Rapat Mahasiswa Terganggu Mahasiswa Asing

Bahkan di Sydney ada satu wilayah (istilahnya “suburb”) bernama Marrickville, penghuninya banyak orang Vietnam. Banyak juga toko yang berjualan barang atau produk khas Vietnam. Apalagi restoran Vietnam, jelas banyak sekali. Sayangnya saya tidak pernah makan di restoran Vietnam. Bukan karena hanya menunggu ditraktir orang, tapi menyangkut hal-hal lain. Urusan makan di suatu tempat tertentu, dalam Taksonomi Bloom, akan berkaitan dengan pertanyaan tingkat C4, yaitu “makan dengan siapa ?”. Nah…..
Jadi itu alasannya kenapa dalam tulisan saya sebelumnya, selalu berisi cerita tentang orang-orang dari negara tersebut. Tidak ada maksud apa-apa. Lagipula, kalau saya cerita tentang kehidupan warga pribumi Australia, tentu sudah tidak aneh lagi. Tapi warga pribumi ini maksudnya yang berkulit putih atau keturunan Eropa. Kalau yang pribumi aborijin, ceritanya bukan aneh lagi, tapi parah !
Kembali ke urusan rapat senat mahasiswa, nama organisasi senat itu adalah SUPRA, singkatan dari Sydney University Postgraduate Representative Association.
Rapat itu diadakan karena mereka akan mengadakan seminar akademik mahasiswa pascasarjana. Yang hadir adalah para pengurus senat ditambah beberapa mantan pemakalah pada seminar tahun lalu. Saya datang sebagai mantan pemakalah. Waktu itu saya menyampaikan makalah berjudul “bla bla bla bla……in Open University of Indonesia”.
Rapat dihadiri oleh ketua senatnya, istilah di sini president, yang dijabat oleh Jenny Leong. Dia keturunan Tionghoa yang fasih berbahasa Inggris, “….My father is a Malaysian Chinese, but I was born here”, begitu rahasianya, sehingga dia pintar berbahasa Inggris. Hilang sudah keinginan saya untuk mengikuti jejaknya dalam belajar bahasa Inggris, sehingga bisa sefasih dia. Sekarang ini dia sedang ambil PhD tentang sastra Perancis.
Yang memimpin rapat adalah Richard, ketua bidang publikasi, yang sedang menempuh PhD bidang hukum. Adapun jumlah hadirin ada sekitar belasan orang. Dari raut muka dan logat bicaranya, sebagian besar memang international student. Para international student ini kelihatan dari negara Asia semuanya, tidak ada dari Afrika, atau Eropa/Amerika. Sebagian dari keturunan India, yang bahasa inggrisnya memang bagus, seperti para pemain dalam film-film Bollywood. Sisanya dari wilayah Asia Timur dan Tenggara, termasuk saya, memang lebih banyak senyum daripada bicara. Maklum kami mahasiswa Asia Timur/Tenggara ini bahasa Inggrisnya masih tergolong “abrakadabra” semua, buat ukuran warga pribumi.
Di sebelah saya duduk seorang mahasiswi PhD dari RRC, salah satu pengurus Supra. Dia pakai kacamata. Kuliahnya adalah di Faculty of Arts, sudah tentu dia termasuk research student, karena semua program PhD setahu saya adalah by research. Dia datang karena mungkin acara seminar ini biasanya identik bagi mahasiswa master & PhD yang by research. Tapi tahun ini seminar akan digalakkan bagi mahasiswa coursework.
Oh ya, di kampus saya ini, program pascanya terbagi dua, yang by research (PhD dan master) dan yang by coursework (hanya master saja). Saya ambil yang coursework, karena lebih cepat selesai, tidak perlu bikin penelitian, malah tidak perlu ada examination, dan yang lebih asyik lagi, kebanyakan kuliahnya online. Karena banyak kesempatan berhaha hihi dan ketawa ketiwi, tidak heran suka dibilang program “master by pleasure”.
Kembali ke masalah teman dari RRC itu, sebetulnya saya jarang bicara dengan dia. Ada banyak alasan. Pertama karena berbeda fakultas, jadi jarang jumpa. Kedua, masing-masing lebih ahli berbicara dalam bahasa nasional masing-masing. Lagipula, tentu dia tidak nyaman kalau saya ajak bicara mengenai dunia PTJJ. Misalnya, saya ajak dia bicara tentang peningkatan kualitas akademik, manajemen internal atau peningkatan partisipasi mahasiswa.
Soal penampilannya sih, dia biasa-biasa, seperti umumnya para pendatang di kota Sydney. Rambutnya diikat ke belakang, jadi dia kelihatan agak “childish”, biarpun sudah jadi mahasiswa PhD. Seperti biasa, dia pakai baju warna pink. Setiap ketemu dia, saya lihat dia selalu pakai baju warna pink. Mungkin dia penggemar warna pink. Bisa juga baju yang dia punya semua berwarna seperti itu. Atau, kemungkinan terburuk, (walaupun kecil kemungkinan ada keburukan pada orang sebaik dia) adalah bahwa baju yang dia pakai adalah selalu yang berwarna pink itu , tidak pernah dicuci. Tapi kemungkinan itu nyaris mustahil bukan ?
Setelah hadirin berkumpul mengelilingi meja, Richard membuka rapat,. Lalu dia menjelaskan mengenai maksud diadakannya rapat, yang sudah pasti adalah mempersiapkan seminar akademik. Seminar itu berupa seminar lintas bidang ilmu, berbeda dengan seminar yang diadakan di fakultas, misalnya seminar membahas proposal thesis atau disertasi. Seminar di fakultas bersifat spesifik bidang ilmunya, dihadiri oleh sejawat dalam bidang ilmu, dan dimaksudkan untuk memberi masukan atau memberi penilaian atas kemajuan yang sudah dicapai dalam penulisan thesis/disertasi itu. Adapun seminar akademik yang akan kami adakan itu berupa wahana komunikasi lintas bidang studi, penyampaian gagasan kepada khalayak luas dan penyampaian layanan dari Supra kepada mahasiswa pasca pada umumnya.
Usai Richard bicara, kesempatan diberikan kepada forum untuk ikut urun bicara. Eh, ternyata semua bungkam, maklum seperti yang saya sampaikan sebelumnya, kebanyakan mahasiswa international memang agak pasif dalam berbicara. Teman orang RRC ini pun hanya senyum-senyum saja. Tapi bukan tersenyum kepada saya, saya tahu pasti. Dia tersenyum kepada Jenny, yang akhirnya lalu bicara menambahkan informasi pada paparan yang disampaikan Richard. Begitu selesai bicara, Jenny langsung bertanya kepada saya “What ‘s your opinion Diki ? Based on the previous seminar ?” Ah…, saya baru ingat, bahwa ternyata dari para hadirin itu hanya saya sendiri, dan Jenny, yang menjadi pemakalah atau pun hadirin pada seminar tahun lalu. Pantas banyak yang diam, termasuk yang orang Australia asli juga. Kalau para international student banyak yang pasif, itu memang karena masalah bahasa, apalagi para PhD candidate, yang sangat ahli dalam menulis makalah, tapi jarang berhaha hihi di kampus. Sedangkan mahasiswa pribumi yang hadir dalam rapat memang kebetulan adalah mereka yang tidak mengikuti seminar tahun lalu.
Mau tidak mau saya jadi yang pertama bicara, setelah Richard dan Jenny. Itu pun karena pertama saya disapa oleh Jenny. Kalau tidak, mungkin ya cuma ikut senyum saja. Saya jelaskan pengalaman saya. Lalu saya tambah basa-basi, yang pas buat ukuran bangsa Ozz. Setelah itu pun, menjelang akhir rapat, saya juga masih menyampaikan beberapa pendapat lagi, jadi kelihatannya saya kan aktif dalam rapat itu.
Teman-teman, berdasarkan pengalaman itu, beruntung sekali, selama di UT saya selalu rajin ikut rapat. Ternyata, apa yang kita lakukan di UT itu memang banyak berguna, selama di negeri orang. Jadi selain kemampuan bahasa Inggris, kita juga harus punya rasa percaya diri yang agak tinggi untuk bisa bicara di depan orang banyak. Rasa percaya diri itu tidak gampang dibentuknya. Saya juga tidak otomatis langsung “mak jegagik” bisa percaya diri bicara di depan orang banyak. Saya juga sering salah ucap, atau kehilangan kata-kata yang sebetulnya saya sudah tahu, selama bicara di depan umum. Lebih parah lagi, kadang-kadang para hadirin itu salah mengartikan kata-kata saya. Tapi kalau kita rajin ikut rapat, seperti di UT, insya Allah kita akan terbiasa juga untuk berbicara dengan rasa percaya diri. Mungkin itu maksud pimpinan kita sering mengadakan rapat. Jadi kalau nanti saya sudah pulang lagi di UT, jangan segan-segan mengundang saya untuk ikut rapat, I’m coming..…..



