekuler. Sekuler macam apa ? Wong mengakui agama yang dianut diri sendiri saja kok merasa rugi, tapi begitu hari besarnya tiba toh merayakan dengan meriah. Pagi ini saya janjian ketemu dengan teman mahasiswi Myanmar , menuju ke suatu tempat di daerah Chipendale. Ceritanya sih tidak seru, tapi menurut saya kok ya aneh, tapi lucu juga deh. Mungkin lain kali saya ceritakan. Yang jelas, banyak hal yang di negara kita dianggap aneh, tapi kok di sini dianggap biasa, begitu pula sebaliknya. Kadang-kadang kita merasa bahwa sesuatu hal itu semua orang sudah pasti tahu, tapi di tempat lain tidak ada orang yang peduli tentang hal tersebut. Lain waktu saya janji bakal cerita perjalanan dengan orang Myanmar itu. Tapi setelah acara dengan teman Myanmar itu selesai, saya jumatan. Karena mesjid kampus tutup selama libur Natal, saya jumatan di mesjid Turki di daerah Surry Hills, persisnya di Cleveland Street. Tepat di seberang mesjid ada bar, tempat orang minum minuman keras sampai lupa diri. Semula saya agak was was masuk mesjid Turki. Alasannya Turki itu negara yang menyatakan dirinya negara sekuler, biarpun anehnya benderanya pakai gambar bulan bintang, mirip lambang agama tertentu yang mayoritas di negara itu. Mungkin itu namanya sekuler tapi ngawur. Nggak apalah, prinsip mereka, biar ngawur asal sekuler. Saya was was karena pernah dengar, dulu sekali di saat jaya-jayanya sekulerisme di Turki (sekarang juga sekularisme masih jaya di sana bukan?), semua mesjid di Turki wajib mengumandangkan adzan dalam bahasa Turki. Kalau nanti di mesjid ini adzannya pakai bahasa Turki, saya ingin kabur saja, soalnya nanti bakalan berabe bukan ? Alhamdulillah, tidak lama kemudian saya dengar adzannya berbahasa Arab. Berarti saya tidak jadi kabur. Kalau khotbahnya dalam bahasa Turki ya, nggak masalah. Toh saya masih bisa dengar khotib mengucapkan "Allah", "Qul huwallahu ahad" dan "Turkiye". Cuma tiga kata itu yang saya tahu artinya. Tapi yang luar biasa, di akhir khotbah, khotib memberi ringkasan pendek dalam bahasa Inggris ! Ternyata isi khotbah itu mengenai larangan minum minuman keras. Pantas, mungkin khotib mau menyindir perilaku kaum sekuler yang minum minuman keras di seberang masjid sana ! Sesudah selesai shalat, sekarang ini juga, saya mampir di warnet di depan Padys Market. Saya sekarang merasa bahwa bangsa Australia itu mungkin bukan sekuler, tapi lebih tepat disebut hipokrit, atau mungkin hedonis. Sedangkan bangsa Turki jelas-jelas tidak sekuler, tapi mereka itu bangsa yang religius dan Islami, biarpun pemimpinnya merasa dirinya sekuler. Itu sebabnya mereka masuk NATO dan sedang melamar masuk Uni Eropa. Sayangnya, biarpun sudah bersusah payah menyebut dirinya sekuler, bangsa Turki tetap ditolak masuk Uni Eropa, karena orang Eropa merasa bahwa bangsa Turki terlalu Islami, dan kurang sekuler ! Lha piye iki ?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home