Thursday, July 02, 2009

Kebun Raya Sydney

Kemarin siang saya baru saja berjalan-jalan di Kebun Raya Sydney. Saya rasa ukurannya hampir sama dengan kebun raya Bogor.. Memang kalau dari segi kebersihan sih, kebun raya Sydney punya banyak kelebihan. Tapi dari segi keunikan koleksinya, kebun raya Bogor punya banyak keunggulan. Di kebun raya Bogor ada bunga bangkai, ada pohon kelapa sawit yang menurunkan seluruh pohon kelapa sawit di Asia Tenggara, dan ada koleksi bambu yang lengkap. Apalagi kalau ditambah dengan riwayat kebun raya Bogor yang berdampingan dengan Istana Bogor, tentu saja tidak ada kebun raya di Australia yang bisa menandinginya.
Dengan adanya istana itulah, maka kebun raya bogor menjadi tidak lepas dari riwayat yang panjang semenjak jaman gubernur jenderal Hindia Belanda, hingga para presiden di jaman Republik Indonesia. Selain para pemimpin yang pernah berkuasa, di Istana itu juga banyaka berdatangan para tamu negara, yang sebagian besar juga menyempatkan diri berjalan-jalan di kebun raya itu.
Kembali ke koleksi bambu tersebut, mungkin teman-teman ada yang masih ingat satu kisah pada saat kunjungan Perdana Menteri India, waktu itu Jawaharlal Nehru, yang disambut Presiden Sukarno di Istana Bogor. Sehabis menikmati makan siang yang salah satu menunya adalah sayur lodeh yang berisi rebung bambu, menu khas kesukaan Presiden Sukarno, keduanya berjalan-jalan. Sesampainya kedua pemimpin itu di dekat koleksi bambu, Presiden Sukarno berkata, yang mungkin bunyinya adalah :
“This is the bamboo, that we had in our lunch !” sambil menunjuk rumpun bambu itu kepada rekannya dari India. Tentu saja PM Nehru heran bukan kepalang, melihat batang bambu sedemikian tinggi menjulang dan batangnya demikian keras. Tidak habis pikirnya bahwa batang dari tumbuhan sekeras itu bisa dinikmati dalam santap siangnya berupa hidangan yang lezat. Muncul rasa kagumnya pada ketrampilan para juru masak istana, pada tuan rumahnya, dan kepada negara yang sedang dia kunjungi.
Memang tidak hanya perdana menteri Nehru saja yang kagum pada kebun raya Bogor, sehingga banyak pemimpin dunia yang datang berkunjung ke kebun raya itu kemudian menanam tanaman sebagai tanda kenang-kenangan. Mereka yang menanam pohon kenangan misalnya mendiang presiden Kim Il Sung dari Korea Utara atau mendiang raja Leopold dari Belgia
Namun sayangnya, pemimpin negara adikuasa, yang baru saja datang selama enam jam di negara kita, bukannya menanam pohon kenangan seperti yang pernah dilakukan dulu oleh para pemimpin yang datang ke istana dan kebun raya itu. Tidak juga seperti penguasa Inggris, Lord Raffles yang membangun monumen untuk mengenang istrinya di kebun raya itu. Yang dibuat presiden negara terkuat di dunia ini malah justru merusak kebun raya Bogor, hanya untuk mendaratkan helicopter kesayangannya belaka. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan rakyat Amerika kalau saja ada penguasa dari negara lain merusak halaman Gedung Putih, hanya karena ingin menunjukkan kehebatan dirinya di hadapan rakyat Amerika.

Yang saya anggap keberuntungan saya adalah karena saya bisa menikmati keindahan dan kebersihan kebun raya Sydney. Kebun raya Sydney juga beruntung, selama ini terhindar dari kunjungan presiden Bush yang membuat keonaran tidak hanya di Irak dan Afganistan. Untuk bisa ikut merasakan keberuntungan yang saya rasakan, mari kita saksikan foto-foto di bawah ini.
Akan tetapi sepulangnya dari kebun raya, saya baca surat Pak Agus tentang kebijakan pemerintah Australia, segera saya cari-cari bahannya. Karena saya yang agak awam mengenai kebijakan pemerintah, saya cari seadanya. Setahu saya, kebijakan pemerintah Australia banyak ditentukan oleh tiga unsur, yaitu politikus, media massa dan akademisi (kalau di Indonesia mungkin ditambah dua unsur lagi, yaitu ARTIS SINETRON dan PARANORMAL !)
Kalau mengenai pendapat pemerintahnya bisa dilihat dari dokumen resmi pemerintah Australia berjudul “2000 Defence White Paper”. Di situ disebut bahwa salah satu prioritas kebijakan pertahanan pemerintah Australia adalah ” to help foster the stability, integrity and cohesion of our immediate neighbourhood, which we share with Indonesia, New Zealand, Papua New Guinea, East Timor and the island countries of the Southwest Pacific”. Akan tetapi, beberapa kebijakan seperti pemberian visa Papua, nampaknya tidak mendukung integritas negara kita. Jadi konsistensi pemerintah Australia memang agak meragukan, bagaimana kalau kita jadi membuat pakta pertahanan yang akan (atau sudah ?) ditanda tangan.

Bisa juga dilihat dari Prof. Paul Dibb, dosen ANU, berjudul: The Arc of Instability and the North of Australia: Are they still relevant to Australia’s new Defence Posture?
Dalam tulisan itu, Prof Dibb menyatakan bahwa pemerintah Australia perlu membantu keberhasilan pemerintah Indonesia dalam menangani berbagai krisis, karena:
“if it fails, we could face the spectre of a nationalistic military state, perhaps attracted to fundamental Islam”.
Jadi dia menganggap bahwa justru kegagalan pemerintah Indonesia akan membuat Indonesia malah menjadi ancaman mahabesar yang tidak kepalang tanggung bagi Australia.
Akan tetapi dia menganggap bahwa tindakan militer secara sepihak juga mungkin dilakukan. Sehingga dia menyatakan bahwa ada kemungkinan (biarpun kecil) Australia perlu melakukan serangan terlebih dahulu (pre-emptive strike) ke wilayah negara tetangganya, tanpa ijin, bila dirasakan ada teroris yang akan mengancam Australia.
“But it is only likely to be in the most extreme circumstances that we would pre-emptively mount strikes, without the agreement of the host government, on terrorists aiming to wreak destruction in Australia”
Akan tetapi yang agak membingungkan bagi saya adalah pendapat professor Dibb ini, mengenai bagaimana bisa muncul suatu pemerintahan di Indonesia yang merupakan gabungan dari :
1. Nasionalisme
2. Militerisme
3. Fundamentalisme Islam
Mungkin professor itu ingin membandingkan nasionalismenya Presiden Sukarno (yang merebut Irian Barat dan mengadakan konfrontasi dengan Malaysia), militerisme presiden Soeharto (yang merebut Timor Timur) , dan fundamentalisme Islamnya Amrozi (yang menewaskan ratusan warga Australia). Kelihatannya agak mustahil membayangkan adanya figur yang merupakan gabungan dari tiga aliran itu . Akan tetapi saya mulai membayangkan, jangan-jangan selama ini dosen saya yang orang Australia pribumi menganggap saya sebagai mahasiswa Indonesia adalah seperti itu. Untunglah saya selama ini berteman dengan para mahasiswa Vietnam. Biarpun mungkin teman-teman ini berpaham nasionalis dan militeristis, tapi jelas-jelas mereka tidak akan membuat saya dicap sebagai “Islam fundamentalis”, karena teman-teman Vietnam saya semuanya berpaham komunis dan tidak beragama apa pun juga. He he he……

0 Comments:

Post a Comment

<< Home