Tuesday, May 12, 2009

Acara Dugem

Acara dugem di sini agak dangkal. Sampai satu jam cuma DJ saja yang nampak di panggung, memutar lagu-lagu house music yang hingar bingar, semarak dihiasi lampu temaram. Buat saya ini terasa membosankan. Mbakyu-mbakyu dari Vietnam sudah pulang duluan. Kesimpulan mereka sama dengan saya. Daripada memutar lagu house yang hingar bingar tidak karuan, lebih baik satu persatu hadirin dipanggil tampil ke depan.

Ada satu teman yang saya sapa, ternyata dia dari Iran. Kuliahnya master di bidang akunting. Saya bilang padanya bahwa baru saja presidennya berkunjung ke Indonesia. Saya sampaikan juga berita bahwa sambutan buat presidennya sangat luar biasa hangat di Indonesia. Dia kelihatan senang mendengarnya. Saya juga senang berbicara dengannya, karena pembicaraan dilakukan di tengah suara musik yang hingar bingar. Suara musik itu seakan-akan menyamarkan ucapan bahasa Inggris saya, jadi kalau tidak “fluent” pun tetap kedengaran “allright”.

Tapi anehnya, waktu saya tanyakan kesannya mengenai presidennya sendiri, dia malah merasa tidak terlalu suka. Dia bilang bahwa presidennya itu tokoh populis, jadi ingin mencari kemasyhuran melalui retorika yang berapi-api. Padahal menurut dia, rakyat tidak perlu retorika seperti itu. Rakyat perlu kemakmuran, terutama di bidang perekonomian. Karena topiknya semakin menarik, saya tanya sekalian kesannya tentang bagaimana kalau hubungan Iran dengan Amerika dibuka kembali. Dia setuju, alasannya karena Amerika adalah superpower. Tidak ada satu negara di dunia yang bisa menghindari Amerika. Saya tanya lagi dengan pertanyaan yang lebih menusuk, yaitu bagaimana kalau Iran berhubungan dengan Amerika, pasti Amerika meminta Iran mengakui Israel. Dia bilang bahwa Israel tidak butuh pengakuan dari Iran. Lagipula, selama sekian puluh tahun ini Israel sudah berdiri, hal ini merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Tidak lama dia pulang. Kesannya tentang acara dugem ini sama dengan teman Vietnam, yaitu membosankan. Saya hibur dia dengan ucapan bahwa mungkin beginilah cara orang Australia berpesta pora.
Acara dugem terus berlanjut. Kini acaranya berupa spontanitas. Spontanitas ini berupa pemanggilan empat orang mahasiswa asing untuk naik ke panggung. Semua ada 4 orang yang dipanggil, semuanya cewek. Ternyata di panggung mereka cuma disuruh mengucapkan ucapan khas Australia, “G’day, mate !”.
Sebetulnya saya ingin pulang juga, tapi ternyata saya lihat teman saya orang Amerika baru saja datang. Akhirnya kami bicara lama. Temannya ada dua orang, yaitu Blake, dari Seattle dan Steven. Blake senang sekali waktu saya bilang bahwa di kotanya itu ada pabrik pesawat terbang Boeing. Sedangkan Steven ternyata sudah lama tinggal di Ausi dan punya banyak saudara di beberapa kota di Ausi ini. Kedua orang itu mendalami bidang hubungan internasional. Tidak lama datang Many dan mengenalkan temannya, yaitu Sergio dari Argentina. Saya bilang pada Sergio, “You lost the World Cup !”. Tapi dengan ringan dia bilang “ No, we give the opportunity to somebody else”,seakan-akan gelar juara dunia sepakbola itu bukan apa-apa bagi salah satu negara superpower di bidang sepakbola.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home