Tuesday, May 12, 2009

Di mana ibukota Myanmar sekarang ?

Ada cerita lagi tentang temen saya cewek. Yang satu ini orang Myanmar. Begini ceritanya, suatu hari kami sekelas di program orientasi mahasiswa internasional mengadakan ekskursi ke pantai Coogee, sebuah pantai di sebelah selatan Sydney. Semua ada dua puluhan orang, bersama tiga dosen. Pantai Coogee ini bagus sekali pemandangannya, sering dipakai orang berenang, menyelam dan selancar. Kadang-kadang sih, ada juga beberapa ikan hiu yang ingin ikut menemani manusia berenang, sambil mencari kesempatan buat memakan manusia yang lengah (menurut taksonomi Bloom, ikan hiu sudah mencapai tahap C5, yaitu “makan siapa ? ”). Kalau hal ini terjadi, pasti akan membuat para petugas bergegas menghalau ikan hiu yang tak tahu diri itu.

Di pantai ini juga banyak dijumpai ikan paus yang bermigrasi dari perairan kutub selatan menuju ke perairan yang lebih hangat di sebelah utara Australia. Selama bulan Juni sampai September sering dijumpai kawanan ikan paus di sini. Kalau kita melihat ikan paus di perairan selatan pulau Jawa , Bali atau kepulauan di NTT, mungkin ikan paus itu pula yang terlihat di Coogee ini.

Selain ikan hiu dan ikan paus, serta turis yang berenang ke sana kemari (apalagi nanti di musim summer), di sini ada juga sebuah monumen yang dibangun untuk memperingati bom Bali tahun 2002. Kebetulan, waktu kunjungan ke pantai Coogee itu hanya selang beberapa hari dengan dibebaskannya seorang ustad dari Solo yang dituduh terlibat kasus itu. Adapun penyebab dibangunnya monument itu karena kebetulan pada saat itu ada sekelompok muda-mudi dari sekitar pantai Coogee ini yang berombongan pergi bertamasya ke Bali. Tragisnya, mereka sedang berada di tempat kejadian ketika peristiwa mengerikan itu terjadi. Belasan orang (yang memang tinggal bertetangga di sekitar pantai ini) dari rombongan itu meninggal dunia. Untuk itu para tokoh masyarakat di wilayah ini membuat semacam monumen. Bentuk monumennya sederhana. Di sana dipasang foto para korban itu. Umur mereka masih belasan atau dua puluhan tahun. Dosen saya bilang “They were tragically trapped as victims of a war which they did not understand”. Mungkin yang dimaksud perang oleh dosen saya itu adalah jargon yang berbunyi “clash of civilization”, yang diangkat oleh seorang penulis Amerika Serikat. Saya segera bergegas berjalan lagi, khawatirnya banyak orang membuka pembicaraan dengan saya mengenai asal muasal teror itu, para pelakunya, motivasi para pelaku dan kaitannya dengan sebuah kota di Jawa Tengah itu.

Sesudah berjalan di pesisir pantai, barulah tiba saat istirahat. Kebetulan pada waktu istirahat saya duduk berdekatan dengan si cewek Myanmar itu, dan teman-teman lainnya tentu, sambil makan siang. Nama orang Myanmar ini mirip dengan nama seorang tokoh wanita prodemokrasi Myanmar yang terkenal itu. Kalau mukanya, agak mirip sedikit dengan teman kuliah S1 saya waktu di Bandung dulu. Dia seorang dokter, di sini ambil jurusan master of public health. Berarti jurusan S1 dan S2, serta bidang pekerjaannya sama, mungkin dia bisa digolongkan sebagai “sumber”. Ya, mungkin orientasinya untuk jadi kepala puskesmas atau rumah sakit, di negaranya sana. Atau mungkin juga, jadi menteri kesehatan. Bukankah cita-cita tinggi, yang setinggi langit sekalipun, sering diawali dari hal-hal kecil yang tidak terduga ? Memang kalau kita bicara tentang hal-hal yang tak terduga, banyak contohnya. Dia bilang bahwa dia bisa berangkat hingga sampai ada di Sydney juga tidak terduga-duga. Studinya di University of Sydney ini disponsori oleh ADB (Asian Development Bank), berbeda dengan beasiswa saya dari pemerintah Australia, yang disingkat APS (ini bukan singkatan dari “Asal Pengelola Saja” lho !). Dia sudah berkeluarga, tapi belum punya anak. Saya tanya juga apa nanti suaminya ikut menemani kuliahnya, seperti hampir semua mahasiswa APS yang sudah berkeluarga. Katanya suaminya tidak akan menemani dia selama kuliah. Alasannya, pertama karena beasiswa ADB tidak menanggung biaya hidup anggota keluarga. Alasan lain, karena pemerintahnya tidak mengijinkan pegawai negeri tinggal di negara lain. Bagi saya tentu alasan yang kedua ini aneh sekali. Bagaimana mungkin satu negara melarang pegawai negerinya tinggal di negara lain ? Mau saya tanyakan tapi agak segan, karena teman saya dari Uzbekistan pernah berkata bahwa “Most people in Myanmar actually have no objection to their military dictator”. Saya takut pertanyaan saya bakal menyinggung perasaannya. Gawat kan, kalau dia tersinggung, lalu tidak mau berteman lagi dengan saya ? Apalagi kalau sampai dia akhirnya menangis tersedu-sedu dan berlinang air mata, tidak terbayangkan rasanya. Tidak ada yang bisa mengobati rasa sedih saat kita jauh di rantau. Itu pasti bakal membuat heboh program orientasi ini, yang selama ini saya rasakan sangat menyenangkan. Lebih baik saya mengganti pertanyaan. Jadinya saya tanya saja nama ibukota Myanmar, pertanyaan sederhana seringkali bisa mengakrabkan sesama kita, bukan ? Setahu saya ibukota negaranya baru pindah ke satu kota lain di sebelah utara negaranya. “Is it true, that the capital has been moved from Yangoon to another city ?”, tanya saya. Dia senang karena ada orang asing yang tahu kabar berita dari negaranya. Saya ajukan satu pertanyaan lagi, “What is the name of the city ?”. Dia menjawab dengan menyebut nama kota yang saya tanyakan. Sayang sekali, saya kurang jelas mendengarnya. Saya tanya lagi, dia menyebutkan nama kota itu lagi. Saya masih tetap kurang jelas, biarpun saya sudah mendengar nama kota itu sebanyak dua kali. Untuk bertanya lagi, saya agak segan. Terpaksalah saya akhirnya pulang sesudah lelah berjalan kaki dari pantai Coogee hingga pantai Bondi, tanpa ada jawaban buat pertanyaan saya sendiri, yang sebetulnya sudah terjawab. Menyedihkan bukan, kita sudah mendapat jawaban atas pertanyaan kita, tapi kita masih belum paham maksud jawaban itu ?

Nah, karena itu, barangkali teman-teman ada yang tahu, di mana ibukota Myanmar sekarang ? Kalau ada yang tahu, boleh kirim jawaban by email.

Sydney, 19 Juli 2006

Acara Dugem

Acara dugem di sini agak dangkal. Sampai satu jam cuma DJ saja yang nampak di panggung, memutar lagu-lagu house music yang hingar bingar, semarak dihiasi lampu temaram. Buat saya ini terasa membosankan. Mbakyu-mbakyu dari Vietnam sudah pulang duluan. Kesimpulan mereka sama dengan saya. Daripada memutar lagu house yang hingar bingar tidak karuan, lebih baik satu persatu hadirin dipanggil tampil ke depan.

Ada satu teman yang saya sapa, ternyata dia dari Iran. Kuliahnya master di bidang akunting. Saya bilang padanya bahwa baru saja presidennya berkunjung ke Indonesia. Saya sampaikan juga berita bahwa sambutan buat presidennya sangat luar biasa hangat di Indonesia. Dia kelihatan senang mendengarnya. Saya juga senang berbicara dengannya, karena pembicaraan dilakukan di tengah suara musik yang hingar bingar. Suara musik itu seakan-akan menyamarkan ucapan bahasa Inggris saya, jadi kalau tidak “fluent” pun tetap kedengaran “allright”.

Tapi anehnya, waktu saya tanyakan kesannya mengenai presidennya sendiri, dia malah merasa tidak terlalu suka. Dia bilang bahwa presidennya itu tokoh populis, jadi ingin mencari kemasyhuran melalui retorika yang berapi-api. Padahal menurut dia, rakyat tidak perlu retorika seperti itu. Rakyat perlu kemakmuran, terutama di bidang perekonomian. Karena topiknya semakin menarik, saya tanya sekalian kesannya tentang bagaimana kalau hubungan Iran dengan Amerika dibuka kembali. Dia setuju, alasannya karena Amerika adalah superpower. Tidak ada satu negara di dunia yang bisa menghindari Amerika. Saya tanya lagi dengan pertanyaan yang lebih menusuk, yaitu bagaimana kalau Iran berhubungan dengan Amerika, pasti Amerika meminta Iran mengakui Israel. Dia bilang bahwa Israel tidak butuh pengakuan dari Iran. Lagipula, selama sekian puluh tahun ini Israel sudah berdiri, hal ini merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Tidak lama dia pulang. Kesannya tentang acara dugem ini sama dengan teman Vietnam, yaitu membosankan. Saya hibur dia dengan ucapan bahwa mungkin beginilah cara orang Australia berpesta pora.
Acara dugem terus berlanjut. Kini acaranya berupa spontanitas. Spontanitas ini berupa pemanggilan empat orang mahasiswa asing untuk naik ke panggung. Semua ada 4 orang yang dipanggil, semuanya cewek. Ternyata di panggung mereka cuma disuruh mengucapkan ucapan khas Australia, “G’day, mate !”.
Sebetulnya saya ingin pulang juga, tapi ternyata saya lihat teman saya orang Amerika baru saja datang. Akhirnya kami bicara lama. Temannya ada dua orang, yaitu Blake, dari Seattle dan Steven. Blake senang sekali waktu saya bilang bahwa di kotanya itu ada pabrik pesawat terbang Boeing. Sedangkan Steven ternyata sudah lama tinggal di Ausi dan punya banyak saudara di beberapa kota di Ausi ini. Kedua orang itu mendalami bidang hubungan internasional. Tidak lama datang Many dan mengenalkan temannya, yaitu Sergio dari Argentina. Saya bilang pada Sergio, “You lost the World Cup !”. Tapi dengan ringan dia bilang “ No, we give the opportunity to somebody else”,seakan-akan gelar juara dunia sepakbola itu bukan apa-apa bagi salah satu negara superpower di bidang sepakbola.

Pada Sebuah Laptop

Salah satu teman saya sesama mahasiswa beasiswa Ausaid adalah salah satu cewek dari Vietnam. Dia bekerja di jajaran Departemen Perdagangan di negaranya. Jurusan yang ditempuh adalah master di bidang bisnis internasional. Usianya relatif muda karena baru lulus sarjana pada tahun 2003. Dia pernah berkunjung dalam rangka dinas ke sejumlah negara seperti Inggris, Belanda, dan ….satu negara yang juga pernah saya kunjungi, yaitu India. Senang sekali rasanya, bisa bertemu dengan sesama orang yang pernah berkunjung ke sana. Dia menunjukkan foto-fotonya, baik yang ada di album, maupun yang ada di laptop. Foto-foto itu tentang kunjungannya di India. Dia tinggal di sana selama dua bulan, dalam rangka mengikuti suatu pelatihan. Di sana, dia sempat berkunjung ke Agra untuk melihat Taj Mahal, berkunjung ke kota Jaipur yang terkenal dengan sebutan “Pink City” karena banyak bangunan kuno dari bata merah, dan ke kota penghasil film terbesar di dunia, yaitu Mumbai. Saya jadi berkhayal, bagaimana seandainya dulu saya juga sempat mengunjungi kota-kota itu, betapa gembiranya hati saya. Akan saya ceritakan pada dunia, setidaknya pada teman-teman dan handai taulan, agar mereka ikut gembira.
Kami ngobrol di kampus yang dihiasi gedung-gedung megah. Sewaktu dia menawarkan makanan ringan kepada saya, saya tanyakan, makanan apa yang dia tawarkan, takutnya mengandung jenis makanan yang tidak halal. Dia lalu bertanya agama saya. Waktu saya balik bertanya agamanya, dia bilang bahwa dia tidak punya agama ! Bahkan katanya, semua teman-teman senegaranya yang ikut program beasiswa Ausaid juga tidak ada yang beragama. Mungkin karena dia hidup di negara yang menganut paham komunis. Walaupun sikapnya selalu baik, dan dia juga berkata bahwa dia percaya akan adanya Tuhan, hati kecil saya merasa bersyukur karena saya dibesarkan di negara yang melarang paham sesat seperti itu. Tapi saya tidak sempat menanyakan hubungan antara ketidak beragamaannya itu dengan paham politik di negaranya, karena dia mengaku tidak suka bicara tentang politik.
Biarpun dia tidak suka bicara politik, obrolan kami segera beranjak ke situasi politik di negara masing-masing. Obrolan pun mengarah ke masalah terorisme, berupa pemboman yang terjadi di London, Mumbai (kota-kota yang pernah dia kunjungi) dan Bali. Tentu saja, percakapan menjadi kurang mengenakkan bagi saya, karena mau tidak mau obrolan menjadi mengarah ke para pelakunya dan agama yang dianut para pelakunya.. Sulit bagi saya untuk menjelaskan mengapa ada keyakinan seperti yang dianut para teroris itu, tanpa mengaitkan dengan ajaran agama tertentu. Apalagi penjelasan seperti itu harus dijelaskan pada orang yang tidak menganut suatu agama pun. Biarpun tidak mengenakkan, saya rasakan bahwa paham politik yang berlaku di negaranya itu juga tidak lebih baik daripada aksi yang dilakukan para teroris itu. Tapi untung saja, saya lihat di layar laptopnya ada foto dia sedang berdua dengan seorang pemuda gagah, yang pasti pacarnya. Segeralah saya alihkan jalan cerita ke arah sesuatu hal yang pasti lebih menarik baginya.
Dia bercerita tentang boyfriendnya (begitu istilah dia untuk sang pacar), seorang keturunan Vietnam yang berkewarganegaraan Norwegia. Karena ingin memperjelas, dia kembali mengaduk-aduk folder di laptopnya. Laptopnya itu lebih bagus dan lebih mahal dari laptop saya, yang merknya cuma ECS (ecek-ecek saja). Selain foto sang cowok, ditunjukkan pula foto-foto kampung halaman dan sanak saudaranya. Saya agak heran karena dia berfoto dengan latar belakang tanaman labu siam di halaman rumahnya. Mungkin labu siam itulah makanan kesukaannya, hingga fotonya pun sampai dibawa merantau ke Australia.
Kami bicara tentang kehidupan di negara masing-masing. Dia mengaku sebagai pegawai negeri berijasah sarjana hanya mendapat gaji US $ 40 perbulan. Jelas termasuk rendah, tapi dia punya sepeda motor sendiri, dan di rumahnya ada sambungan internet, lengkap dengan webcamnya, lumayan bukan ! Setidaknya dengan webcamnya itu dia bisa asyik bercengkerama dengan boyfriendnya yang tinggal di Norwegia itu. Maklumlah, dia itu termasuk golongan PTJJ (Punya Tunangan Jarak Jauh).
Perjumpaannya dengan sang boyfriend juga katanya diawali dari kontak email, yang pasti pernah sekali waktu dilangsungkan dari laptop kesayangannya itu. Alkisah, entah dari mana asal mulanya, dia bercerita bahwa tiba-tiba saja ada yang mengirim email kepadanya. Suatu kebetulan yang nyaris mustahil ditemui di jaman serba canggih seperti ini. Dia katakan bahwa email itu dari seorang cowok yang ganteng (mestinya bayangan dia begitu) , yang mencari seseorang yang bisa mengajari bahasa Vietnam. Dia segera menjawab email itu.Teman saya itu menjawab bahwa dia ingin mencari seseorang yang bisa mengajari bahasa Inggris. Akhirnya mereka berkiriman email. Setelah lama hanya berkiriman email, akhirnya mereka berkopi darat di kota Ho Chi Minh, ketika pemuda ganteng (setelah dia tunjukkan fotonya di laptop kepada saya) itu berkunjung ke sana.
Dia rencananya menikah pada bulan Juli ini. Tapi entah karena kurang perencanaan, atau memang karena sudah suratan nasib, pada bulan Juli ini dia sudah berada di kota Sydney, padahal, sang calon suami dan orangtuanya sudah berada di Vietnam. Justru orang tuanya sudah pernah bertemu dengan orang tua sang calon suami, sedangkan teman saya itu malah belum pernah bertemu calon mertuanya. Walaupun rombongan calon pengantin pria sudah datang ke Vietnam, terpaksa mereka kembali lagi ke Norwegia dengan tangan hampa karena calon pengantin wanita sudah terlanjur berangkat ke Australia. Tentu saja mereka kecewa berat. Apalagi, rencana pernikahan menjadi tertunda, dan baru bisa diselenggarakan satu setengah tahun lagi, sepulangnya dia ke negaranya.
Sambil bercerita tentang kisah sedihnya itu, kembali dia tunjukkan foto-foto di laptopnya, kali ini foto model-model gaun pengantin yang akan dikenakan di hari bahagianya. Dia tunjukkan pula foto-foto model cincin kawin yang semula akan disematkan di jari manisnya. Untung saja, dia menunjukkan foto-foto persiapan hari pernikahan yang gagal itu, tanpa berlinang air mata. Kalau sampai itu terjadi, saya takut nanti laptopnya basah terpercik air matanya, sehingga rusak. Lalu kalau itu terjadi, dia tidak bisa lagi chatting dengan boyfriendnya. Tanpa chatting dengan laptop berikut webcamnya itu, tentu dia akan bisa kehilangan wajah pujaan hatinya itu. Karena itu saya segera pulang, dia juga pulang. Apalagi karena hari sudah sore.
Sesampai di rumah, segera saya hidupkan laptop kesayangan saya sendiri. Di laptop itu, saya tuliskan satu cerita indah buat mereka-mereka yang sangat saya sayangi, yang kini jauh di tanah air.


Sydney, 23 Juli 2006

Alasan Saya Tidak Suka Menonton TV Di Australia

Sampai sekarang saya masih segan menonton acara TV Australia bersama-sama orang lain, apalagi bersama orang Indonesia, terlebih lagi bersama sobat-sobat Australian Partnership Scholarship. Alasan saya sederhana sekali. Setiap saya menonton TV, yang siarannya sudah pasti berbahasa Inggris, saya masih saja belum bisa menangkap isi pembicaraannya. Akibatnya, terutama kalau ada kata-kata lucu, semua orang sudah tertawa terpingkal-pingkal, tapi saya sendiri masih bengong sendirian. Bahkan kalau mereka selesai tertawa, lalu melihat saya tidak ikut tertawa, rasanya mereka seperti tertawa untuk kedua kalinya, sekali ini untuk mentertawakan saya. Betapa tidak nyamannya perasaan saya. Rasanya hati seperti disayat sembilu. Kalau saya menonton TV bersama native speaker dan saya sendiri yang tidak paham, mungkin masih bisa dimengerti. Tapi ketika bersama teman serombongan yang datang ke Australia bersamaan, yang dulunya mengikuti kursus bahasa Inggris bersama-sama, dan memiliki nilai IELTS yang hampir sama, namun bedanya mereka semua sudah cukup mahir memahami percakapan di TV, tentu saja kekurangan saya ini menjadi sesuatu yang tidak umum. Hal ini masih saya alami sampai sekarang yang sudah menginjak bulan kedua selama tinggal di kota Sydney, sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Betapa menyebalkannya, tapi saya tidak bisa marah kepada siapa-siapa, karena penyebabnya ada dalam diri saya sendiri.
Sebetulnya, berbagai cara sudah saya lakukan. Apalagi kalau untuk berbicara, saya merasa sudah agak “percaya diri”. Saya sudah biasa berbelanja di toko atau menanya arah dan nama jalan. Bahkan berbicara di berbagai forum diskusi dan seminar pun sudah berkali-kali saya lakukan dengan santai. Tapi betapa pun santainya saya dalam hal berbicara (dan mendengarkan pembicaraan lawan bicara tentunya), tetap saja saya kedodoran kalau sudah ikut kegiatan menonton TV.
Teman saya cewek Thailand, tahu kalau saya tidak tertawa ketika ada suatu adegan film yang lucu. Saya bilang terus terang bahwa sebetulnya saya sangat tidak nyaman, manakala merasa bingung sendirian di saat semua orang tertawa bahak-bahak, sedangkan saya sendiri, tersenyum pun tidak sedikitpun. Dia sih maklum saja, karena dia sudah lima tahun di Ausi. Anehnya, dia malah justru memuji-muji saya , katanya saya ini orangnya baik. Biarpun saya senang tidak kepalang, pujian ini tidak relevan dan tidak memecahkan masalah. Untunglah, akhirnya dia menganjurkan saya untuk menonton video bersambung, yang judulnya “Friend”. Saya bilang bahwa saya tidak suka menonton film seperti itu. Saya tidak berani bilang bahwa jalan cerita film itu terlalu dangkal, bertele-tele dan hanya membesar-besarkan masalah kecil saja. Tidak jauh beda dengan perilaku sejumlah tokoh tertentu yang sering kita baca atau dengar dari media massa. Cewek Thai itu lalu bertanya, apa sejak dari Indo dulu saya tidak suka menonton film berbahasa Inggris. Saya jawab bahwa saya hanya kadang-kadang saja menonton film berbahasa Inggris, itupun hanya film yang jenisnya laga, sehingga tidak terlalu banyak menggunakan percakapan dalam bahasa inggris yang rumit. Saya ceritakan bahwa film kesukaan saya adalah film India, bukan film berbahasa Inggris. Apalagi tujuan saya menonton film India itu bukanlah untuk mengikuti jalan ceritanya, yang tentu saja, sangat bertele-tele dan dangkal juga. Tujuan saya menonton film tersebut memang hanya untuk menonton tarian dan mendengar lagunya yang seakan membawa kita ke alam khayal, hingga terbawa mimpi. Akibatnya, ya sudah jelas, selama di Indonesia belum cukup ada proses pembelajaran untuk mampu mendengar percakapan di TV. Apa mau dikata, sudah terlambat semua upaya karena sekarang saya sudah berada di negeri seberang, yang semua orangnya berbahasa Inggris, baik yang orang dewasa maupun anak-anak. Bahkan balita di Ausi pun sudah mampu berbicara bahasa Inggris, tentu saja bahasa anak-anaknya.
Ada teman saya satu lagi, cewek Indonesia yang ikut memberi saran. Berbeda dengan saya yang kuliah di University of Sydney, dia kuliah di UTS (sering dibilang singkatan dari University Tetangganya Sydney, karena kampusnya berdekatan dengan kampus saya). Dia justru menganjurkan saya agar justru lebih banyak menonton TV. Sayangnya, ide baik itu dilontarkan sambil dia menyodorkan pada saya satu paket makanan suplemen yang mujarab untuk membesarkan otot dan menambah berat badan ! Biarpun idenya itu di luar konteks, saya rasa dia juga ingin mengingatkan bahwa selain masalah bahasa, saya dianggap perlu menambah berat badan agar nampak lebih sehat dan meyakinkan, sepulangnya dari Australia. Maklum, selain kemampuan listening, postur tubuh saya juga dianggap yang paling memprihatinkan di antara semua teman serombongan mahasiswa program Ausaid.
Bagaimanapun juga, sebagai orang yang berpikiran optimis, saya merasa tidak pantas untuk berputus asa, hanya karena kelemahan dalam bidang listening. Untuk itu ada dua cara yang saya tempuh:
Menonton TV sendirian
Jadi kalau ada adegan lucu dan saya tidak tertawa, saya tidak merasa malu. Tidak ada orang lain yang tertawa, yang bisa membuat hati saya terluka. Dengan demikian saya tetap dapat belajar mendengarkan percakapan berbahasa Inggris, tanpa harus merasa malu.
2. Ikut diskusi
Saya sering ikut diskusi, baik diskusi dengan teman , maupun ikut dalam forum diskusi resmi. Acaranya macam-macam, baik mengenai politik, yang sering diadakan para penganut ajaran sosialis, program bantuan pemerintah Australia kepada negara berkembang, sampai ke seminar biologi yang diadakan di rumah sakit kampus. Saya berusaha untuk selalu bertanya dalam setiap kesempatan. Modalnya hanya satu, yaitu rasa tidak bersalah yang sedemikian super. Jadi kalau saya merasa bahwa kata-kata saya sudah jauh melenceng dari arah pembicaraan lawan bicara, ya sudah, saya berhenti bicara. Sengaja saya biarkan saja orang lain yang kebingungan. Berbeda dengan saat menonton TV, kalau pun ada yang mentertawakan, atau bahkan menghujat saya dalam sebuah diskusi atau seminar, saya tidak pernah merasa rendah diri.
Kedua cara itu sudah saya lakukan selama dua bulan ini. Untuk bisa bicara dengan teman dari Vietnam atau Thailand memang cukup lumayan. Tapi untuk bisa mengerti acara TV Australia, tentu masih perlu waktu. Selama masih menjadi bulan-bulanan orang lain dalam hal kemampuan listening, saya jadi ingat satu kalimat dalam sebuah lagu Amerika yang berbunyi “time can do so much”. Kalimat itu membuat saya merasa masih punya harapan. Jadi, saya ucapkan, have a good time !

Sydney, 25 Juli 2006