Thursday, July 02, 2009

Kegagalan Yang Mengubah Dunia


Kita tahu bahwa baru saja Korea Utara melakukan percobaan bom nuklir. Berita itu saya dapat dari internet, ketika saya berada di perpustakaan kampus University of Sydney, yang konon perpustakaan terlengkap di belahan bumi selatan. Saat membaca artikel itu, tiba-tiba seseorang menyapa saya. Dia mahasiswi S2 asal Vietnam yang kuliah di Fakultas Ekonomi. Dia bilang bahwa setelah tidak tidur semalaman, dia akhirnya selesai membuat satu tugas makalah. Dia sudah menyerahkannya, tepat waktu pula. Hanya itu yang dia bilang. Tapi sebelum lantas pergi, dia berkata “...but, anyway, thanks for calling me !…”. Saya sebetulnya senang bila ada teman yang berhasil melakukan sesuatu upaya, tapi bila ada yang berterima kasih atas sesuatu yang sebetulnya hanya kebetulan saja saya lakukan, saya suka merasa tidak enak.
Kembali ke masalah nuklir, sebetulnya percobaan yang dilakukan Korea Utara itu ternyata gagal. Ledakan yang dihasillkan memang menghasilkan getaran yang dapat dideteksi sampai di negara tetangga, dan adanya limbah nuklir yang terbawa angin. Hanya kekuatan ledakan itu jauh lebih kecil dari daya ledak bom itu yang sesungguhnya. Akan tetapi menurut para ahli Amerika Serikat, dengan percobaan yang dianggap gagal itu saja, para ahli nuklir itu akan mendapat masukan berharga untuk menyempurnakan senjata barunya.
Berita tentang percobaan nuklir yang gagal di Korea Utara itu mengingatkan saya beberapa waktu sebelumnya, ketika ada pertemuan di International Office, sebuah lembaga di kampus saya. Lembaga inilah yang mengurusi segala macam urusan mahasiswa asing, baik yang hendak mendaftar, yang akan wisuda, yang menghadapi masalah, maupun mahasiswa asing yang suka mengasingkan dirinya sekalipun.
Di International Office itu, saya baru saja bertemu dengan seorang petugasnya, seorang wanita bernama Kim Hyun Ji. Dari namanya, saya semula mengira dia itu masih ada hubungan darah, atau bahkan, mungkin dia itu masih keponakannya Kim Jong Il, atau cucunya Kim Il Sung, para hulubalang dari negeri ginseng itu, padahal tentu saja bukan. Usianya mungkin hampir sama dengan saya. Rambutnya panjang sebahu. Gaun yang dipakainya berwarna biru, satu-satunya orang yang berbaju biru di kantor itu pada saat saya ke sana. Anehnya, dan kok bisa-bisanya juga, wajahnya mirip dengan wajah seseorang yang pertama kali saya jumpai belasan tahun yang lalu di Bandung. Tapi seseorang yang dulu saya temui di Bandung itu sekarang tidak tinggal di Bandung lagi. Dia tidak juga tinggal di Sydney menemani saya, apalagi tinggal di Pyongyang. Dia sekarang tinggal di suatu tempat, yang kalau saya sebutkan nama tempat itu, akan menggeser jalan cerita ini menjadi keluar dari konteks.
Kim menanyakan tentang pengalaman saya selama ini dan juga kemungkinan adanya kesulitan yang saya hadapi. Saya katakan bahwa saya sejauh ini tidak mengalami permasalahan yang berarti. Kalaupun ada permasalahan, mungkin cuma ketika beberapa makalah saya dikembalikan dosen karena kesalahan tatabahasa dan (yang sebetulnya fatal sekali !) alur berpikir yang tidak logis. Tentu saja bahasa Inggris bukan masalah bagi Kim karena dia lahir dan besar di Australia, dan logat bicaranya pun tidak berbeda dengan warga Australia berkulit putih. Dia hanya mengingatkan saja, “…if anything, let me know as soon as possible!”. Dia tidak ingin ada mahasiswa asing yang gagal karena permasalahan yang sebetulnya bisa diatasi, asalkan ada komunikasi yang baik.
Kegagalan merupakan suatu hal yang pasti sangat dihindari oleh setiap mahasiswa, apalagi mahasiswa asing di Australia. Perasaan terasing di tengah masyarakat yang berbeda budayanya, jauh dari keluarga dan terutama keharusan berbahasa asing, membuat kuliah di luar negeri menjadi terasa memberatkan.
Walaupun tidak ada yang ingin gagal, tapi sebenarnya ada kegagalan yang malah menjadi terkenal, dan setelah sekian lama berlalu, malah dianggap sebagai keberhasilan. Setidaknya dianggap sesuatu yang menyenangkan. Contoh kegagalan yang dianggap keberhasilan adalah penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus. Dia dianggap gagal dalam pelayarannya untuk mencari jalan pintas ke India. Padahal, perjalanannya memakan biaya sangat besar, bahkan Raja Spanyol pun kesulitan untuk menanggungnya. Sang raja baru bisa mendukung biaya itu setelah berhasil mengalahkan kerajaan Muslim di Granada.
Tapi apakah memang Columbus berhasil menemukan India ? Tentu saja tidak. Columbus dianggap gagal karena sebetulnya dia tidak menemukan India, melainkan dia sampai di sebuah benua baru. Dia tidak juga segera sadar akan kegagalannya. Baru beberapa waktu kemudian, ada seorang warga Itali bernama Amerigo Vespucci yang menyatakan bahwa tempat yang didatangi Columbus itu bukan India, melainkan sebuah benua baru. Nama dialah yang diabadikan menjadi nama benua itu, bukan nama orang yang pertama menemukannya. Walaupun begitu, sampai ratusan tahun sesudah orang menyadari kegagalan Columbus itu, kesalahan itu masih tetap diulang ketika orang masih tetap menggunakan istilah penduduk asli benua Amerika dengan sebutan “suku Indian”. Istilah itu mengacu pada kesalah kaprahan yang dilakukan Columbus, yang merasa bahwa dia sudah sampai di India.
Sekarang, setelah sekian ratus tahun berlalu, apakah kita masih menganggap bahwa kegagalan Columbus itu sesuatu yang merugikan, dan menyia-nyiakan kekayaan negara Spanyol ? Tentu saja tidak demikian. Kita umumnya menganggap bahwa pelayaran Columbus itu adalah suatu keberhasilan dalam menemukan daerah baru, suatu pembuktian bahwa bumi berbentuk bulat, dan terbukanya kesempatan baru untuk mencari kekayaan yang berujung pada kolonialisme bangsa Barat.
Untuk itu, tanpa bermaksud untuk mengabaikan keseriusan dalam setiap daya upaya kita, saya teringat bahwa banyak di antara kita ini yang saya sinyalir suka takut mengalami kegagalan, sehingga segan untuk melakukan inovasi. Bukankah inovasi itu salah satu dasar keberhasilan bangsa-bangsa yang sudah lebih dulu maju ? Bukankah inovasi seperti yang dilakukan Columbus itu semakin berkembang pesat di kalangan bangsa Barat semenjak itu sampai sekarang ? Sayangnya sebagian dari kita takut melakukan inovasi. Ketakutan itu kalau saya rumuskan menjadi berbunyi :
“Terlalu mudah berkata susah, tapi terlalu susah berkata mudah, padahal belum pernah mencoba “.
Kalau begitu, sejauh mana kegagalan itu dapat dianggap sebagai suatu suatu keberhasilan yang tertunda ? Berikut ini ada sejumlah cirinya:
1. Apabila kegagalan itu memotivasi kita untuk tetap maju
Selama kurang lebih empat puluh tahun ini, Amerika Serikat dan Rusia selalu bersaing untuk menjadi penguasa di luar angkasa. Pertama kali, Amerika gagal menjadi yang pertama mengirim antariksawannya, karena Rusia sudah lebih dahulu meluncurkan Yuri Gagarin. Tapi Amerika berhasil juga menyusul beberapa waktu kemudian.
Setelah gagal menjadi negara pertama yang meluncurkan antariksawan, AS berhasil mendaratkan manusia untuk pertama kalinya di bulan. Rusia gagal, dan tidak pernah lagi mencoba mendaratkan warganya di bulan. Akan tetapi Rusia menebus kegagalan itu dengan menjadi pemecah rekor manusia terlama di luar angkasa. Rekor terlama adalah 14 bulan di luar angkasa, suatu rekor yang belum bisa dipecahkan antariksawan AS sampai saat ini.
Dengan demikian, kegagalan yang dialami satu pihak, akan memotivasi untuk mengejar ketinggalan. Pihak yang sudah berhasil pun, tidak bisa lengah, karena esok lusa bisa jadi gilirannya yang dipecundangi oleh mereka yang kalah di hari ini.
2. Apabila dari kegagalan itu kita berhasil menemukan penyebabnya, sehingga menjadi bahan perbaikan bagi kegiatan di masa depan
Kita tentu mengenal penisilin, suatu obat dari jenis penisilin. Kegunaan obat itu adalah untuk membunuh bakteri. Pada mulanya, sang penemu penisilin, yaitu Alexander Flemming, menemukan penisilin dari kegagalan kultur bakteri. Suatu hari dia melihat bahwa sebagian kultur bakteri pada cawan petrinya gagal karena tercemar oleh bakteri lain. Setelah menyadari kegagalannya, dia melihat bahwa sebagian kultur bakteri itu tidak tercemar bakteri karena justru ada sekumpulan koloni kapang dalamnya. Ternyata kapang itu adalah Pennicilium notatum, yang biasa kita lihat berupa kapang berwarna hijau pada roti. Jamur atau kapang itu menghasilkan zat penisilin yang bisa membunuh bakteri. Dari kegagalan membiakkan bakteri itulah, Alexander Flemming menemukan obat baru yang sangat berguna.
Cerita ini memang mengandung pelajaran berharga. Akan tetapi bagi yang berkecimpung di dunia mikrobiologi tentu saja tidak layak untuk mencoba-coba memasukkan berbagai jenis mahluk ke biakan bakteri kita, dengan harapan menemukan sesuatu secara kebetulan. Apalagi sampai terkena percikan biakan bakteri patogen di badan kita, bukan lagi kegagalan, namun bencana akan menimpa kita !
3. Apabila dari kegagalan itu kita mendapatkan sesuatu yang semula terabaikan, tapi menjadi sesuatu yang berguna
Bagi warga kota besar di Indonesia, kue donat tentu sudah tidak asing lagi. Apalagi sekarang di Jakarta sedang terkenal suatu merk donat yang sangat digemari berbagai kalangan sehingga orang rela antri untuk mendapatkannya.
Padahal, kue donat itu berasal dari pemanfaatan sisa-sia roti yang sudah tidak terpakai lagi, mungkin yang gagal atau tidak mengembang. Pada abad ke-19, sejumlah pembuat roti di pesisir timur Amerika Serikat memanfaatkan sisa-sisa roti itu dengan menggorengnya. Dengan ditambah ramuan dan cara mengolah yang lebih baik, jadilah sisa roti itu menjadi jenis makanan baru yang laku terjual.
Memang tidak semua kegagalan harus membuat kita putus asa. Akan tetapi, janganlah sampai kita mengalami kegagalan seperti yang dialami seorang mantan presiden Irak yang sekarang sedang menjalani proses pengadilan. Dia betul-betul mengalami kegagalan total yang tidak kepalang tanggung. Dia sudah gagal, masih tertimpa tangga pula. Tapi kalau saja dia bisa mendapatkan pelajaran dari kegagalan besar itu, tentu saja dia juga akan mendapatkan hikmahnya.
Nah, sekarang, bagaimana setelah kita menyimak berbagai macam langkah yang bisa kita lakukan manakala kita mengalami kegagalan ? Tentu saja kita baru bisa melakukan langkah yang tepat, setelah kita memang mencoba melakukan sesuatu, dengan perhitungan yang matang. Tanpa pernah mencoba sesuatu, janganlah kita berharap bahwa kita mampu tetap tegak dalam menghadapi kegagalan.
Kalaupun, tapi tentu tidak kita harapkan, masih juga terjadi kegagalan, janganlah kita berkecil hati. Masih ada seribu satu langkah yang bisa kita lakukan, sehingga kita bisa tetap optimis. Bukankah Yang Maha Kuasa selalu menolong di saat kita gagal ? Berani berinovasi, dan mampu mengatasi kegagalan, modal yang sangat berguna bagi kita, yang hidup di dunia pendidikan jarak jauh. Terlebih lagi bagi saya pribadi, yang sedang menjalani pendidikan, di tempat yang jauh.


Sydney, 29 Oktober 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home