Kantor Kita
Saya baru saja beberapa hari yang lalu bercerita pada sebagian teman tentang apa yang terjadi di Myanmar. Kita tentu tahu bahwa banyak kejadian di luar dugaan berlangsung di negara itu. Tapi tiba-tiba kemarin saya mendengar berita dari teman-teman, bahwa suasana di UT menjadi tidak seperti yang biasa. Tentu saja tidak berubah menjadi buruk, apalagi menjadi seperti di Myanmar.
Padahal teman-teman, keadaan yang kita anggap kurang menyenangkan bisa kita jadikan peluang. Selagi kita bisa menciptakan peluang itu, dalam kondisi yang seperti apapun, kita bisa tetap optimis. Kedengarannya berlebihan, tapi kalau bukan optimisme, apalagi yang menjadi sumber semangat kita. Kecuali kalau kita sendiri mampu mengubah situasi itu menjadi seperti yang kita inginkan. Kalau dalam bahasa Inggris, dibilang “That’s another thing”, seperti yang baru saja diucapkan teman saya, mahasiswi dari Myanmar yang sekarang duduk di sebelah saya sambil tersenyum-senyum. Dia memang tidak bisa berbahasa Indonesia, jadi dia tidak tahu kalau saya menulis tentang UT sambil “ngrasani” dia, he he he. Tapi rasanya dia percaya bahwa apa yang saya tulis ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan siapa pun. Dia juga percaya bahwa apa yang saya tulis ini bermaksud baik (kadang-kadang memang sengaja saya buat menjadi tidak baik dan tidak benar, maklumlah !). Biarpun dia belum pernah ke Indonesia, tapi mahasiswi Myanmar itu menganggap bahwa orang Indonesia itu baik-baik semua pada umumnya. Mungkin dia berkata begitu karena melihat perilaku saya sehari-hari, satu-satunya orang Indonesia yang dekat dengan dia (ehm sekali deh ….!)
Tapi kalau kita memang bisa mengubah situasi yang sudah terjadi, tentu kita tidak bakal susah payah. Sayangnya, kita tidak punya kapasitas untuk melakukan hal itu. Kita hanya bisa menciptakan kondisi yang menyenangkan, di tengah situasi yang kita anggap tidak menyenangkan. Kalau itu bisa kita lakukan, lalu kita bisa mengajak teman-teman kita untuk bisa bersikap positif menghadapi kondisi yang di luar dugaan, tentu kita akan senang. Hati jadi gembira dan hilang rasa keluh kesah. Tadi malam saya lihat berita di TV bahwa utusan Sekjen PBB baru saja datang ke Myanmar dan bertemu Aung San Suu Kyi dan berkata bahwa tokoh prodemokrasi itu dalam keadaan sehat. Kita tentu ingin bisa seperti Aung San, dalam keadaan yang sedemikian sulit tapi bisa tetap sehat, dan di TV kelihatan mukanya segar. Apalagi kita yang bekerja di kantor yang relatif nyaman seperti ini.
Selama nanti kita berada di kantor dalam waktu yang lama, kita punya banyak kesempatan untuk mengerjakan berbagai ide, karena ide adalah dasar dari inovasi, dan itu sulit didapat. Mungkin selama ini kesempatan yang berharga itu tidak termanfaatkan. Jadi marilah kita manfaatkan hal-hal yang selama ini belum sempat kita kerjakan di kantor. Kita lakukan sesuatu yang belum biasa kita lakukan. Dengan demikian kita bisa mendapatkan ide baru yang berguna. Bukankah apa yang nampak di hadapan orang-orang yang bijaksana, para ahli pikir atau para perintis ilmu pengetahuan itu sama saja dengan apa yang nampak di hadapan kita sehari-hari ? Maka beruntunglah mereka yang bisa mengambil manfaat dari sesuatu yang nampaknya biasa-biasa saja, sehingga mendapatkan kebaikan yang luar biasa.
Satu contoh misalnya, di hadapan kita banyak komputer yang tersambung dengan internet, walaupun jumlahnya dianggap masih belum memadai. Kalau selama ini kita menggiatkan penggunaan internet oleh mahasiswa untuk belajar, sekarang kita dulu yang belajar dari internet. Misalnya, kita bisa mengupload tulisan kita di internet mengenai matakuliah ampuan kita masing-masing. Kalaupun kita tidak sempat membuat tulisan, kita bisa ungkap satu pertanyaan mahasiswa yang datang lewat surat kepada kita. Kita upload pertanyaan mahasiswa itu, disertai jawaban yang waktu itu kita berikan kepada mahasiswa itu. Semua itu jadi bahan pemancing untuk menjadi diskusi, tentu saja di antara sesama kita sendiri para dosen, tanpa melibatkan mahasiswa. Lalu teman kita mengkritik dan memberi masukan kepada tulisan kita. Dengan demikian kita akan dapat mendalami matakuliah ampuan kita. Lagipula, bukankah kemampuan dasar bagi seorang staf akademik adalah kemampuan untuk bernalar dan memberikan alasan bagi suatu gagasan dalam bidang ilmu kita, yang kita ajukan kepada orang banyak ?
Kita nanti juga bisa usul, atau malah berusaha untuk mendirikan tempat bermain anak di kantor kita. Kita tahu bahwa sebagian dari kita memang harus sekali waktu mengajak anaknya tinggal di kantor setelah pulang sekolah. Dengan adanya peraturan baru, kemungkinan akan semakin banyak yang terpaksa mengajak anaknya bersama di kantor sebelum pulang bersama-sama. Adanya anak-anak di kantor memang bisa menyenangkan bagi sang anak yang bisa tetap dekat dengan orang tuanya. Begitu pula orang tua akan merasa tenang karena dapat mengawasi anaknya. Akan tetapi bagi orang lain tentu saja belum tentu senyaman itu, mengingat semakin banyaknya anak kecil akan merepotkan bagi orang lain. Untuk itu alangkah baiknya kalau kita melengkapi kantor kita dengan tempat bermain bagi anak, biarpun terbatas, tapi anak merasa nyaman, dan kantor tidak menjadi hingar bingar. Kalau kurang fasilitas, bisa saja kita beri fasilitas CAI yang tidak terpakai, anggap saja itu semacam Nintendo atau Playstation yang sering mereka mainkan di rumah masing-masing. Saya rasanya pernah membuat beberapa program CAI yang hampir dibuang karena isinya terlalu bersifat kekanak-kanakan. Mungkin kalau CAI seperti itu dipakai untuk anak-anak malah sesuai, minimal bisa menghibur.
Kita juga bisa memaksimalkan perpustakaan. Manfaat perpustakaan ada dua, yang pertama adalah sebagai tempat bekerja. Mengingat perpustakaan UT adalah tempat yang sepi dan jarang didatangi orang, maka siapa saja yang menginginkan suasana kerja yang nyaman sering datang ke perpustakaan. Selama kita terus berada di kantor secara full, mungkin kita juga bisa berlama-lama di perpustakaan sehingga bisa bekerja dengan tenang.
Manfaat kedua tentu saja adalah sebagai tempat mencari informasi. Di jaman serba internet, namun katanya fasilitas komputer di UT dianggap masih kurang (berarti minat staf UT terhadap komputer sedemikian gegap gempitanya) maka bisa saja nantinya perpustakaan membuka layanan pencarian literatur di internet. Layanan ini tidak hanya diperuntukkan bagi yang masih awam terhadap internet, atau yang selalu kalah cepat sehingga tidak pernah kebagian komputer untuk menggunakan internet, tapi juga bisa digunakan bagi mereka yang sudah sedemikian tinggi tingkat keilmuannya, sehinga sudah tidak sempat lagi mencari literatur di internet. Kita pasti gembira kalau rekan-rekan kita sudah mencapai tingkatan keilmuan yang sedemikian tingginya itu !
Akan tetapi, setelah kita bekerja sedemikian giatnya dengan disiplin yang lebih tinggi itu nantinya, mungkin kita merasa jenuh. Pada saat itulah, kita baru merasa perlunya sebuah tempat rekreasi massal yang terjangkau. Itulah gunanya danau di belakang gedung PAU. Danau itu saya bayangkan saat saya pulang nanti sudah indah dikelilingi bunga dadap merah yang senantiasa mekar. Bunga dadap itu akan mekar menghiasi pohonnya yang berdaun hijau, berlatar langit biru. Kita akan nyaman berteduh di bawahnya, di saat siang hari matahari bersinar terik. Lalu angin sejuk akan bertiup menggoyang daun dan bunga dadap, menyejukkan hati yang penat dengan setumpuk pekerjaan yang tidak pernah selesai, saking banyaknya pekerjaaan itu dan saking unggulnya kita di tingkat Asia. Teman-teman semua, kalau pekerjaan kita itu sudah selesai semua dan tidak ada lagi, lantas untuk apa kita hidup di dunia ini, bukan begitu?
Oh ya teman-teman semua, kalau bicara soal danau UT (yang saya khayalkan kelak saat saya pulang sudah berhias pohon dadap berbunga merah itu), saya ingat waktu dulu saya pertama kali berjumpa seorang gadis bergaun biru berambut hitam panjang, juga di tepi sebuah danau. Tapi saat ini, di perpustakaan kampus, di sebelah saya duduk si mahasiswi Myanmar yang dari tadi heran melihat saya mengetik di laptop sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia tanya apa saya sedang mencibir atau mencela dalam tulisan ini. Tentu saja tidak, karena saya menulis tentang apa yang saya bayangkan tentang kantor saya sekarang ini. Dia bilang bahwa suasana di kantor saya pasti berbeda dengan kantornya di Yangoon sana. Saya bilang bahwa itu sudah pasti, dan apa yang saya tulis ini sekedar mengajak teman-teman sekantor di sana untuk tetap optimis. Saya mengajak mereka optimis seperti saya sendiri, seperti dia, dan seperti semua teman mahasiswa program Ausaid dan Asian Development Bank, yang sebentar lagi berlibur di musim panas.
Tidak lama datanglah teman-teman dari Vietnam mendatangi kami. Mereka mengajak teman Myanmar saya itu untuk pergi bertamasya ke pantai Bondi, sebuah pantai yang dianggap paling bagus di Sydney. Kita bisa tahu dari film, bahwa orang Australia dan orang Barat pada umumnya paling suka bertamasya di pantai. Saya tidak ikut ke sana, karena saya lebih suka berdiam di bawah pohon rindang, seperti di film India. Mereka lantas berangkat pergi, sambil berteriak “See you Diki, have a nice day !”. Saya lambaikan tangan dan tidak lama saya kirim tulisan ini buat teman-teman semua di Pondok Cabe.
Selamat bekerja !
Sydney, 15 November 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home