Home Sweet Home
Cerita iki judule bahasa Inggris, tapi isine bahasa Indonesia, dadi ora usah kuwatir, biasa-biasa wae lah !
Home Sweet Home
Pagi itu saya berjumpa dengannya di depan kampus. Mahasiswi fakultas kedokteran itu melambaikan tangannya pada saya, ketika saya hendak menyeberang jalan. Saya ada di sebelah timur City Road, yang memisahkan Camperdown Campus di sebelah barat, dengan Darlington Campus di sebelah timur. Kedua kompleks itu membentuk kampus utama di universitas tempat saya belajar sekarang ini. Terasa lega hati saya, maksudnya tentu saja, karena tepat waktu, bukan karena yang lain. Malah kami lebih cepat setengah jam dari waktu yang kemarin dijanjikan untuk bertemu.
Saya bawa kamera kesayangan saya dan saya minta dia memotret saya, di depan kampus. Saya ingin berfoto tepat di bawah sebuah papan yang bertuliskan nama almamater kami. Lumayan buat kenang-kenangan. Padahal, menurut ukuran universitas ini, program studi yang saya tempuh ini sangat longgar tingkat persaingan untuk bisa masuknya. Maklumlah, karena peminatnya sedikit sekali. Cara yang cerdik untuk menggapai gengsi, bukan begitu ?
Karena melihat saya membawa kamera dan kebetulan pakaian saya lebih rapih dari biasanya, dia agak heran. Dia bilang, ”Oh, that’s why you are very nice today, you wear a good dress, and you become very …….handsome !” Wah, rasanya hati saya melambung jauh ke awang-awang, mendengar pujian darinya. Dia begitu polos memuji saya. Saya senang, terasa hati menjadi gembira. Rasanya hati yang jenuh, hanya berteman sepi, bergelut dengan internet dan makalah beribu-ribu kata dengan tatabahasa yang harus tersusun rapi, jadi pulih seketika, entah kenapa.
Karena waktu masih lama tersisa, kami duduk usai berfoto, di taman sebelah kampus. Taman itu dinamakan Victoria Park, menurut nama seorang ratu Inggris di masa silam. Kami duduk berdua di bawah pohon karet hutan. Pohon karet hutan itu besar dan rindang, kami berdua ternaungi rindangnya pohon itu. Di bawah pohon itu, kami terhindar dari teriknya matahari. Kami jadi bisa nyaman bercakap tentang apa yang masing-masing kami rasakan selama tinggal dan kuliah di kota Sydney. Dia bercerita bahwa selama ini hampir setiap satu atau dua hari sekali, dia menelpon suaminya dan ibunya yang tinggal di negaranya. Negaranya termasuk kelompok negara yang dikucilkan dari pergaulan antar bangsa. Sedikit sekali teman senegaranya yang tinggal di Sydney. Saya bilang padanya, bahwa kalau ada kesulitan, jangan segan-segan menghubungi saya, karena saya kenal dengan banyak warga Indonesia yang bermukim di kota Sydney. Jumlah pemukim Indonesia yang ribuan orang itu, jelas lebih banyak dari teman senegaranya. Biarpun mungkin saya tidak bisa menolong, saya bilang begitu, mungkin saya punya teman sesama orang Indonesia yang bisa membantu. Apalagi saya kenal dengan para pengurus organisasi Indonesian Community Council of New South Wales. Itu organisasi yang menjadi representasi pemukim Indonesia di negara bagian New South Wales.
Dia sampaikan pendapatnya, tapi saya rasa dia menasehati saya juga, biarpun umurnya lebih muda dari saya. Tidaklah penting kita berbangga karena kenal atau dikenal banyak orang, katanya. Yang paling penting adalah kita berteman baik, biarpun jumlahnya hanya sedikit, tapi mereka baik dan kita pun baik pada mereka. Kita akan saling tolong menolong dengan sesama teman. Dia tahu bahwa kelompok mahasiswa program Ausaid dan ADB memang banyak didominasi mahasiswa Indonesia dan Vietnam, tapi dia yakin bahwa tidak semuanya saling akrab satu sama lain. Masing-masing membentuk kelompok yang saling akrab di antara mereka sendiri. Tidak mungkin setiap orang akan akrab dengan semua orang di luar kelompoknya.
Ketika waktu sudah beranjak ke pukul 10.30, segera kami tinggalkan taman tempat kami duduk itu. Kami lalu berjalan di seputaran daerah Chipendale. Saya diajak menemani dia mencari tempat kos. Dia bilang, kalau ada teman yang bersama melihat-lihat rumah, tentu ada yang bisa diminta pertimbangan. Baginya rumah kos adalah kebutuhan yang paling mendesak. Selama enam bulan tinggal di Sydney, dia tidak pernah mendapat tempat tinggal yang nyaman. Maksudnya dia selalu menempati rumah yang bermasalah. Atau pemilik rumahnya yang bermasalah. Tapi untungnya, teman dekatnya ini (siapa lagi kalau bukan yang satu ini …?), tidak pernah bermasalah baginya.
Setelah mendatangi dua rumah, akhirnya dia dapat juga sebuah kamar yang dia suka. Dia merasa cocok dengan kamar itu. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter persegi, lengkap dengan perabotnya. Kamar mandi dan dapurnya cukup bersih. Sambungan internet, fasilitas standar untuk setiap kamar kos mahasiswa di Australia, juga tersedia. Seperti biasanya mengontrak kamar atau rumah di Australia, penyewa harus membayar uang jaminan sebesar satu bulan biaya sewa, untuk berjaga-jaga kalau si penyewa merusak perabot atau isi kamar lainnya. Tapi biasanya jarang terjadi kejadian seperti itu. Si pemilik rumah bercerita bahwa satu-satunya kejadian seperti itu adalah ketika seorang mahasiswa merusak pintu kamar ketika bertengkar dengan girlfriendnya. Katanya, ketika bertengkar itu, si mahasiswa merusak pintu dengan jalan membanting kursi pada daun pintu kamar. Luar biasa !
Akhirnya teman saya segera menanda tangan kontrak dan membayar uang muka. Sambil mengisi daftar isian, pemilik rumahnya bertanya asal teman saya itu, “Where do you come from ?” Waktu dia jawab nama negaranya adalah Myanmar, si pemilik rumah kebingungan. “Where is it ?” katanya. Saya coba membantu, saya sebut nama lain negara itu, yaitu Burma (diucapkan BAR-MA). Dia masih bingung, tapi dia akhirnya ingat, lalu dia menyebut nama itu dengan ucapan yang kurang tepat yaitu “BER-MA”. Saya dan teman saya itu mengangguk, memang ucapan seperti itu yang saya dengar selama ini, sebelum saya berjumpa dengan teman ini.
Teman saya balik bertanya pada pemilik rumah, menanyakan asal negaranya. Dia jawab bahwa dia berasal dari Taiwan. Saya yang bertanya ”It should be Republic of China, I guess !”. Dia mengangguk, lalu berkata “Yes, but it is complicated !”. Karena memang cerita negara itu sudah cukup complicated, saya tidak menambahkan pertanyaan lagi, misalnya bertanya “Do you mean Republic of China, without people ?”, pasti akan menjadi pertanyaan yang lebih complicated, malah irritating.
Sewaktu pulang saya ngobrol lagi dengan teman saya. Saya tanyakan bahwa kalau suaminya juga seorang dokter, pastilah dia pertama kenal dengannya waktu kuliah dulu. Itu berdasarkan pengalaman teman-teman saya, jelas bukan pengalaman saya sendiri. “Yes, that’s right ! I knew him because we studied together in university”. Lalu dia tambahkan lagi:
“He’s my first love. And my only love !”
Kok sepertinya mirip satu adegan dalam sinetron Indonesia. Kedengarannya kalimat seperti itu akrab dan sering saya dengar, biarpun saya tidak suka menonton sinetron Indonesia. Tapi saya tidak lagi ingin bertanya-tanya, karena dia nanti pasti akan bertanya bagaimana ceritanya saya dulu pertama kali bertemu istri saya. Nanti saya akan kesulitan menjelaskan cerita yang paling berkesan dalam hidup saya itu kepadanya. Saya akan kesulitan untuk menjelaskan beberapa kejadian yang melatar belakangi cerita saya itu. Satu contoh misalnya, sulit untuk menterjemahkan istilah “goyang dombret” ke dalam bahasa Inggris, lalu menjelaskan latar belakang dan konteksnya. Kesemua itu harus disusun menjadi cerita yang bisa dia mengerti. Kalau cerita itu bisa dia pahami konteks dan latar belakangnya, dia pasti tertarik dan kembali tersenyum, seindah senyum yang selalu menghiasi wajahnya sejak tadi pagi berjumpa. Bahkan sejak saya pertama jumpa dengannya. Tapi kalau dia tidak paham, cerita itu bisa malah membingungkannya, seperti kalau selama ini saya cerita pada teman-teman di Pondok Cabe. Lebih parah lagi, kalau cerita itu nantinya sama sekali tidak dia mengerti, pastilah sirna senyum indah yang menghiasi wajahnya itu. Karena itu, segeralah saya tutup percakapan, karena hari sudah siang, acara mencari rumah sudah selesai, waktu shalat Jumat hampir tiba, dan kami akan segera berpisah. Dua hari lagi dia akan berangkat untuk liburan akhir tahun di Melbourne. Saat berpisah dan ketika dia ucapkan “See you Diki, bye !”, terlihat senyum manisnya tetap menghiasi wajahnya.
Teman-teman semuanya, semoga senyum, kebahagiaan dan sikap optimis selalu ada pada kita semua, seperti yang selalu ada pada teman saya itu. Biarpun selama bekerja di UT kita sering mengeluh karena kesejahteraan masih kurang, semoga kita tidak kehilangan sifat optimis di tahun 2007. Apalagi jadi malas masuk kantor, seperti sebagian kecil teman kita, yang biarpun sudah DOSEN SENIOR, tapi tetap malas. Dasar pemalas !
Sydney, 22 Desember 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home